Hadis Tsaqalain (dua bekal berat)

Hadis Tsaqalain (dua bekal/pusaka berat) dan hadis Safinah

Kita hanya sering mendengar hadis Rasulallah Saw. agar kita memegang dua bekal yaitu, Kitabullah wa sunnati, artinya (berpegang) Kitabullah dan Sunnah Rasulallah Saw. atau hadis lainnya yaitu, Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu. Tetapi, jarang sekali dikumandangkan hadis Nabi Saw. agar kita memegang dua bekal, ‘Kitabullah dan Itrah-ku (keturunanku) Ahlu baitku’. Padahal, hadis Kitabullah wa Sunnati menurut para ulama hadis, sanadnya masih diperselisihkan dan bukan termasuk hadis tsaqalain.

Syaikh Hasan Ali As-Saqqaf ,seorang ulama dari Jordania, pernah ditanya mengenai hadis Kitabullah wa sunnati. Ia menjawab dengan panjang lebar,

{“Sebenarnya sanad hadis yang tsabit dan sahih adalah, hadis yang berakhir dengan wa ahli baiti. Adapun, yang berakhir dengan kata wa sunnati itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanad-nya. Hadis yang sahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Zaid bin Arqam r.a., ‘Suatu hari Rasulallah Saw. pernah berdiri di hadapan kami seraya berkhutbah di suatu tempat (kebun) kosong di antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Lalu, menasihati dan mengingatkan (umatnya) dengan sabdanya, Amma ba’du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi) akan datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku kehadhrat-Nya), maka aku pun (pasti) mengabulkan- nya. Dan aku (akan) meninggalkan pada kalian dua pusaka.

Pertama, Kitabullah (Al-Quran), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka, ambillah kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh’.  Beliau Saw. memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Quran sebagai kitabullah dan mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian, beliau Saw. bersabda, ‘Dan (yang kedua) ahli baitku (keluargaku)’. Itulah lafaz atau redaksi dari Imam Muslim. Di antara perawi lainnya meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah, Al-Darimi dalam Sunan-nya (II:431-432) dengan isnad sahih, dan ada lagi perawi lainnya yang meriwayatkan seperti redaksi Imam Muslim itu.

Adapun, dalam riwayat Imam Tirmidzi terdapat kata-kata wa ithrati ahli-baiti (dan keturunanku, yaitu ahli baitku). Dalam Sunan Tirmidzi (V:663 no.3788) menyebutkan, Rasulallah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang  (erat-erat), pasti kalian tidak akan sesat sesudah aku (wafat). Salah satunya, lebih agung daripada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (yaitu) ahli-baitku. Kedua-duanya (dua pusaka) tidak akan berpisah sehingga kembali/ bertemu dengan aku di Haudh (telaga di surga). Perhatikan lah, (berhati-hatilah dan pikirkanlah) bagaimana kalian memperlakukan mereka sepeninggalku’”.

Hadis tsaqalain (dua peninggalan yang berat) banyak dikutip oleh para perawi hadis dan beragam kalimatnya, tapi maknanya sama. Berikut, kami kutip beberapa hadis tsaqalain, yang sebagian telah kami kemukakan:

               يَااَيُّهَا النَّاسُ اِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا     

                           كِتَابَ اللهِ وَعِطْرَتِي  أهْلَ بَيْتِي

“Wahai manusia, sungguh kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat: ‘Kitabullah dan Ithrati Ahlu baitku’”. Hadis ini, bisa kita rujuk dalam: [Sahih Tirmidzi jilid 5, hal.328, hadis ke 3874 cet. Darul Fikr Beirut, jilid 13 hal.199 cet.Maktabah Ash-Shawi, Mesir, jilid 2 hal.308 cet. Bulaq Mesir; Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal.182; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal.149 ia mengatakan hadis ini sahih; Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi jilid 6 hal.7; Ash-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami hal.184; Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hanbal hal.28; Tarikh Al-Khulafa oleh As-Suyuthi hal.109; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4 hal.113, cet.Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir.; Tafsir Al-Khazin jilid 1 hal.4, cet.Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, Mesir; Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i jilid 2 hal.12.]

Rasulallah Saw.bersabda:

                  إنَّي تَارِكٌ فِيْكُمْ خَلِيْفَتَيْنِ: كِتَابَاللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ الاَرْضِ وَعِتْرَتِي    

                                       أهْلَ بَيْتِي وَإنَّهُمَا  لَنْ  يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحِوْض 

“Kutinggalkan kepada kalian dua peninggalan, Kitabullah sebagai tali yang terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku Ahlul Baitku. Sesungguhnya, kedua-duanya itu tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Haudh (telaga di surga)”. [ (Imam Ahmad bin Hanbal dari hadis Zaid bin Tsabit dan Sahih Bukhari-Muslim. Yang pertama, pada hal.182 dan yang kedua pada akhir hal.189 jilid V. Dikeluarkan juga oleh Abu Syaibah, Abu Ya’la dan Ibnu Sa’ad; Kanzul Ummal jilid 1, hal. 47 hadis no.945). Hadis dengan makna serupa, dengan versi redaksi berbeda dijumpai juga dalam Ad-Durrul Mantsur oleh As-Suyuthi Asy-Sayfi’i jilid 2, hal.60; Yanabiul Mawaddah oleh Al-Qundusi Al-Hanafi hal.38 dan 183, cet.Istanbul, cet.Al-Haidariyah hal.42 dan 217; Majma’uz Zawaid oleh Al-Haitsmi jilid 9, hal.162; Abaqat Al-Anwar jilid 1, hal.16 cet.pertama Ishfahan; Al-jami As-Shaqhir oleh As-Suyuthi jilid 1, hal.353 cet. Mesir; Al-Fathul Kabir oleh An-Nabhani, jilid 1 hal. 451.]

Rasulallah Saw. bersabda,

                            إنَّي اُوْشِكُ اَنْ دْعَى فَاُجِيْبَ وَإنَّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعِتْرَتِي 

                             كِتَابُ  اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مِنَ السَّمَاءِ اِلَى الاَرْضِ وَعِتْرَتِي أهْلَ  بَيْتِي وَإنَّ اللَّطِيْفَ 

                           الْخَبِيْرَاَخْبَرَنِياَنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا  عَلَيَّ  الْحِوْضَفَانْظُرُوْا كَيْفَ تَخْلِفُوْنِي فِيْهِمَا 

"Bahwasanya aku merasa hampir dipanggil, dan aku akan memenuhi panggilan itu. Sesungguhnya, aku tinggalkan kepada kamu dua pusaka (dua bekal [tsaqalain]) yang berharga (berat), Kitabullah Azza wa jalla dan Ithrahku (keturunanku). Kitabullah, adalah tali yang terbentang dari langit ke bumi, dan Itrahku ialah, Ahlu baitku. Sesungguhnya, Yang Maha Halus dan Maha Mengetahui (Allah Swt.) memberitakan kepadaku, keduanya tidak akan terpisahkan, sehingga keduanya kembali kepadaku di Haudh, perhatikan bagaimana kalian mempertentangkan aku terhadap keduanya”. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 111 hal.17-18).

Hadis yang serupa di atas, bisa kita rujuk juga dalam: (Ash-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar, hal.148, cet. Al-Muhamadiyah, di sini disebutkan ‘Lam Yaftariqa’ yang benar ‘Lan Yaftariqa’ ,sebagaimana yang terdapat pada cet. pertama hal.89, cet. Al-Maimaniyah Mesir; As-Sirah An-Nabawiyyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir As-Sirah Al-Halabiyah jilid 3, hal.331 cet.Al-Bahiyah, Mesir; Al-Mu’jam Asy-Syaqir oleh Ath-Thabrani jilid 1, hal.131 cet.Dar An-Nashr, Mesir; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi jilid 1, hal.104, cet.Mathba’ah Az-Zahra; Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir jilid 1, hal.187, cet. As-Sunnah Al-Muhamadiyah.)

Rasulallah Saw.bersabda,

           إنَّي تَارِكٌفِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَاللهِ وَاَهْلَ  بَيْتِي وَإنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحِوْضَ  

“Kutinggalkan kepada kalian dua bekal (tsaqalain), ‘Kitabullah dan ahlu baitku’. Sesungguhnya, kedua-duanya itu tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di haudh”.(Al-Hakim dalam Al-Mustadrak jilid,111 hal.148. Dikatakan olehnya, hadis ini mempunyai kebenaran  isnad yang diakui oleh Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh dua orang Imam ini. Dikeluarkan juga oleh Ad-Dzhahabi dalam Talkhishul Mustadrak, dinyatakan kebenarannya oleh Bukhari dan Muslim).

Hadis Rasulallah Saw. dari Zaid bin Arqam r.a., “Pada suatu hari Rasulallah Saw. berdiri sedang menyampaikan khutbahnya di hadapan kami disuatu telaga air bernama Khom, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah, memberi peringatan dan nasihat, lalu eliau Saw. bersabda, ‘Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah seorang basyar (manusia) dan tidak lama lagi aku akan menyahut seruan tuhanku (wafat), maka aku tinggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat (tsqalain): Pertama Kitabullah Ta’ala yang di dalamnya mengandung petunjuk dan cahaya, ambillah kitab Allah itu dan berpeganglah padanya, dan Ahli Baitku’. ‘Aku peringatkan kamu terhadap Ahli Baitku’. (kalimat terakhir ini diulangi oleh beliau Saw. tiga kali).

Husain bertanya (pada Zaid ini), ‘Siapakah Ahli Bait baginda wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau adalah Ahli Baitnya?’ Zaid menjawab, ‘Sesungguhnya istri-istri Beliau Saw. bukanlah daripada Ahlil Baitnya, (yang tercantum dalam pidato beliau ini) akan tetapi, Ahli Bait Beliau Saw. adalah orang-orang yang diharamkan pada mereka menerima sedekah selepas kewafatan Beliau Saw.’. Ia bertanya lagi; ‘Siapakah mereka itu?’ Jawabnya: ‘Mereka itu adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Jakfar dan keluarga Al-Abbas [r.a.]’. Tanyanya lagi, ‘Apakah semua mereka itu diharamkan padanya sedekah?’ Jawabnya: ‘Ya’ ”. (HR. Muslim, Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi dan Nasa’i).                                                                                        

Adapun, hadis yang memuat kalimat ‘wa sunnati’ (dan sunnahku), Syaikh Saqqaf, tidak meragukan ke-maudhu’-annya, karena kelemahan sanadnya dan faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi kelemahannya. Berikut ini isnad dan matan hadis tersebut:

  • Imam Al-Hakim meriwayatkan hadis (Kitabullah wa sunnah Rasulallah) ini, dalam kitab Al-Mustadrak (I:93) dengan isnadnya dari jalan Ibnu Abi Uwais dari ayahnya, dari Tsaur bin Zaid Al-Daili, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang di antara isinya sebagai berikut, “Wahai sekalian manusia, sesungguh nya aku (Muhamad Saw.) telah meninggalkan pada kamu, apa yang jika kamu pegang teguh, pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya…..”.
  • Dalam sanad hadis itu, terdapat Ibnu Abi Uwais dan ayahnya. Al-Hafiz Al-Mizzi dalam Tahdzib Al-Kamal (III:127), mengenai biografi Ibnu Abi Uwais, mengutip perkataan orang yang mencelanya, “Berkata Muawiyah bin Saleh dari Yahya bin Muin, Abu Uwais dan putranya itu (keduanya) dhaif (lemah), dan dia itu suka mengacaukan (hafalan) hadis (Mukhallith) dan suka berbohong, dia tidak mengapa (dalam hadis)’”. Menurut Abu Hatim, “Dari segi kejujuran (mahalluhu as-shidq), Ibnu Abu Uwais terbukti lengah (mughaffa)”.  Imam Nasai menilai, “Dia dhaif/lemah, dan tidak tsiqah”. Menurut Abu Al-Qasim Al-Alkai, “Imam Nasa’i sangat jelek menilai  Ibnu Abi Uwais sampai kederajat matruk (ditinggalkan orang)”. Menurut komentar Abu Ahmad bin Adi, “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya ,Malik, beberapa hadis gharib, yang tidak diikuti oleh seorang pun  (dari periwayat lain, tidak ada mutaba’ah-nya)”.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam muqaddimah Fathul Bari 391 berkomentar, mengenai Ibnu Abi Uwais, “Atas dasar hadis tersebut, dia tidak dapat dipakai hujjah/dalil, selain yang terdapat dalam As-Sahih, oleh karenanya, (adanya) celaan dari Imam Nasai  dan lain-lainnya”.  Al-Hafizh Sayid Ahmad bin As-Shiddiq dalam Fath Al-Mulk Al-Ali hal.15 mengatakan, “Berkata Salamah bin Syabib, saya pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan, ‘Mungkin saya (Ismail bin Abi Uwais) membuat hadis (adha’u al-hadis) untuk penduduk Madinah, jika diantara mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu’ ”. Jadi, Ibnu Abi Uwais dituduh suka membuat hadis (maudhu’) dan Ibnu Muin menilainya sebagai pembohong. Dan hadisnya, yang mengandung kalimat ..wa sunnati tidak terdapat dalam salah satu dari Sahihain (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)!
  • Al-Hakim sendiri telah mengakui hadis tersebut dha’if, sehingga dia tidak mensahihkan. Dia hanya menarik (mencarikan) syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut, akan tetapi, tetap saja lemah (wahin) dan isnadnya jatuh (saqith), sehingga tampaklah betapa sangat lemahnya hadis tersebut.
  • Al-Hakim (I:93) berkata, “Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut, dari hadis Abu Hurairah r.a., kemudian diriwayatkan dengan sanadnya melalui Ad-Dzahabi, Tsana (telah meriwayatkan kepada kami), Saleh bin Musa At-Thalhi dari Abdul Aziz bin Rafi dari Abu Saleh dari Abu Hurairah r.a. secara marfu’ Rasulallah Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan pada kamu sekalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat setelah keduanya. Kitabullah dan Sunnahku. Keduanya, tidak akan berpisah sehingga keduanya kembali (bertemu) kepadaku di Haudh.’”

Menurut saya (syeikh Saqqaf), hadis ini juga maudhu’ (dibuat-buat). Di sini, yang dibicarakan atau yang dikomentari hanya satu orang yaitu Saleh bin Musa At-Thalhi. Berikut ini, penilaian para imam pakar hadis yang mencela Saleh bin Musa Ath-Thalhi:

Dalam Tahdzib Al-Kamal XIII: 96, ‘Berkata Yahya bin Muin, Laisa bi-syai’in (riwayat hadis tersebut tidak ada apa-apanya)’. Abu Hatim Ar-Razi berkata, ‘Dha’if Al-Hadis (Hadis itu lemah)’. Dia sangat mengingkari hadis dan banyak kemungkaran terhadap perawi yang tsiqah. Menurut penilaian Imam Nasai, hadisnya tidak perlu ditulis. Atau pada kesempatan lain Imam Nasai berkata: ‘Dia itu matruk al-hadis (hadisnya ditinggalkan)’. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Tahdzib At-Tahdzib IV:355 menyebutkan, “Ibnu Hibban berkata, Saleh bin Musa meriwayat- kan dari Tsiqat, apa yang tidak menyerupai hadis itsbat (yang kuat), (orang) yang mendengarkan  bersaksi, riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau makbulah (diterima), akan tetapi, tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata, ‘Dia itu matruk al-hadis sering meriwayatkan (hadis-hadis) munkar’ “.

Al-Hafizh dalam At-Taqrib juga menghukuminya sebagai rawi matruk (perawi yang harus ditinggalkan). (Tarjamah : 2891).

Demikian pula Ad-Dzahabi dalam Al-Kasyif : 2412 yang menyebutkan, dia wahin (lemah). Menurut Ad-Dzahabi dalam Al-Mizan II:302, hadis Saleh bin Musa tersebut, termasuk dari kemungkaran yang dilakukannya.

Al-Hafizh Ibnu Abdilbar, dalam At-Tamhid XXIV: 331 menyebutkan, sanad ketiga mengenai hadis dhaif tersebut, “Dan telah meriwayatkan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dari Ahmad bin Said, dari Muhamad bin Ibrahim Al-Daibali, dari Ali bin Zaid Al-Faraidhi, dari Al-Hanini dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf, dari ayahnya, dari kakeknya (mengenai hadis kitabullah wa sunnati).”

Terdapat dalam sanad hadis tersebut, Katsir bin Abdullah, Imam Syafi’i berkata, “Dia (Katsir bin Abdullah), salah satu punggung kebohongan”. Adapun,, menurut Abu Dawud, “Dia (Katsir bin Abdullah) adalah salah satu pembohong”. Ibnu Hibban berkata, “Dia (Katsir bin Abdullah) meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya suatu nuskhah (teks) yang maudhu’, yang tidak halal atau tidak pantes, dicantumkan dalam berbagai kitab, dan tidak perlu diriwayatkan, kecuali untuk ta’ajjub (aneh karena keberaniannya, dalam berbohong).

Imam Nasai dan Al-Daraquthni berkata, “Dia (Katsir bin Abdullah) matruk al-hadis (hadisnya ditinggalkan orang)”. Imam Ahmad berkata, “Dia itu pengingkar hadis, dia tidak (mempunyai peran) apa-apa”. Demikian pula, menurut penilaian Yahya bin Muin, “Dia (Katsir bin Abdullah) tidak (bukan) apa-apa (tidak berarti)”.

Imam Malik menyebutkan hadis tersebut dalam Al Muwatha’ (I:899,nr.3), tanpa menyebutkan sanad.  Akan tetapi, hal ini bukan suatu soal, karena mengenai kelemahannya hadis itu sangat jelas.

Menurut pendapat Mutanaqidh (penentang) [yang dimaksud, syeikh Al-Albani—pen.] dalam Dha’i-faitih IV:361, hadis sahih dan tsabit yang menyebutkan wa itrati ahli baiti (dan keturunanku, ahli baitku), sebagai syahid (saksi) atas (kebenaran dan kesahihan) hadis yang menyebut,  wa sunnati (dan sunnahku). Yang demikian itu, menurut Syeikh Saqqaf, termasuk layak untuk ditertawakan. Hanya Allah, yang memberi hidayah kepada kita semua. 

Selanjutnya Syeikh Saqqaf mengatakan, sabda Rasulallah Saw., itrati ahli baiti, adalah isteri-isterinya, keturunannya (dzurriyah) dan yang paling terkemuka, Siti Fathimah, Sayidina Ali semoga Allah memuliakannya di surga, Sayidina Hasan dan Sayidina Husain a.s., dan semoga mereka mendapat keridhaan-Nya.  

Selanjutnya, Syeikh Seggaf berkata: Adapun, hadis kedua: “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin…,” terdapat dalam Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud dan Sunan Ibnu Majah. Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya.

Dalam riwayat Tirmidzi, hadis ini berasal dari Bughyah bin Walid. Para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil tentang Bughyah bin Walid sebagai berikut:

  • Ibnu Jauzi berkata, “Sungguh kami ingat bahwa Bughyah telah meriwayatkan dari orang-orang yang majhul dan orang-orang lemah. Mungkin saja, dia tidak menyebutkan mereka dan tidak menyebutkan orang-orang yang meriwayatkan baginya.” (Al-Mawdhu'at,I:109).
  • Ibnu Hiban berkata,  “Tidak bisa berhujjah (berdalil) dengan Bughyah.” “Bughyah seorang penipu. Dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah, dan para sahabatnya tidak meluruskan perkataannya dan membuang orang-orang yang lemah dari mereka”. (Al-Mawdhu'at, I:151, 218).
  • Abu Ishaq al-Jaujazani berkata, "Semoga Allah merahmati Bughyah, dia tidak peduli jika dia menemukan khurafat pada orang tempat dia mengambil hadis”. (Khulashah Abagat al-Anwar, II: 350).

Adapun, dalam riwayat Abu Dawud, Walid bin Muslim meriwayatkan hadis dari Tsaur an-Nashibi. Ad-Dzahabi berkata, “Abu Mushir mengatakan Abu Walid seorang penipu  dan mungkin dia telah menyembunyikan cacat para pendusta” (Mizan al-I'tidal, IV: 347). Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Ayah saya ditanya tentangnya (tentang Walid ini), dia menjawab, ‘Dia seorang yang suka mengangkat-angkat’”. (Tahdzib at-Tahdzib, XI:145).

Dalam riwayat Ibnu Majah, pada sanad hadis terdapat Abdullah bin Ala. Ad-Dzahabi berkata tentangnya, “Ibnu Hazm berkata, 'Yahya dan yang lainnya telah mendaifkannya/ melemahkannya.’” (Mizan al-I'tidal, jld. 2, hal.343). Dia, telah meriwayatkan hadis dari Yahya, dan Yahya adalah seorang yang majhul dalam pandangan Ibnu Qaththan (Tahdzib at-Tahdzib, jilid.1, hal.280). Hadis ini, juga diriwayatkan dari Tsaur—seorang nashibi—Abdul Malik bin Shabbah. Di dalam kitab Mizan al-I'tidal disebutkan, "Dia dituduh mencuri hadis." (Tahdzib at-Tahdzib, jilid. 2, hal. 656).

Oleh karena itu, para ahli hadis sepakat, (dua) hadis dengan kalimat, ‘berpegang teguh sunnahku’ dan ‘sunnah khulafa Rasyidin’, merupakan hadis dhaif. Hadis ini, tidak bisa dijadikan dalil/hujjah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa hadis  “Kamu harus berpegang teguh kepada Kitabullah wa Itrati (Kitab Allah dan Ahlul Bait)” adalah hadis sahih dan tsabit (kokoh). Ia, terdapat dalam Sahih Muslim dan kitab hadis sahih lainnya. Tidak kurang dari 23 sahabat yang meriwayatkan hadis ini, antara lain: 1. Zaid bin Arqam. 2. Abu Said al-Khudri. 3. Jabir bin Abdullah. 4. Hudzaifah bin Usaid. 5. Khuzaimah bin Tsabit. 6. Zaid bin Tsabit. 7. Suhail bin Sa'ad. 8. Dhumair bin al-Asadi, 9. Amir bin Abi Laila (al-Ghifari). 10. Abdurrahman bin Auf. 11. Abdullah bin Abbas. 12. Abdullah bin Umar. 13. Uday bin Hatim. 14. Uqbah bin Amir. 15. Ali bin Abi Thalib. 16. Abu Dzar al-Ghifari. 17. Abu Rafi'. 18. Abu Syarih al-Khazai. 19. Abu Qamah al-Anshari. 20. Abu Hurairah. 21. Abu Hatsim bin Taihan. 22. Ummu Salamah. 23. Ummu Hani binti Abi Thalib.  

Dari kalangan Tabi‘in yang meriwayatkan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada Kitabullah wa Itrati  (Kitab Allah dan Ahlul Bait)”, antara lain: 1.Abu Thufail Amir bin Watsilah. 2. Athiyyah bin Said al-Ufi. 3. Huns bin Mu'tamar. 4. Harits al-Hamadani. 5. Hubaib bin Abi Tsabit. 6. Ali bin Rabiah. 7. Qashim bin Hisan. 8. Hushain bin Sabrah. 9. 'Amr bin Muslim. 10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih. 11. Yahya bin Ju'dah. 12. Ashbagh bin Nabatah. 13. Abdullah bin Abirafi. 14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab. 15. Abdurrahman bin Abi Said. 16. Umar bin Ali bin Abi Thalib. 17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib. 18. Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. 19. Ali Zainal Abidin bin Husain.

Dari penjelasan tadi bisa disimpulkan, hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada Kitabullah wa Sunnati (Kitab Allah dan Sunnahku)” dan hadis yang memuat  kalimat,  “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin…”, bukan termasuk hadis tsaqalain. Dari penjelasan tadi, Syeikh Saqqaf menganjurkan pula kepada para khatib, imam dan muballigh agar tidak segan-segan untuk mengungkapkan wasiat Rasulallah Saw. dalam hadis sahih ,'Kitabullah wa ‘Itrati ahli baiti atau wa ahli baiti’, tersebut.”} Wallahua’lam.

 

Hadis Safinah (perahu)

Selain hadis-hadis di atas, ada juga riwayat mengenai kemuliaan ahlul bait, yang dikenal dengan hadis safinah  (perahu). Rasulallah Saw. bersabda;

                                  اَلاَ إِنَّ مَثَلَ أَهْلَ بَيْتِي فِيْكُمْ كَمَثَلِ                    

                           سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجًا, وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرَقَ

“Ingatlah, sesungguhnya perumpamaan ahlu baitku bagi kalian seperti bahtera Nuh, siapa yang menaikinya selamat dan siapa yang tertinggal akan tenggelam.” Hadis ini, bisa kita temukan di dalam: [Al-Mustaddrak Al-Hakim jilid 3, hal.151; Nizham Durar As-Samthin oleh Az-Zarnadi al-Hanafi hal.235; As-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar hal.184 dan 234, cet. Al-Muhamadiyah, Mesir, hal. 111 dan 140 cet. Al-Maimaniyah, Mesir; Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 30 dan 370 cet.Al-Haidariyah, hal. 27 dan 308 cet.Istanbul; Tarikh al-Khulafa’ oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i;  Is’afur Raghibin oleh As-Shabban Asy Syafi’i hal.109 cet.As-Sa’idiyah, hal.103 cet.Al-Usmaniyah; Faraid As-Samthin jilid 2 hal. 246 hadis ke 519].

Sabda beliau Saw:

“Sungguh perumpamaan Ahlu Baitku bagi kalian, seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya selamat, dan siapa yang tertinggal akan tenggelam. Dan, perumpamaan Ahlu-Baitku bagi kalian seperti pintu Hith-thah Bani Israil, siapa yang memasukinya ia akan diampuni”.

Hadis ini, bisa kita jumpai  dalam: [Al-Mu’jam As-Shaqir oleh Ath Thabrani jilid 2, hal.22; Kifayah Ath-Thalib oleh Al-Kanji Asy-Syafi’i hal.378, cet.Al-Haidariyah, hal. 234, cet. Al-Ghira; Majma’uz Zawaid oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’i jilid 9, hal.168; Ihyaul Mayat oleh As-Suyuthi (catatan pinggir); Al-Ittihaf oleh Syibrawi hal.113; As-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar, hal.91 cet.Al-Maimaniyah, hal.150 cet. Al-Muhamadiyah Mesir; Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.28/298, cet. Istanbul, hal.30 dan 358, cet. Al-Haidariyah].

Makna perumpamaan Ahlul Bait sebagai pintu pengampunan, Allah Swt. telah menjadikan pintu itu sebagai perwujudan sikap merendahkan diri terhadap keagungan-Nya. Sikap seperti ini, akan menyebabkan datangnya maghfirah atau ampunan-Nya. Demikian pula, bila umat ini dengan segala keikhlasan, mau mengikuti petunjuk penerus Nabi Saw. yaitu para Imam dan Ulama dari kalangan keturunan Rasulallah Saw. merupakan perwujudan sikap patuh serta tunduk pada kehendak Allah Swt.

Sabda Rasulallah yang lain: 

“Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni bumi dari (bahaya) tenggelam (di dasar laut), dan ahlubaitku adalah keselamatan bagi umatku dari perselisihan (masalah agama). Apabila, ada kabilah Arab yang membelakangi ahlubaitku, mereka akan berselisih, kemudian akan menjadi kelompok iblis”. (HR.Al-Hakim dan dibenarkan oleh Bukhari dan Muslim).

Hadis ini, bisa kita rujuk didalam; [As-Shawa’iqul Muhriqah oleh Ibnu Hajar hal.91 dan 140 cet. Al-Maimaniyah, hal.150 dan 234 cet. Al-Muhamadiyah; Muntakhab Kanzul Ummal (catatan pinggir), Musnad Ahmad jilid 5 hal.93; Jawahirul Bihar oleh An-Nabhani jilid 1, hal. 361 cet. Al-Halabi Mesir dan lain-lainnya].Wallahua'lam

 

Silahkan baca uraian selanjutnya