Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya

Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya

Bagaimana tercelanya orang yang berani membid‘ahkan penyebutan sayidina atau maulana di depan nama beliau Saw.? Mungkin kelompok ini, terkelabui oleh pengarang hadis palsu yang berbunyi: “La tusayiduni fis-shalah” artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhamad Saw) sayid di dalam shalat”. Tampaknya pengarang hadis palsu yang mengatasnamakan Rasulallah Saw. untuk mempertahankan pendiriannya itu lupa atau memang tidak mengerti bahwa di dalam bahasa Arab tidak pernah terdapat kata kerja tusayidu. Tidak ada kemungkinan sama sekali Rasulallah Saw. mengucapkan kata-kata dengan bahasa Arab gadungan seperti ini.

Dalam kitab Al-Hawi, Jalaluddin As-Suyuthi dengan tegas menyatakan bahwa “Tidak pernah ada hadis tusayidu, itu bathil!”; Imam Al-Hafidz As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidul-Al-Hasanah menegaskan, “Hadis itu tidak karuan sumbernya!“; Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih mazhab Sayfi’i dan mazhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan, “Hadis itu sama sekali tidak benar”.                                                                    

Selain hadis palsu di atas tersebut, masih ada hadis palsu lainnya yang semakna: La tu’adzhzhimuni fil-masjid (Jangan mengagungkan aku [Nabi Muhamad Saw.] di masjid”. Imam As-Sakhawi dalam kitabnya Kanzul-Ifah menyatakan, hadis ini merupakan “Kebohongan yang diada-adakan”. Dalam kitab Kasyful Khufa Imam Al-Hafidz Al-Ajluni dengan tegas mengatakan: “Itu bathil !”.

Sebagaimana telah kami kemukakan, ketika Sa‘ad bin Mu’adz r.a datang dengan berkendaraan keledai, Rasulallah Saw. berkata kepada orang-orang yang hadir: “Qumu ila sayidikum au ila khairikum” artinya: “Berdirilah menghormati sayid (pemimpin) kalian, atau orang terbaik di antara kalian”. 

Sekalipun, misalnya benar Rasulallah Saw. melarang para sahabatnya berdiri menghormati beliau Saw, tetapi beliau sendiri bahkan memerintahkan mereka supaya berdiri menghormati Sa’ad bin Mu’adz, apakah artinya? Itulah, tatakrama Islam!

Para sahabat Nabi juga menggunakan kata sayid untuk saling menyebut nama masing-masing. Ini dilakukan sebagai tanda saling hormat-menghormati dan harga-menghargai.

Begitu pula, misalnya ada orang yang berkata, ‘jangan mengagungkan aku  di masjid kepada para hadirin yang didalam masjid, maka ucapannya itu merupakan tawadhu (rendah hati)’. Akan tetapi, kalau dikatakan bahwa perkataan tersebut diucapkan oleh Rasulallah Saw. atau sebagai hadis beliau Saw., jelas hal itu suatu pemalsuan yang terlampau berani!! Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian berikutnya.