Tulisan-tulisan para sejarawan dalam penyebaran
Islam di Indonesia dan negeri Timur lainnya

Tulisan-tulisan para sejarawan dalam penyebaran Islam di Indonesia dan negeri Timur lainnya.

Kami tulis berikut ini, sejarah singkat tentang pengaruh bangsa Arab ,khususnya kaum Alawiyin, penyebaran Islam di Nusantara dan negeri Timur lainnya.

Para pakar sejarah menjelaskan, penyebaran agama Islam di kepulauan Hindia Timur (Indonesia) terdiri dari  golongan pedagang Arab dan ada pula dari mereka khusus datang untuk menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk setempat.

Gustave Le Bon, dalam bukunya La Civilisation des Arabs, menceritakan tentang perjalanan bangsa Arab kedaerah-daerah lain, ia berkata bahwa bangsa Arab dahulu adalah kaum pelancong terkemuka. Mereka tidak gentar dengan jauhnya jarak yang akan mereka tempuh. Selanjutnya ia berkata, kita belum pernah melihat dalam sejarah ada satu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Kebudayaan Arab diterima, walaupun dalam beberapa waktu saja, oleh semua bangsa yang berhubungan dagang dengan mereka. Setelah bangsa Arab lenyap dari panggung sejarah, bangsa-bangsa yang menaklukkan bangsa Arab seperti bangsa Turki dan Mongol mengambil adat istiadat mereka dan menyebarkan pengaruh mereka di dunia. (Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, hal.31).

L.van Rijck Vorsel, dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu ‘Riwayat Kepulauan Hindia Timur’, menyebut bahwa orang-orang Arab sudah datang dipulau Sumatera 750 tahun lebih dulu sebelum orang-orang Belanda. Akan tetapi, kedatangan orang-orang Arab untuk menyebarkan agama Islam dikepulauan itu, baru terjadi dalam tahun 1292 M dan penyebaran agama tersebut dilakukan dikalangan kerajaan-kerajaan Pasai.

Pakar sejarah asing, seperti Rowland Son, Sturrock, dan Francis Dai mengatakan, semenjak abad ke 7 M, bahkan sebelumnya, orang-orang Arab telah bermukim di Hindia Barat, kemudian mereka keberbagai tempat. Namun, mereka lebih mengutamakan tempat tinggal di Malabar.

 

Di dalam Encyclopedie Van Nederlandsche Indie vol.II P.P. 5769, Doktor Snouck Hurgronje menyebut, pengaruh orang-orang Arab dalam penyebaran agama Islam lebih besar daripada (bangsa) yang lain. Pakar sejarah, Prof. Husain Jayadiningrat di dalam majalah ‘Bahasa dan Budaya’ menunjuk kepada Encyclopedie tersebut, dalam pembicaraannya mengenai Syarif Hidayatullah.

Snouck Hurgronje dalam Encyclopedie van Nederlandsche Indie vol.II XV P.P.567-569 mengatakan, sebagian besar penyebar  agama Islam datang dari negeri jauh. Mereka datang dari negeri Arab. Mereka, digelari Sayid karena mereka dari keturunan Al-Husain bin Ali, cucu Nabi Muhamad Saw. Orang-orang Persia dan India (Malabar dan Krumendal) mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di negeri ini (Hindia Belanda). Kendati demikian, tidak ada yang dapat mengingkari betapa besar pengaruh orang-orang Arab yang datang dari Makkah, khususnya dalam kehidupan keagamaan Islam.

Pengaruh mereka jauh lebih besar dari pengaruh Turki, atau India atau Bukhara. Pengaruh mereka itu, sangat terang dalam abad-abad ke 18 dan ke 19 M yaitu, pada masa-masa mulai berkobarnya semangat melawan kolonialisme, yakni ketika imprealisme Belanda berusaha memperkokoh kekuasaannya di Indonesia, dan imperialisme Inggris di Malaya. Dalam menghadapi imperialisme, tumbuh rasa keagamaan sangat kuat dalam berhubungan dengan orang-orang Arab.

 

R.O.Winstedt, misalnya, ia mengatakan, mereka (para penyebar agama Islam ke Timur) itu datang dari Gujarat. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ia menunjuk kepada orang-orang Arab yang menuju Kedah, di Semenanjung Melayu, dengan maksud berniaga. Bahkan, ia mengatakan juga, agama Islam tersebar dikawasan tersebut pada tahun 915 M.

 

Von Ronkel dan G.E.Marrison, keduanya berpendapat,  mereka (para penyebar agama Islam ke Timur) datang dari India Selatan, tetapi keduanya tidak dapat menentukan nama tempat dari mana aslinya mereka itu datang. Bahkan, Marrison mengatakan, peranan orang-orang yang datang dari Gujarat baru terjadi setelah agama Islam tersebar di Samudera, yakni Aceh. Kaum orientalis yang mengatakan demikian itu, tidak memperhatikan kenyataan bahwa kaum muslimin gujarat bermazhab Hanafi, sedangkan kaum muslimin dinegeri-negeri Timur tidak demikian (bermazhab Syafi’i).

Jones, di dalam bukunya Sufisme Merupakan Bagian Sejarah di Indonesia berpendapat, orang-orang Arab dan lainnya memulai kunjungan mereka secara teratur ke Indonesia sejak abad ke-8 M.

Diago De Couto,  pakar sejarah berkebangsaan Portugal dapat memastikan, bahwa Aceh pada zaman dahulu sudah mempunyai hubungan langsung dengan negeri-negeri Arab. 

Wilbers, mengatakan, para penyebar agama Islam datang dari negeri Arab.

Robertson mengatakan, para penyebar agama Islam datang dari Makkah dan dari daerah pantai Laut Merah.

Hendrik Kern mengatakan, para pedagang Arablah yang menyebarkan agama Islam. Di sana terdapat pedagang-pedagang Muslimin Arab, dan merekalah yang menyebarkan agama Islam. Pedagang-pedagang Muslimin, yang sebagian besar terdiri dari orang Arab menempati pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan pulau-pulau yang berdekatan. Mereka itulah yang menabur benih-benih agama Islam. Demikian juga, yang dikatakan oleh Thomas Arnold dan sejarawan sebelumnya ,Fransisco Geiter, bahwa orang-orang Arab bermukim didaerah selatan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat.

 

Van den Berg, seorang penulis berkebangsaan Belanda, ia menyebut bahwa pengaruh Islam terbesar dikalangan pribumi bersumber dari orang-orang Arab yang bergelar Sayid dan Syarif (yakni kaum Alawiyin). Berkat upaya dan kegiatan mereka itulah, agama Islam tersebar dikalangan raja-raja Hindu di Jawa dan dipulau-pulau lainnya. Meskipun ada orang-orang lainnya (selain kaum Alawiyin) yang berasal dari Hadramaut, mereka tidak mempunyai pengaruh Islami. Kenyataan besarnya pengaruh kaum Sayid dan kaum Syarif kembali  kepada martabat mereka sebagai keturunan seorang nabi dan rasul pembawa agama Islam, yakni Muhamad Saw.

Para sejarawan Cina, bangsa Arab sudah mendarat di pesisir pantai Sumatra sebelum lahirnya Islam. Dari hasil-hasil barang galian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, telah ditemukan tiga ribu tulisan pada batu dan logam yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian diukir dengan huruf Himyar, sebagian lainnya dalam bentuk syair Arab pada batu-batu nisan dengan mencantumkan tahun hijrahnya.

Ahli sejarah dari Hadramaut ,Sholah al-Bakri, dalam kitabnya Tarikh Hadramaut tahun 1936 mengatakan, tidak diragukan lagi bahwa hijrahnya orang Arab Hadramaut ke Jawa dan ke pulau-pulau sekitarnya adalah hijrah terbesar dalam sejarah mereka. Mereka, memasuki Timur jauh pada masa lautan penuh dengan bahaya. Lalu mereka turun di pulau-pulau yang subur itu. Di antara hasil tersebar hijrah ini adalah, lenyapnya agama Hindu/Budha dan tegaknya agama Islam.

Dalam surat kabar Samarat al-Funun tanggal 10 Sya’ban 1315H tertulis, “Syarif-syarif ini adalah ulama, dan mereka mengantarkan penduduk kawasan ini kepada agama Muhamad yang mulia. Sementara itu, agama ini sudah mantap, kecuali di kalangan beberapa suku kecil di pulau Bali, dan beberapa daerah pegunungan di Sumatera dan Borneo”.

Buku Sejarah Serawak di Perpustakaan ‘Rafles’ di Singapura menyebutkan, Sultan Barakat adalah keturunan Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anhuma. Diterangkan bahwa ia datang dari Tha’if dengan sebuah kapal perang yang sangat terkenal pada masa itu. Dijelaskan lebih jauh, orang itu bernama Barekat bin Thahir bin Ismail (terkenal dengan nama julukan ‘Al-Bashri’, bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhamad An-Naqib…dan seterusnya sampai kepada Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib k.w.–red.). Kaum Syarif di Makkah pada umumnya adalah, keturunan Al-Hasan r.a. (bin Ali bin Abi Thalib), sedangkan Barekat adalah keturunan Al-Husain r.a. Kaum Syarif di Makkah tidak melakukan penyebaran agama ke seberang lautan. Yang melakukan kegiatan demikian adalah kaum Sayid keturunan Al-Husain r.a. yang bermukim di Hadramaut/Yaman Selatan. Kegiatan itu, mereka lakukan terutama setelah terjadinya penyerbuan kaum Khawarij ,sekte Abadhiyah, terhadap Hadramaut. Kota tempat mereka bermukim adalah Bait-Jabir, termasuk pusat perniagaan di negeri itu. Mereka mengumpulkan bekal dari Marbath, kemudian diangkut dengan kafilah ke Yaman.

Dalam sejarah kaum muslimin Filipina, dan dalam sejarah Sulu disebutkan, mereka berasal dari keturunan Abdullah bin Alwi bin Muhamad (penguasa Marbath) bin Ali Khali’ Qasam...dan seterusnya sampai Imam Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra binti Muhamad Saw.

Nageeb M. Saleeby di dalam bukunya yang berjudul ‘Department of The Interior Ethnological Survey Publication Studies in More History Law Relegion’ (Manila Bureau of Republic Printing 1905) dalam menyebut sejarah Mindanau mengatakan antara lain: “Sebelum kedatangan Islam tidak terdapat data sejarah yang akurat, dan tidak terdapat pula kisah atau cerita-cerita yang di-ingat orang. Setelah kedatangan Islam, barulah tampak penyebaran ilmu (pengetahuan), peradaban, dan berbagai kegiatan. Undang-undang dasar yang baru ditetapkan bagi Negara, ketentuan-ketentuan hukum tertulis ditetapkan dan silsilah serta cabang-cabang keturunan dari orang-orang besar dibakukan   kemudian dengan hati-hati dan dijaga baik-baik oleh semua Sultan dan para bangsawan”.

Silsilah tersebut, dibakukan dalam sebuah catatan sejarah yang tertulis dengan bahasa Melayu Tinggi, terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut: “Alhamdulillah, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah menjadi saksi atas saya. Buku catatan ini, berisi silsilah Rasulallah Saw. (yaitu mereka) yang tiba di Mandanau. Sebagaimana diketahui, Rasulallah Saw. mempunyai seorang putri bernama Fathimah Az-Zahra. Putri ini, melahirkan dua orang syarif, Al-Hasan dan Al-Husain. Tersebut belakangan (Al-Husain) itulah yang beranak Syarif (Ali) Zainal Abidin...”dan seterusnya.

Keturunan dari Muhamad (Al-Baqir) putra Zainal Abidin (yakni mereka yang datang dari Johor) ialah Ahmad bin Abdullah bin Muhamad bin Ali bin Abdullah bin Alwi (Ammul Faqih) bin Muhamad (Shahib Marbath) bin Ali (Khali’ Qasam) bin Alwi bin Muhamad bin Alwi (orang yang pertama disebut Alawi dan darinya berasal semua kaum sayid Al-Alawiyin di Hadramaut) bin Abdullah bin Al-Muhajir bin Isa….dan seterusnya sampai kepada Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin.

Musyawarah kaum muslimin yang berlangsung di Sidogiri pada tanggal 30-april-1962, dihadiri oleh 165 orang ulama, Setelah mendengarkan, membahas, dan mencari bukti-bukti, memutuskan bahwa yang pertama menyebarkan Islam ke Indonesia adalah para syarif Alawiyin dari Hadramaut yang bermazhab Syafi’i. Naskah keputusan tersebut ditanda tangani oleh Ketua Musyawarah, Haji Ahmad Khalil Nawawi, dan wakil Sekretaris Abdulgani Ali.  

Adapun, mengenai orang-orang yang menyebarkan agama Islam di negeri-negeri Timur pada umumnya, dapat dituturkan sebagai berikut: Menurut beberapa buku sejarah Jawa dan menurut sementara kaum orientalis (ahli ketimuran) Barat, dinyatakan, orang-orang Arablah yang membawa benih-benih agama Islam kenegeri-negeri Timur. Akan tetapi, beberapa orang dari kaum orientalis zaman belakangan masih tetap mengikuti pendapat Snouck Hurgronje yang berpendapat, penyebar agama Islam datang dari India. Meskipun begitu, mereka sendiri berbeda pendapat mengenai tempat (di India) darimana (aslinya) para penyebar agama Islam itu datang.  

Kesimpulan seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia yang dihadiri oleh jumlah besar budayawan dan sejarawan Indonesia, di antaranya memutuskan bahwa Islam untuk pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah dan langsung dari Arab. Daerah pertama yang didatangi agama Islam adalah pesisir Sumatera (Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, hal.265).

Profesor Qaishar Makhul mengatakan, orang-orang yang datang dari Gujarat, dan yang datang dari India Selatan memainkan peranan bersama-sama. Akan tetapi, menonjol-nonjolkan peranan mereka dapat meniadakan peranan yang dimainkan oleh kaum Syarif, para ulama dan para pedagang Arab. Selain itu, dapat juga meniadakan peranan kaum muslimin Melayu dalam menyebarkan agama Islam. Ia mengatakan juga, tidaklah bertentangan dengan pemikiran kami sendiri jika kami mengatakan, sebagian besar penyebar agama Islam di Malaysia (Semenanjung Melayu) yang datang melalui India adalah orang-orang Arab atau orang-orang India peranakan Arab. Lebih lanjut, ia mengemukakan, tidaklah mustahil bahwa sebagian penduduk setempat (kaum pribumi) memeluk agama Islam berkat kegiatan individual yang dilakukan oleh kaum Syarif berkebangsaan Arab, dari keturunan Sayidina Ali (bin Abi Thalib) dan sejumlah kaum pedagang yang bertakwa.

 

Prof. Abdul Mun’im Al-Adwi di dalam majalah Al-Arab yang terbit di Karaci (Pakistan) mengatakan, “Kita mempunyai kenangan indah tentang saudara-saudara kita orang-orang Hadramaut dan Yaman, yang telah memasukkan agama Islam ke Indonesia, Malaysia, Thailand dan negeri-negeri dikawasan Timur Jauh lainnya. Mereka, telah meninggalkan berbagai pusaka yang baik dikerajaan Ashifiyah (Emirat Haidarabad), Malabar (India bagian Selatan) dan di Kitiyawara.  Lebih lanjut ia mengatakan, orang-orang Arablah yang pertama masuk ke Citagong, di Teluk Benggala. Kemudian, nama tersebut mereka gunakan untuk menyebut nama sungai Qani’. Oleh orang-orang Inggris nama ‘Citagong’ dirubah menjadi ‘Cinagong’ dan dalam bahasa Benggali disebut sungai Syanjim. Penduduk pulau Akyah dekat perbatasan Burma (Myanmar), hingga sekarang penduduknya masih berbicara dengan bahasa Arab di antara sesama mereka. Selain itu, mereka juga hingga sekarang masih tetap menjaga baik-baik nasab dan asal-usul, serta tradisi mereka. Mereka adalah, keturunan orang-orang Arab Hadramaut dan Yaman. Demikian juga, penduduk dipulau-pulau Maladef, hingga sekarang masih tetap mempertahankan ke-arab-an tradisi mereka yang asli.

Doktor Hamka mengatakan, kaum pendatang itu adalah orang-orang Arab atau asal keturunan Arab. Di antara mereka, ada yang datang dari Gujarat, dari Persia dan ada pula yang dari tanah Melayu. Pada bagian lain dari bukunya ‘Sejarah Ummat Islam’, Doktor Hamka menegaskan, agama Islam datang langsung (di Indonesia) dari negeri Arab. Orang-orang Indonesia berkeyakinan kuat, dan secara turun-temurun percaya bahwa mereka menerima agama Islam dari orang-orang Arab, ada yang sebagai guru yang mendakwahkan agama, dan ada pula orang-orang sayid dan syarif dari keturunan Rasulallah Saw. Lebih jauh Hamka mengemukakan, tidak sedikit orang-orang keturunan Sadah (kaum sayid) dan keturunan para sahabat Nabi yang datang dari Malabar. Mereka, mempunyai hubungan langsung dengan negeri-negeri Arab. Beliau mengetahui bahwa seorang guru tasawuf, Abu Mas’ud Abdullah bin Mas’ud Al-Jawi, mengajar sebagai guru dinegeri Arab. Di antara murid-muridnya ialah, seorang ulama Sufi (ahli tasawuf) bernama Abdullah Al-Yafi’i (1300-1376M), penulis buku ‘Riyadhur-Rayyahin fi Hikayatis-Shalihin’. Disebut juga, Syarif Ali Ad-Da’iyah nikah dengan puteri saudara Sultan Muhamad, Sultan Brunai. Setelah wafat, kesultanan diserahkan kepada saudaranya yang bernama Ahmad. Sebagaimana diketahui Syarif Ali adalah, Sultan ke tiga di Brunai. Beliau wafat pada permulaan abad ke 15, dan kesultanannya diserahkan kepada putranya yang bernama Sulaiman.

 

Doktor Hamka mengatakan juga, orang-orang keturunan Arab ,khususnya kaum Sayid, beroleh kedudukan dan martabat sangat terhormat. Keturunan mereka memegang tampuk kesultanan Aceh. Sultan yang pertama ialah, Sultan Badrul-Alam Asy-Syarif Hasyim Jamalullail (1699-1702M), kemudian Sultan Perkasa Alam Asy-Syarif Lamtsawi Asy-Syarif Ibrahim Abri. Hingga tahun 1946 M, beberapa orang perwira yang memimpin pasukan bersenjata di Aceh terdiri dari keturunan Arab. Sultan-sultan Perlis dari keluarga Jamalullail dan Sultan yang sekarang (yakni pada masa Hamka menulis bukunya) ialah, Tuanku Sayid Putra bin Almarhum Hasan Jamalullail. Sebagai pembuktian tentang ke-arab-an para penyebar agama Islam, beliau mengemukakan bahwa di antara mereka itu adalah, Syaikh Islam’il dan Sayid Abdulaziz, yang telah berhasil mengislamkan ‘Prameswara’. Sedangkan, Syaikh Abdullah Arif dan Malik Ibrahim sendiri adalah keturunan (Ali) Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib bermukim di Gresik. Demikian juga, Syarif Hidayatullah adalah keturunan Muhamad Rasulallah Saw. Kedatangan para sayid dari kaum Alawiyin dari Hadramaut terjadi pada masa hidupnya Sultan Iskandar Muda di Aceh. (semua uraian yang bersumber dari Hamka ini didasarkan buku beliau Sejarah Umat Islam jilid 4 hal.21,42,46,47 dan buku beliau Tuanku Rau Antara Fakta dan Khayal, hal. 332).

Dalam bukunya Seminar Sejarah (Islam) halaman 75 mengatakan, harus diakui bahwa kaum Sayid dan kaum Syarif (kaum Alawiyin) sudah sejak semula telah mengambil bagian dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.

Doktor Hamka di dalam bukunya Sejarah Umat Islam jilid 4 juga mengatakan, di dalam cerita-cerita rakyat yang tertulis, banyak disebut tokoh-tokoh penting yang berasal dari keturunan Rasulallah Saw.. Raja-raja dikepulauan Maluku, misalnya, disebut bahwa mereka itu berasal dari keturunan Jakfar As-Shadiq (cicit Rasulallah Saw). Disebut juga bahwa seorang sayid dari kaum Alawiyin datang dibeberapa daerah Timur Indonesia, untuk menyebarkan agama Islam. Banyak pula dibicarakan orang bahwa seorang sayid lainnya yang berada dikerajaan Kutai, datang dari Demak. Cerita-cerita seperti itu, meskipun tidak ditunjang oleh data tertulis atau tidak diperkuat dengan hujjah (argumentasi), bagaimanapun juga pasti mempunyai asal kenyataan yang sebenarnya, bukan hanya sekedar cerita yang menunjukkan betapa besar peranan orang-orang Arab dalam penyebaran agama Islam dinegeri Melayu. Peranan yang tidak dapat kita lupakan.

Di Pariaman ,menurut Doktor Hamka, dan Sumatera Barat terdapat banyak keturunan raja-raja yang mempunyai hubungan darah dengan kerajaan Pagaruyung. Mereka bergelar ‘Sultan’. Sedangkan mereka yang mempunyai hubungan darah dengan kesultanan di Aceh bergelar ‘Bagindo’. Keturunan para sayid bergelar ‘Sidi’. Saudara Syaaf, pemimpin redaksi surat kabar Abadi adalah, seorang dari keturunan mereka, raut mukanya masih tetap seperti orang Arab. Hamka menyebut juga, seorang sayid yang datang ke kerajaan Riau beroleh kedudukan terhormat. Ia bernama sayid Zainal Husaini Al-Qudsi (Engku Kuning) [tidak ada silsilahnya, yakni tidak tercatat di dalam daftar silsilah yang dihimpun oleh Rabithah Alawiyah, Jakarta]. Keturunannya, masih terdapat di Daik dan Lingga.

Mengenai hubungan antara pulau Jawa dan negeri-negeri Arab ,menurut sumber berita sejarah dari negeri Cina, Hsin Tang Shu, sudah terjadi semenjak abad ke 7 M. Hal itu, dibenarkan oleh para pengembara Arab sendiri. Tidak diragukan lagi, pada masa itu pelabuhan-pelabuhan dikawasan Asia Tenggara menjadi tujuan kaum pedagang Arab. Bahkan, disemua kota perniagaan terdapat pedagang-pedagang beragama Islam. Demikianlah, menurut penuturan Prof.Gabril Feyrand di dalam bukunya (edisi Arab) Ashlun-Nassh Al-Arabi. Apa yang dikatakan olehnya itu disebut juga oleh Prof.Paul Weathley dalam bukunya The Golden Khersonese. Dua naskah dari buku Feyrand itu masih tersimpan di dalam museum Inggris.

Prof. Abdulmun’im An-Namr dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam di India mengatakan, pada zaman dahulu orang-orang Arab pergi ke Teluk Benggala, kenegeri Melayu dan kepulauan Indonesia. Di antara mereka, terdapat sejumlah pedagang dan pelaut-pelaut Hadramaut dan lain-lain. Mereka datang ke negeri-negeri tersebut membawa agama mereka yang baru (Islam) dan bermuamalat dengan kaum pribumi. Sumber-sumber yang terkenal dari penduduk setempat menuturkan, bahwa agama Islam sampai ke Filipina dibawa oleh tujuh orang Arab bersaudara, semuanya berasal dari Semenanjung Arabia.

Di antara mereka yang paling terkenal bernama Abu Bakar. Ia datang sekitar tahun 1450M. Kemudian ia oleh penduduk setempat diberi gelar Paduka Maha Sari Maulana Sultan Syarif Al-Hasyimi, sebagaimana tertulis pada pusaranya. Kesultanannya, diwarisi secara turun-temurun. Salah satu di antara tujuh orang bersaudara tersebut di atas ialah, Sayid Ali Al-Faqih, penyebar agama islam dipulau Tawai-Tawai dan sekitarnya. Di Budi Datu, dipulau Julu (Jolo), terdapat pusara seorang dari mereka tertulis di atasnya tahun 710H. Mungkin, ia orang pertama yang datang kepulau Sulu untuk menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk tempat.

Prof. Husain Naimar, setelah tinggal di Indonesia selama kurun waktu tertentu, menulis sebuah buku mengenai hubungan India dengan Indonesia dan penyebaran agama Islam dikalangan penduduknya. Ia berpendapat, para penyebar agama Islam adalah kaum Sayid dari Alawiyin yang datang dari India. Ia pulang ke India untuk menerbitkan bukunya dalam bahasa Inggris.

Salim Harahap, berdasarkan penuturan Dauzi, menyebutkan bahwa agama Islam masuk ke Kalimantan melalui sekelompok orang Arab dari Palembang. Sebagaimana diketahui Palembang adalah tempat hijrah kaum Alawiyin dan tempat permukiman mereka. Sebagian besar kaum Alawiyin yang menuju ke Indonesia pada umumnya datang di Palembang. Kemudian, ada sebagian yang menetap di sana dan ada pula yang berpencar dipulau-pulau lainnya. Karena itu, di Palembang kita temukan keluarga-keluarga kaum Alawiyin lebih banyak daripada yang kita temukan dikawasan-kawasan lain.

 

Tabloid kebudayaan Al-‘ILM, yang terbit di Rabat (Marokko) pernah menyebut, agama Islam masuk ke Filipina pada pertengahan kedua abad ke 14 M, melalui sekelompok kaum Syarif Alawiyin yang datang kenegeri itu. Lebih lanjut dikatakan,  merekalah yang telah membawa panji dakwah islam kesana dan turut aktif dalam pembangunan negeri, turut mengembangkan lembaga-lembaga sosial, kebudayaan dan politik.

Buku Sejarah Alam Melayu menuturkan, di Hadramaut terdapat golongan kaum Sayid dan kaum Syarif. Merekalah, yang disebut ‘kaum Alawiyin’. Dari golongan itu, banyak bermunculan orang-orang besar, datang kepulau Jawa dan tanah Melayu. Mereka beroleh kedudukan tinggi di Perak. Sebagian dari mereka berkedudukan sebagai Sultan di Perlis dan di Siak. Pada masa-masa berikutnya jumlah orang Arab pendatang semakin banyak dan menjadi lebih banyak lagi, karena mereka melahirkan banyak keturunan, sehingga jumlah haji di tanah Melayu makin bertambah banyak juga.

Di Brunei, terdapat beberapa pusara kuno, antara lain sebuah pusara yang di atasnya tertulis dengan huruf-huruf Arab sebagai berikut: “Al-Alawi Al-Bulqiyah Ad-Dahriyah Sulthan Umar Ali Saifuddin”. Pada pusara yang lain tertulis: “Hijrah 836 Jumadil-Ula Dahri Ali Sulthan Syarif Ali Sulthan Brunai”. Pada pusara yang lain lagi tertulis: “Muhamad Alwi Raja Junjungan”.

Prof. Al-Qari bin Haji Saleh, setelah membuktikan betapa lama sudah hubungan orang-orang Arab dengan negeri-negeri Timur (berdasarkan buku-buku sejarah yang ditulis oleh berbagai pihak), menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang Arab Alawiyin dari Hadramaut kenegeri kita (yakni ditanah Melayu) membawa agama Islam, membuat sebagian dari mereka beroleh kedudukan tinggi ditengah masyarakat. Demikianlah, yang dikatakan olehnya di dalam bukunya, Pengkajian Sejarah Islam hal. 315.

Seorang penulis wanita bernama Nia Kurnia Solihat, dalam makalah-nya menyebut adanya pusara Fatimah binti Maimun yang wafat pada tanggal 7 Rajab 475 H (02-12-1083 M). Kenyataan itu, menunjukkan adanya masyarakat Islam pada zaman kerajaan Penjalu di Kediri. Oleh karena itu, tidak anehlah jika dalam buku-buku cerita rakyat banyak terdapat kata-kata Arab, seperti buku-buku yang disusun oleh Panuluh.

Penulis wanita ini menyebutkan, surat kabar Indonesia Berita Yuda tanggal 13-10-1980 memuat sebuah makalah yang ditulis oleh Suwarno, dibawah judul Raja Jayabaya. Dikatakan, Raja Jayabaya telah memeluk agama Islam. Pernyataan itu, didasarkan pada buku-buku cerita yang menyebut keislaman Jayabaya di tangan seorang Arab bernama Maulana Ali Syamsu Zain. Penulis ini mengatakan lebih lanjut, meski apa yang ditulis dalam buku-buku cerita itu belum dapat dipastikan kebenarannya, namun banyak sekali cerita-cerita di dalamnya yang benar-benar berasal dari sejarah yang menunjukkan, agama Islam sudah masuk ke Jawa pada masa kerajaan Penjalu. Tidaklah sulit bagi kita untuk sampai kepada kesimpulan, bahwa agama Islam sudah masuk ke Jawa pada abad ke 12 dan ke 13 M, yakni pada masa kerajaan Singosari dan kerajaan Majapahit.

Hal itu, diperkuat lagi oleh petunjuk-petunjuk sejarah yang lain. Yaitu adanya pusara-pusara di Taralaya, dekat Trawulan. Pada kuburan-kuburan itu, terdapat tulisan-tulisan Arab dan ayat-ayat Al-Quran. Sejarah pusara-pusara itu, telah diteliti dan dipelajari oleh Prof.L.C.Damais. Ternyata, terdapat juga petunjuk berupa penanggalan tahun Saka, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku pada masa itu. Selain itu, terdapat satu bukti yang tertulis dengan penanggalan hijriyah, yaitu tahun 874 H (1469 M). Yang dimakamkan di kuburan tersebut bernama Zainuddin. Tahun-tahun Saka yang tertulis di atas kuburan-kuburan di Taralaya, menurut penanggalan hijriyah adalah tahun 680 H atau tahun 1281 M, yakni pada zaman raja Kartanegara, salah seorang dari raja-raja Singosari.

Cho Fan Cho ,penulis kebangsaan Cina, mengatakan banyak pedagang asing yang menuju ke Penjalu. Mata uang emas dan perak sudah dipergunakan dipasar-pasar. Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian selanjutnya