Alasan orang yang membantah dan jawabannya

Alasan orang yang membantah dan jawabannya

Sebagian ulama yang mengingkari hadis qunut shubuh antara lain Ibnu Taimiyah. Ia mengatakan, sanad hadis qunut lemah, karena ada seorang rawi yang bernama Abu Jakfar Ar-Razi, yang nama aslinya Isa bin Abi Isa. Padahal, menurut pakar hadis lain- nya, bahwa Abu Jakfar Ar-Razi, nama aslinya adalah Isa Bin Mahan, layak diterima hadisnya. Yahya bin Ma’in ,guru dari Imam Bukhari, mengatakan bahwa Abu Jakfar adalah orang tsiqoh (terpecaya). Abu Hatim pun berkata demikian, bahwa Abu Jakfar itu  adalah tsiqotun shoduq (terpercaya lagi jujur). Juga, berdasar-  kan amalan para Salaf, para pakar fiqih,, maka hadis qunut shalat shubuh dapat diterima!

Kalangan yang membid‘ahkan qunut shalat subuh mengambil dalil lagi dari hadis Anas r.a; “Bahwasanya Nabi Saw. melakukan qunut selama satu bulan sesudah rukuk sambil mendoakan atas beberapa suku arab kemudian beliau meninggalkannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Memang, hadis Anas di atas tersebut kita akui sebagai hadis sahih, terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan sekarang adalah kata-kata ‘tsumma tarakahu’(kemudian Nabi meninggalkan- nya) dalam hadis tersebut. Apakah yang ditinggalkan oleh Nabi itu qunutnya, atau doanya, yang mengandung kecelakaan atas suku Arab?

Untuk menjawab permasalahan ini, marilah kita ikuti penjelasan sejumlah para pakar hadis:

Imam Nawawi dalam Al-Majmu  III:505: “Adapun jawaban terhadap hadis Anas dan Abu Hurairah dalam hal ucapannya  ‘thumma tarakahu’, maksudnya, meninggalkan doa kecelakaan atas orang-orang kafir itu, dan meninggalkan pelaknatan terhadap mereka saja. Jadi, bukan berarti meninggalkan seluruh qunut, atau meninggalan qunut subuh. Penafsiran seperti ini, harus dilakukan, karena hadis Anas (yang lain) menyebutkan: ‘Senantiasa Nabi qunut dalam shalat subuh sampai beliau wafat’, adalah hadis sahih lagi jelas, maka wajiblah menggabungkan di antara kedua- nya ”.

Imam Baihaqi, meriwayatkan dari Abdurrahman bin Madiyil imam, bahwasanya beliau berkata: “Innamaa tarakal la’nu” (hanyalah yang beliau Saw. tinggalkan itu adalah melaknat).

Lebih-lebih lagi penafsiran seperti ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah r.a yang berbunyi: tsumma tarakad du’a lahum (Kemudian Nabi meninggalkan doa (kecelakaan) atas mereka).

Ada lagi yang mengajukan dalil yakni hadis Sa’ad bin Thariq, yang juga bernama Abu Malik al-Asja’i:

“Dari Abu Malik al-Asja’i, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku: ‘Wahai ayah! Sesungguhnya engkau pernah shalat dibelakang Rasulallah Saw., Abu Bakar, Usman dan Ali bin Abi Thalib di sini di Kufah, selama kurang lebih lima tahun. Apakah mereka melakukan qunut’? Dijawab oleh ayahnya: ‘Wahai anakku, itu adalah bid‘ah’ ”. (HR.Tirmidzi).

Kalau benar, Sa‘ad bin Thariq mengatakan demikian,  sungguh suatu hal yang mengherankan karena hadis-hadis tentang Nabi dan para khalifah Rasyidin yang mengamalkan qunut sangatlah banyak baik dalam kitab Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i dan Baihaqi. Oleh karena itu, ucapan Sa’ad bin Thariq tersebut tidaklah diakui dan tidak terpakai dalam mazhab Syafi’iyah dan juga mazhab Malikiyah. Hal ini, disebabkan karena beribu-ribu orang telah melihat Nabi mengamalkan qunut, begitu pula dengan para sahabat beliau Saw. Adapun, hanya Thariq sendiri yang mengatakan qunut itu sebagai amalan bid‘ah.

Dalam kasus ini berlakulah kaidah ushul fiqih yakni: ‘Al-Mutsbit muqaddam alan nafi’ (orang yang menetapkan didahulu- kan atas orang yang menafikan). Terlebih lagi, orang yang mengatakan ‘ada’, jauh lebih banyak dibanding orang yang mengatakan ‘tidak ada’.

Seperti inilah, jawaban Imam Nawawi dalam Al-Majmu III:505. Beliau berkata: “Dan jawaban kita terhadap hadis Sa’ad bin Thariq adalah, bahwa riwayat orang-orang yang menetapkan qunut terdapat pada mereka itu tambahan ilmu dan juga mereka lebih banyak. Oleh karenanya wajiblah mendahulukan mereka”.

Pensyarah hadis Imam Tirmidzi ,Ibnul Arabi, memberikan komentar yang sama terhadap hadis Sa’ad itu. Beliau mengatakan, ”Telah tetap bahwa Nabi Muhamad Saw. melakukan qunut dalam shalat subuh. Telah tetap pula, Nabi pernah melakukan qunut sebelum rukuk atau sesudah rukuk. Telah tetap pula, Nabi pernah melakukan qunut nazilah dan para khalifah di Madinah pun melakukannya, serta Sayidina Umar mengatakan, qunut itu sunnah, telah pula diamalkan di masjid Madinah. Oleh karena itu, janganlah kamu ambil perhatian terhadap ucapan yang lain daripada itu”.

 

Ada lagi yang mengetengahkan dalil riwayat dari Ibnu Mas’ud: “Rasulallah Saw. tidak pernah qunut di dalam shalat apapun”.

Riwayat ini, menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu  sangatlah lemah, karena di antara para perawinya terdapat Muhamad bin Jabir As-Suahili yang ucapannya selalu ditinggalkan oleh ahli hadis. Dalam kitab Mizanul I’tidal III/492 karangan Az-Dzahabi disebutkan, Muhamad bin Jabir As-Suahili adalah orang yang dhaif menurut perkataan Ibnu Mu’in dan Imam Nasa’i, imam Bukhari mengatakan: ‘Ia tidak kuat’. Imam Hatim mengatakan:’Ia dalam waktu terakhirnya menjadi pelupa dan kitabnya telah hilang’.

Ada lagi, yang mengajukan dalil, Ibnu Abbas berkata: “Qunut pada shalat subuh itu bid‘ah”. Hadis ini dhaif. Imam Baihaqi meriwayatkannya dari Abi Laila al-Kufi dan beliau sendiri mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih, karena Abu Laila itu adalah matruk (Orang yang ditinggalkan hadisnya). Terlebih lagi pada hadisnya yang lain, Ibnu Abbas sendiri mengatakan: ‘Annahu qunut fis subhi’ (Sesungguhnya itu qunut [Nabi Saw.melakukan] pada shalat subuh). Hadis ini, juga bertentangan dengan hadis-hadis yang kuat bahwa qunut shubuh adalah amalan Nabi Saw.dan para sahabatnya.

Ada lagi yang mengetengahkan dalil, Ummu Salamah berkata: “Bahwasanya Nabi Saw. melarang qunut pada shalat subuh”. Hadis ini juga dhaif, karena diriwayatkan dari Muhamad bin Ya’la dari Anbasah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Nafi’ dari ayahnya dari Ummu Salamah. Berkata Daraqutni: ‘Ketiga-tiga orang itu lemah dan tidak benar kalau Nafi’ mendengar hadis itu dari Ummu Salamah’. Dalam Mizanul I’tidal IV/70 disebutkan: Imam Bukhori berkata, Muhamad bin Ya’la banyak menghilangkan hadis. Abu Hatim mengatakannya,ia matruk’.  Wallahu’alam.

Silahkan ikuti kajian pada bab berikutnya