Nama para ulama pengeritik Syeikh Al-Albani

Nama para ulama pengeritik Al-Albani

Murid Abdul Aziz bin Baz ,Muhamad bin Saleh al-Utsaimin, (ulama  kelompok Wahabi) dalam kitabnya Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah (Cet. Riyadh: Dar al-Tsurayya, 2003). Dalam kitab itu, al-Utsaimin tampak sangat marah kepada Albani, “Ada seorang laki-laki dewasa ini (yang dimaksud Albani), yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali, mengatakan bahwa azan Jum'at yang pertama adalah bid‘ah, karena tidak dikenal pada masa Rasul, dan kita harus membatasi pada azan kedua saja. Kita katakan pada laki-laki tersebut, ‘sesungguhnya sunnahnya Utsman r.a., sunnah yang harus di ikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul Saw., dan tidak ditentang oleh seorang pun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih memiliki ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (Albani). Utsman ra. termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah Saw. untuk di ikuti”.

  • Kritik lain datang dari sarjana ahli hadis asal India, Habib al-Rahman al-A‘zami. Ia secara khusus menulis buku berjudul Al-Bani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Albani) dalam empat jilid. 
  • Sarjana Syria, bernama Muhamad Said Ramadan al-Buuti, rahimahullah. Kritiknya kepada Albani, ia sampaikan dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid‘atin Tuhaddidu al-Syari‘ah  al-Islamiyyah.
  • Demikian pula, dengan sarjana hadis asal Maroko, bernama Abdallah Ibnu Muhamad Ibnu al-Siddiq al-Ghumari.
  • Beberapa nama lain yang cukup memberikan perhatian serius kepada metode tashih hadis dan fatwa-fatwa Albani antara lain: Abdal-Aziz Ibnu Muhamad Ibnu al-Siddiq al-Ghumari, seorang sarjana hadis asal Maroko; Abdal-Fattah Abu Ghudda, ulama hadis asal Syiria; Muhamad Awama dan Mahmud Said Mamduh, dua sarjana hadis asal  Mesir; Ismail Ibnu Muhamad al-Ansar, sarjana hadis Arab Saudi, menuliskan kritik kepada Albani dalam sejumlah buku antara lain: Ta‘aqqubat ala “Silsilat al-Ahadis al-Dha‘ifa wa al-Mawdu‘a” li Al-Bâni (“Critique of Albani’s Book on Weak and Forged Hadis”), Tashhih Shalat al-Tarawikh ‘Isyrina Rak‘atan wa al-Râdd ‘ala Al-Bâni fi Tad‘ifih (“Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak‘as and the Refutation of Its Weakening by Albani”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dzahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd ‘ala Al-Bani fi Tahrimih (“The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to Albani’s Prohibition of it”).

   Dan masih banyak nama-nama lain yang memberikan perhatian khusus kepada derajat kepakaran Albani dalam ilmu hadis serta sejumlah fatwa Albani.

Kendati demikian, kaum Wahabi tetap berkeyakinan bahwa tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam penilaian hadis oleh Syaikh Albani. Itu semua lebih sebagai ralat, koreksi atau rujukan. Setelah itu, kaum Wahabi balik menyerang dan mengecam pribadi ulama yang mengkritik Albani sebagai orang bodoh, golongan zindik, golongan sesat, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya.

Syaikh Albani, sering menyalahkan ulama lainnya. Ia sering mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadis yaitu  Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak akan berhenti hanya pada rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa. Wallahua'lam. Silahkan baca uraian berikutnya.