Bid‘ah yang Diamalkan Sahabat Nabi Saw.

Bid‘ah yang Diamalkan Sahabat Nabi Saw.

Marilah kita sekarang memperhatikan amalan yang dilakukan para sahabat Nabi Saw. atas prakarsa mereka sendiri. Amalan yang bukan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya. Lalu, bagaimana Rasulallah Saw. menanggapi hal itu:

  • Hadis dari Abu Hurairah: “Rasulallah Saw. bertanya pada Bilal r.a. seusai shalat subuh, ‘Hai Bilal, katakanlah padaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau perbuat, sebab aku mendengar suara terompahmu di dalam surga’? Bilal menjawab, Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu suci tiap waktu (yakni selalu dalam keadaan berwudu) siang-malam sebagaimana aku menunaikan shalat” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad bin Hanbal).
  • Hadis yang diketengahkan oleh Tirmidzi, dan disebutnya sebagai hadis hasan dan sahih, Al-Hakim dan Ad-Dzahabi mengatakan sebagai hadis sahih, disebutkan; Rasulallah Saw. meridhai prakarsa Bilal yang tidak pernah meninggalkan shalat dua rakaat setelah azan, dan pada tiap saat wudunya batal, Bilal segera mengambil air wudu dan shalat dua rakaat.
  • Hadis dari Khabab dalam Sahih Bukhari mengenai perbuatan Khabab shalat dua rakaat sebagai pernyataan sabar (bela sungkawa) di saat menghadapi seorang Muslim yang wafat terbunuh. (Fathul Bari jilid 8:313). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dari hadis tersebut dapat diperoleh pengertian, bahwa ijtihad menetapkan waktu ibadah diperbolehkan. Apa yang dikatakan oleh Bilal, kepada Rasulallah Saw. adalah hasil istinbath (ijtihad)-nya sendiri dan ternyata dibenarkan oleh Beliau Saw.” (Fathul Bari jilid 111/ 276). Demikian juga, dengan kasus Khabab. Rasulallah Saw. tidak memerintahkan hal itu, tidak pula melakukannya, dan Beliau Saw. tidak melarang, bahkan, membenarkan prakarsa dua orang sahabat itu.
  • Imam Bukhari dalam Sahihnya II:284 meriwayatkan hadis dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi: “Pada suatu hari, aku shalat di belakang Rasulallah Saw. Ketika berdiri (i’tidal) sesudah ruku’, Beliau Saw. mengucapkan ‘sami‘allahu liman hamidah Salah seorang yang makmum menyusul ucapan beliau itu dengan berdoa: ‘Rabbana lakal hamdu hamdan katsiran thayiban mubarakan fihi’ (Ya Tuhan kami, puji syukur sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya atas limpahan keberkahan-Mu). Setelah shalat Rasulallah Saw. bertanya: ‘Siapa tadi yang berdoa?’ Orang yang bersangkutan menjawab: ‘Aku, ya Rasul Allah.’ Rasulallah Saw. bersabda: ‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat berebut ingin mencatat doa itu lebih dulu’”. Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari II:287) mengatakan, “Hadis diatas dijadikan dalil untuk membolehkan membaca suatu zikir dalam shalat yang tidak diberi contoh oleh Nabi Saw. (ghair ma'tsur). Jika ternyata zikir tersebut tidak bertolak belakang atau bertentangan dengan zikir yang ma'tsur (dicontohkan langsung oleh Nabi Muhamad Saw. Disamping itu, hadis itu mengisyaratkan bolehnya mengeras- kan suara bagi makmum selama tidak mengganggu orang yang ada di dekatnya”.
  • Imam Muslim (Sahih Muslim,1: 419) dari Anas bin Malik r.a. juga meriwayatkan hadis serupa: “Seorang dengan terengah engah (Hafazahu Al-Nafs) masuk kedalam barisan (shaf) shalat. Kemudian dia mengatakan (dalam shalatnya) al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi (segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang banyak, bagus dan penuh berkah). Setelah Rasulallah Saw. selesai dari shalatnya, beliau bersabda: Siapakah di antaramu yang mengatakan beberapa kata (kalimat) (tadi)’? Orang-orang diam. Lalu Beliau Saw. bertanya lagi: ‘Siapakah di antaramu yang mengatakannya? Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang percuma’. Orang yang datang tadi berkata: ‘Aku datang sambil terengah-engah (kelelahan), lalu, aku mengatakannya’. Maka Rasulallah Saw. bersabda: ‘Sungguh aku melihat dua belas malaikat memburunya dengan cepat, siapakah di antara mereka (para malaikat) yang mengangkat  nya (amalannya ke Hadhirat Allah)’”
  • Hadis dari Ibnu Umar: “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi Saw. ada seorang lelaki yang hadir mengucapkan ‘Allahu akbaru kabiran wal-hamdu lillahi katsiran wa subhanallahi bukratan wa ashila’. Setelah selesai shalatnya, Rasulallah Saw. bertanya; ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?’ Jawab seseorang dari kaum, ‘Wahai Rasulallah, akulah yang mengucapkan kalimat kalimat tadi.’ Sabda Beliau Saw.: ‘Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya'.’ Kata Ibnu Umar: ‘Sejak aku mendengar ucapan itu dari Nabi Saw. maka aku tidak pernah meninggalkan untuk mengucapkan kalimat-kalimat tadi.’” (HR. Muslim dan Tirmidzi). As-Shan’ani Abdurrazaq juga mengutipnya dalam Al-Mushannaf.
  • Dalam Kitabut-Tauhid dan Kitabus Shalah Al-Bukhari memaparkan dua buah hadis dari Aisyah r.a. dan dari Anas bin Malik, Seorang imam, tiap shalat berjamaah selalu membaca surah Al-Ikhlas di samping surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setiba di Madinah, mereka menemui Rasulallah Saw., seorang di antaranya menceriterakan hal tersebut pada beliau. Setelah ditanya, imam tersebut menjawab, ‘Karena surah Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, aku suka sekali membacanya.’ Rasulallah bersabda, ‘Sampaikan kepadanya,Allah menyukainya.’ Atau sabda beliau Saw., ‘Kecintaanmu kepada surah itu, akan memasukkan dirimu ke dalam surga.’” Mengenai makna hadis ini, Imam Al-Hafizh dalam kitabnya Al-Fath, mengatakan, “Orang itu berbuat melebihi kebiasaan yang telah ditentukan karena terdorong oleh kecintaannya kepada surah tersebut. Namun, Rasulallah Saw. menggembirakan orang itu dengan pernyataan bahwa ia akan masuk surga. Hal ini menunjukkan bahwa beliau Saw. meridhainya.” 
  • Al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Said Al-Khudri r.a. tentang Fadha’il (keutamaan) surah Al-Ikhlas, ”Ia mendengar seorang mengulang-ulang bacaan Qul huwallahu ahad…. Keesokan harinya, ia (Sa’id Al-Khudri) memberitahukan hal itu kepada Rasulallah Saw., dan orang yang dilaporkan itu masih terus mengulang-ulang bacaannya. Menanggapi laporan itu, Rasul Saw.berkata, ‘Demi Allah, yang nyawaku berada ditanganNya, itu sama dengan membaca sepertiga Qur’an’”. Imam Al-Hafidh dalam Al-Fathul-Bari mengatakan, ‘orang yang disebut dalam hadis itu ialah Qatadah bin Nu’man. Hadis tersebut, diriwayatkan oleh Ahmad bin Tharif dari Abu Said, yang mengatakan, ‘sepanjang malam Qatadah bin Nu’man terus-menerus hanya membaca Qul huwallahu ahad....’. Hadis yang serupa, diriwayatkan juga oleh Malik bin Anas, Abu Sa’id mengatakan, ‘Tetanggaku selalu bersembahyang di malam hari, dan terus-menerus membaca Qul huwallahu ahad’.
  • Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Said al-Khudri tentang ruqyah (teknik pengobatan dengan jalan berdoa kepada Allah Swt. atau dengan jalan bertabaruk pada ayat-ayat Al-Quran): “Sekelompok sahabat Nabi Saw. sempat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu mereka dalam perjalanan. Karena sangat lapar mereka minta pada orang-orang suku tersebut agar bersedia untuk menjamu mereka. Tapi permintaan ini ditolak. Pada saat itu, kepala suku arab badui itu disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Karena tidak ada orang dari suku tersebut yang bisa mengobatinya, akhirnya mereka mendekati sahabat Nabi seraya berkata: ‘Siapa di antara kalian yang bisa mengobati kepala suku kami yang disengat binatang berbisa?’ Salah seorang sahabat sanggup menyembuh- kannya, tetapi dengan syarat suku badui mau memberikan makanan pada mereka. Hal ini disetujui oleh suku badui tersebut. Maka, sahabat Nabi itu segera mendatangi kepala suku lalu membacakannya surah al-Fatihah. Seketika itu juga dia sembuh dan langsung bisa berjalan. Maka segeralah diberikan pada para sahabat beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Para sahabat belum berani membagi kambing itu sebelum menghadap Rasulallah Saw.. Setibanya di hadapan Rasulallah Saw., mereka menceriterakan apa yang telah mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulallah Saw. membenarkan mereka dan ikut memakan sebagian dari daging kambing tersebut “.  (HR Bukhari)

Masih banyak hadis yang tidak tercantum disini, yang meriwayatkan amal perbuatan para sahabat atas dasar prakarsa dan ijtihadnya sendiri, yang tidak dijalani serta dianjurkan oleh Rasulallah Saw.. Semuanya itu diridhai oleh Rasulallah Saw. dan beliau memberi kabar gembira pada mereka. Bahkan, kalau kita teliti, riwayat-riwayat diatas banyak yang berkaitan dengan masalah shalat, suatu ibadah pokok dan terpenting dalam Islam. Sebagaimana Rasulallah Saw.  bersabda:    

                  (صَلُّوْا كَمَا رَأيْتُمُوْنِي أصَلِّي  (رواه البخاري                  

‘Hendaklah kamu shalat, sebagaimana kalian melihat aku shalat’.  (HR Bukhari).

Secara leksikon, bid‘ah adalah sesat karena berada di luar perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya. Akan tetapi, banyak kenyataan membuktikan, bahwa Nabi  Saw. membenarkan dan meridhai banyak prakarsa dari para sahabatnya.

Kesimpulam dari semua riwayat itu, semua bentuk amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulallah Saw. atau setelah zaman Nabi Saw. selama tidak melanggar syariat serta mempunyai tujuan atau niat mendekatkan diri untuk mendapatkan ridha Allah Swt., itu adalah bagian dari agama dan dapat diterima.Wallahua'lam

Silahkan baca uraian berikutnya.