Siapakah yang layak menyandang gelar ‘ahli hadis’?

Siapakah yang layak menyandang gelar ahli hadis?

Setelah kita menyimak sebagian kecil yang kami nukil, kesalahan, penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Syeikh Al-Albani’, bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu hadis tidak dapat digeluti oleh sembarang orang,  kecuali orang yang telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyandang gelar Al-Muhaddis (Ahli Hadis) dan memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaikh’ yang memang ahli dalam bidang ini. Para Ulama, telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar ‘orang yang memang memenuhi kriteria sajalah’ yang layak menyandang gelar ini seperti yang diungkapkan para ulama berikut ini:

 

  • Al-Hafidh Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan Al-Ilmu, juz 2 halaman 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibnu Laila, ia berkata, “Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia tidak mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan”. 
  • Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2 halaman 427; Ibnu Wahab berkata, “Kalau saja Allah tidak menyelamatkan Aku melalui Malik dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata, Ambillah ini dan tinggalkan itu.’”
  • Imam Malik berpesan kepada  kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); “Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam.” Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad-nya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz II halaman 28. 
  • Al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz II halaman 15-19, suatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzni, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzni berkata: “Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqaha agar kalian menjadi ahli fiqh.”
  • Imam Sakhowi, ‘siapakah Ahli Hadis itu sebenarnya’, “Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis)  dan mengkomentari cabang dari kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian, (syarat-syarat ini terpenuhi--pen) maka tidak di ingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi, jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai--pen) perhiasan lu’lu’ (permata-pen) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pen). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya, bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia, tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan, ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya, ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam”. (Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1 hal. 40-41).
  • Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermazhab Hanafi, menukil pendapat Ibnu Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15: “Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan, padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi, ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan mazhab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah mazhab Abu Hanifah ke dinding, dan ambil hadis Rasulallah Saw.. Padahal hadis ini, telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya, sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya, dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini, diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang “.
  • Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berikut ini: “Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibnu Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama, golongan yang tenggelam dalam ra’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh“. (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya --pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz II hal. 171).
  • Syeikh Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah berkata, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi Saw., perbedaan sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan, dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”. (I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I hal. 44). Dan masih banyak lagi pendapat pakar Islam lainnya.

Apakah tidak terlalu berlebihan atau bahkan termasuk Ghuluw, menyamakan Syeikh Al-Albani dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dan sahabat-sahabat mereka? Ditambah lagi, dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya menyalahkan, bahkan membodoh-bodohkan para Ulama selain mazhabnya. Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari karya-karyanya.

Para ulama Salaf ,panutan umat, sudah memperingatkan kita akan kelompok orang seperti mereka ini. Sebagaimana juga hadis baginda Nabi Saw. yang artinya: “Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan,  hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur di dustakan,  para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau Saw. menjawab: ‘Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak’ “. (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439—ia menyatakan hadis ini sahih; HR. Ibnu Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No.7899, 8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67  No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id). 

Kami cantumkan sebagian judul buku dan nama-nama ulama, yang mengeritik akidah atau keyakinan golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya, bukan ingin mencari kesalahan lawan atau ingin membongkar rahasia kekurangannya, tetapi yang kami sesalkan dan sayangkan,  golongan Wahabi -Salafi ini sangat fanatik kepada ulama kelompoknya sendiri, sehingga sering mensesatkan, mencela, mengkafirkan para ulama atau muslimin selain mazhabnya.  Mereka merasa yang paling pandai, murni dan.....dalam syari’at Islam !. Semoga Allah Swt. memberi hidayah kepada semua kaum muslimin dan mengampunkan dosa-dosa muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.Amin. Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian pada bab berikutnya.