Dalil-dalil golongan Pengingkar

Dalil-dalil golongan Pengingkar

Berikut, beberapa dalil kelompok muslimin yang berpegang teguh atas kekafiran keluarga Rasulallah Saw. dan jawabannya:

Hadis riwayat Imam Muslim dari Hammad, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah, ‘Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku’?, Rasulallah menjawab, ‘dia di neraka’.  Ketika orang tersebut hendak pergi, Rasulallah Saw. memanggilnya seraya bersabda, ‘sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka’

 

Imam Suyuthi menerangkan, Hammad perawi hadis ini diragukan oleh para ahli hadis dan hanya Imam Muslim yang meriwayatkannya. Padahal, ada riwayat lain yang lebih kuat dari hadis diatas, seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqash berikut ini;

“Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulallah Saw; ‘Dimana ayahku’? Rasulullah Saw. menjawab, ‘Dia di neraka’. A’robi bertanya kembali, ‘dimana Ayahmu’? Rasulallah Saw. menjawab; ‘Sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, berilah kabar gembira dengan neraka“. Hadis ini, tanpa menyebut ayah Nabi di neraka. Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadis lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad! Keterangan selengkapnya mengenai orang tua Nabi Saw. lihat kitab Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa karya Imam Suyuthi.

 

Golongan pengingkar mengajukan dalil lagi dengan hadis yang serupa diatas, ‘Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku’? Kemudian turun ayat yang berbunyi: ’Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhamad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka’.(Al-Baqarah [2]:119).

Ayat ini tidak tepat untuk dijadikan dalil. Ayat itu turun bukan untuk kedua orang tua Nabi Saw., karena ayat sebelum dan sesudahnya menceritakan ahli kitab (yahudi). Menurut para Mufasirin, surah Al-Baqarah termasuk surah Madaniyah (turun di Madinah), kecuali ayat 281 dari surah Al-Baqarah turun di Makkah pada peristiwa haji Wada’. Sedangkan ayat yang telah di kemukakansurah Al-Isra [19]:15, ‘Allah Swt. tidak akan mensiksa sebelum Dia mengutus seorang Rasul’, dan sabda Nabi Saw., ‘Aku (Muhamad Saw) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula’–jelas membuktikan bahwa orang tua dan kakek-nenek moyang Nabi Saw. orang-orang yang beriman. Begitu juga, orang yang hidup dan wafat pada masa fatrah (kekosongan dari seorang Nubuwah dan Risalah), dengan keadilan Allah Swt. mereka tidak akan disiksa atau masuk neraka.

 

Mereka berdalil lagi, Ibnu Katsir dalam kitab Mukhtashor li Ali as Shobuni, juz 2, hal.173, meriwayatkan, “Rasulallah Saw. suatu ketika berziarah ke kuburan dan menangis tersedu-sedu. Sayidina Umar bertanya tentang sebab tangis beliau. Beliau Saw. menjawab, ‘Aku menangis di kubur ibuku, Aminah. Aku memohon kepada Allah kiranya beliau diampuni, tetapi Allah tidak memperkenankan dan turun kepadaku firman-Nya (At-Taubah 113-114). Aku sedih dan kasihan kepada ibuku, dan itulah yang menjadikan aku menangis’ ”(HR.Ibnu Hibbah, Abi Alatim dan Al Hakim melalui Ibnu Mas’ud).

Hadis ini dinilai dhoif/lemah oleh pakar hadis antara lain Ad-Dzahabi, karena dalam renteten perawinya terdapat nama Ayub yang berstatus lemah (lihat Quraish Shihab, tafsir Al Misbah ,jilid 5, hal. 735). Pakar tafsir lainnya, Wahbah Zuhaili mengomentari hadis tersebut sebagai berikut; ’Itu jauh dari fakta, sebab orang tua Rasul hidup di masa fatrah, sehingga tidak tepat hadis tentang tangisan nabi Saw.dipusara ibunya sebagai sebab turunnya ayat [At-taubah 113] tersebut’. [lihat tafsir Al-Munir ,juz 6,hal 64].

 

Golongan Pengingkar berdalil lagi beberapa hadis yang senada diatas, namun redaksinya berbeda, umpama yang diriwayatkan ,Ahmad, Muslim, Abu Dawud dari jalur Abu Hurairah dan juga hadis, ‘Inna Abi wa abaka finnar’ (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka), riwayat imam Muslim.

 

Bila kita tetap bersikeras menerima kesahihan hadis-hadis tentang kekafiran orang tua Rasulallah Saw., ada beberapa hal yang membatalkannya, antara lain:

Hadis tersebut secara manthuq (tekstual) tidak menyebut kekafiran atau kemusyrikan ibu Nabi secara tegas dan jelas. Sehingga kurang tepat, dengan ketidak jelasan manthuq hadis tersebut, langsung menyatakan kemusyrikan orang tua Nabi Saw.

 

Hadis yang menyatakan bahwa Rasulallah menangis di pusara ibunya di kota Makkah, menurut Ibnu Sa’ad berita itu tidak benar. Sebab pusara ibu Nabi itu bukan di Makkah, tapi di Abwa [suatu wilayah yang masih masuk kota Madinah]. (Al Wafa’, Ibnu Al Jauzi, terjemahan hal.96; lihat juga Zaadul Ma’ad jilid I, hal. 36, dalil tempat wafatnya ibunda Nabi Saw).

 

Hadis-hadis tersebut, termasuk juga hadis ‘Inna Abi wa abaka finnar’ (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka) riwayat imam Muslim, dibatalkan (mansukh) oleh surah Al-Isra [19]:15, ’Dan Kami tidak mensiksa (suatu kaum)….sampai akhir ayat.’ (rujuklah kitab Masaalikul Hunafa Fii Hayaati Abawayil Musthofa, karya Imam As Suyuthi,hal.68), dan ayah bunda Nabi Saw. hidup sebelum ada risalah nubuwah, karena itu mereka termasuk ahlu fatrah yang terbebas dari syari’at Rasulallah Saw. Begitu juga, hadis-hadis tersebut bertentangan dengan nash hadis lain, yang telah di kemukakan, ‘Nabi lahir dari nasab yang suci’.

Al-Qadhi Abu Bakar Al A’rabi berkata, “Orang yang mengatakan orang tua Nabi Saw. dineraka, mereka di laknat oleh Allah Swt, sebagaimana FirmanNya, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka azab yang menghinakan.’ (QS.Al-Ahzab [33]:57). Berkata Al-Qadhi, Tidak ada hal yang lebih menyakiti Nabi Saw. ketika dikatakan, ayahnya atau orang tuanya berada di neraka, sabda Nabi Saw.,‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup, karena sebab orang yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa Fii Hayati Abawayil Musthofa, hal.75 lil Imam Suyuthi)

 

Kata Abi (Ayah ku) dalam hadis, ‘Inna Abi wa abaka finnar’ ,kalau sekiranya hadis ini sahih, tidak harus berarti ayah kandung, tapi bisa berarti paman. Jadi sabda Rasulallah Saw. ‘ayahku’ bisa berarti paman aku (Abu Lahab). Dalam al-Quran, sering kata-kata Abun, yang dimaksud adalah bukan ayah kandung. Misalnya, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah:133,”...Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka (anak-anak Ya’qub) menjawab; ’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” 

Ayah Ya’qub adalah Ishak, bukan Ibrahim atau Ismail. Namun, Allah menyebutkan Ibrahim dan Ismail sebagai Aabaaika (ayah-ayah engkau) dari Ya’qub, yakni kakek atau paman dari Ya’qub.

Begitu juga, nama ayah nabi Ibrahim bukan Azar, yang mati kafir.  Sebagian ulama menyatakan, dia bukan ayah kandung Nabi Ibrahim tetapi dia adalah bapak asuhnya dan juga pamannya. Sedangkan, untuk penyebutan orang tua kandung, biasanya Al-quran menggunakan kata Walid.,

Ibnu Katsir pun menyatakan, “Ibrahim adalah putra Tarakh. Ketika Tarakh berusia 75 tahun, Ibrahim dilahirkan.” (al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 1, hal. 139). Begitu pula At-Thabari dalam kitab tafsirnya, ketika meriwayatkan garis keturunan Nabi Ibrahim dalam kumpulan sejarahnya. Ia pun menyatakan, Azar bukan ayah kandung Nabi Ibrahim a.s. (Tarikh at-Thabari, jilid 2, hal. 119; Tafsir atThabari, Ibnu Jarir Thabari, jilid 7, ha1.158).       

 

Doa Nabi Ibrahim untuk kedua orang tuanya; “Robbanagh fir lii wa li wa lidayya wa lil mukminina yauma yaguumul hisab” (Ya Tuhan Kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan orang-orang yang beriman, pada hari ketika hari kebangkitan akan datang.” (QS. Ibrahim [14]:41). Ayat ini menunjukkan bahwa ayah kandung Ibrahim bukan seorang musyrik. 

 

Diantara para Ulama yang berpendapat bahwa orang tua Nabi Saw. bukan kafir atau musyrik antara lain; Hujjatul Islam Imam Syafi’i dan sebagian besar ulama mazhab Syafi’iyah; Al-hafidh Al Muhaddis Imam Qurtubi; Al-hafidh Imam As-Sakhawi; Al-hafidh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi mengarang sebuah kitab khusus tentang keselamatan ayah bunda Nabi Saw.; Al-hafidh Ibnu Syahin; Al-hafidh Imam Abubakar Al-Baghdadi; Al-hafidh Imam At-Thabari; Al-hafidh Imam Ad-Daruquthni dan lainnya. Wallahu’alam.

 

Dengan keterangan singkat diatas, membuktikan banyak para pakar Islam yang menyatakan keimanan orang tua, kakek Rasulallah Saw., mereka bukan orang-orang musyrik, penyembah berhala. Apa manfaatnya menyatakan mereka kafir, padahal terdapat juga para pakar Islam atas keimanan orang tua beliau Saw.? Hati-hati, jangan mudah mengkafirkan seseorang, yang riwayatnya masih banyak diperselisihkan. Karena itu, bisa menjadikan diri kita sendiri kafir karena menuduh orang beriman sebagai orang kafir?

Silahkan ikuti kajian berikutnya.