Tolok ukur Tauhid dan Syirik

Tolok ukur Tauhid dan Syirik

Kelompok Salafi-Wahabi percaya bahwa Al-Quran dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal, dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya.Pada      kenyataannya, terdapat ayat Al-Quran yang mempunyai arti harfiah dan arti majazi, yang mana kata-kata Allah Swt. harus di artikan sesuai dengannya. Jika kita, tidak dapat membedakan di antara keduanya, kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Quran. Dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Quran dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna majazi, akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah Swt.. (umpama Dia Swt. mempunyai tangan, kaki, mata, kursi di Arsy untuk tempat dudukNyaya dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Hal ini, telah membuat banyak fitnah di antara umat Islam, dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari mazhab ahlus sunnah wal jama’ah. Salafisme ini,hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram.

Mengartikan ayat-ayat Ilahi dan Sunnah secara tekstual, akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Al-Quran maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan kaum Wahabi-Salafi. Mereka juga kadangkala kerepotan/kebingungan untuk menafsirkan ayat-ayat dan hadis Rasulallah Saw. yang (kelihatannya) berlawanan, mencari jalan sedapat mungkin agar yang berlawanan ini sampai sesuai dengan keyakinannya. Umpamanya, mereka berdalil dengan surah Al-Fatihah:5, ‘Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan’

Atau berdalil ayat-ayat berikut ini: :

‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’  (QS [50] : 16); ‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’.(QS Al-Baqarah :186);

‘...maka janganlah kamu berdoa (menyembah) kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang’.  (QS[72]: 18);  ‘Hanya bagi Allah-lah (yang berhak mengabulkan) doa yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka’. (QS Ar Ra’ad :14); “Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at  selain Allah. Katakanlah; ‘Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”. Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu di kembalikan’ “.(QS Az-Zumar [39]: 43-44) dan ayat-ayat yang serupa. Begitu pula mereka berdalil dengan hadis riwayat Imam Tirmudzi dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasullah Saw. bersabda:

   إذَا سَألْتَ فَاسْألِ اللهَ, وَإذَا اسْتَعَـنْتَ فَاسْتَتعِنْ بَاللهِ وَاعْلَمْ أنَّ الاُمَّـةَ لَو             ِ

اجْتَمَـعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفََـعُوْكَ بِشَيْئٍ  لَمْ  يَنْفَـَعُوكَ  إلاَّ بِشَـيْئٍ  قَدْ  كَتَبهُ             

  اللهُ لَكَ, وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْئٍ                  

قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَليْـَكَ                                                                           

“Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah. Jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu.”

 .     Dengan berdalil ayat-ayat dan hadis diatas, dan mengenyampingkan ayat-ayat lainnya, golongan Wahabi-Salafi berusaha meyakinkan dirinya bahwa hanya Allah-lah yang bisa dimohoni secara langsung. Dan telah Syirik jika berkeyakinan bahwa Allah mempunyai beberapa perantara antara Dia dan mahluk-Nya. Mereka berkata; Apakah Allah tuli–Na’udzubillah–sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung? Apakah Dia buta sehingga Dia tidak bisa melihat kita?

Dengan memahami ayat-ayat dan hadis diatas secara tekstual, akibatnya mereka berani mensyrikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah Saw. atau hamba-hamba Allah yang saleh. Padahal maksud ayat-ayat dan hadis itu, manusia tidak boleh lupa bahwa sebab utama yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah Swt.

 

Bila kita tetap mempunyai faham seperti kaum Wahabi, pastilah akan kerepotan untuk memahami beberapa ayat Al-Quran dan hadis berikut, yang kelihatannya berlawanan dengan ayat-ayat diatas,

Sesungguhnya penolong kamu (Waliukum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”. (QS Al-Maidah [5]: 55-56). “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”.(QSAt-Tahrim [66]: 4)

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduk- nya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nashira) dari sisi Engkau”. (QS An-Nisaa [4]:75).

Sementaradalam hadis riwayat Imam Muslim dan lainnya,  Rasulallah Saw. bersabda:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ                          

'…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.

Kalau kita baca ayat An-Nisa diatas, manakala Allah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasiran), mengapa orang memohon kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi Pelindungnya dan Penolongnya?

Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah, ketika kita percaya bahwa Jibril a.s, orang beriman dan para malaikat sebagai Pelindung kita dan Penolong bersama-sama dengan Allah Swt.? Apakah Allah Swt. bukan satu-satunya Wali (penolong) karena disamping Dia, ada Penolong lainnya? Apakah tidak cukup hanya Dia (Allah Swt.) sebagai penolong? Jika kita tetap memakai pengertian Syirik ,faham Wahabi, secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik-na‘udzubillah-begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran.

Begitu pula mereka mengatakan, tidak ada Perantara antara Allah dan hambaNya. Padahal, Allah Swt.berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhamad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS An-Nisaa[4]:64).

Semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/ Wahabi setuju, ayat ini diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini; 

Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, tapi Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah Saw. dan kemudian beliau Saw. memintakan ampun kepada Allah Swt.; Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang di perintahkan, menyertakan Rasulallah Saw. dalam permohonan ampun mereka, hanya setelah melakukan ini, mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

Sebenarnya, terdapat sepuluh ayat dalam Al-Quran yang mana Allah Swt. menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu-satunya perantara. Dan terdapat tujuh ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa Rasulallah, orang-orang saleh dan malaikat dapat menjadi perantara atas izin Allah.

Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini ;

Allah Swt. telah berfirman tentang sebab-sebab, sebagian menisbatkan langsung kepada-Nya, dan ada kalanya menisbatkan kepada yang menjadi sebab-sebabnya secara langsung. Berikut ini adalah beberapa contoh firman Allah Swt..

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” Ayat ini, menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah Swt. Pada ayat yang lain, “Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik,” kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia.

Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai Penanam yang hakiki. Allah Swt. berfirman; “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam? Kamukah, yang menanamnya ataukah Kami yang menanamnya?” (QS. al-Waqi'ah [56]: 63–64). Adapun, pada ayat yang lain, Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada manusia sebagaimana firman-Nya, “Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”(QS.Al-Fath [48]: 29).

 

Pada sebuah ayat, Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai pencabut nyawa, sebagaimana firman-Nya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika wafatnya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum wafat di waktu tidurnya.” (QS. Az-Zumar[39]:42). Sementara pada ayat lain Allah Swt. menjelaskan, bahwa mencabut nyawa adalah tugas malaikat. Allah Swt. berfirman: “Sehingga apabila datang kewafatan kepada salah seorang diantara kamu, dia di wafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. al-An'am [6]:61). Atau firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri… sampai akhir ayat.” (QS. an-Nisa’: [4]:97).

Pada sebuah ayat  Allah Swt. menyatakan, bahwa syafa’at hanya khusus milik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Katakan- lah, hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya" (QS. az-Zumar [39]:44).  Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah, sebagaimana firmanNya, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka  sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (QS. an-Najm [53]: 26). Ayat ini menyatakan bahwa hamba Allah Swt. bisa memberi syafa’at setelah diizinkan Allah.

Pada sebuah ayat, Allah menyatakan bahwa pengetahuan tentang hal-hal yang gaib adalah khusus milik Allah,. firman-Nya; "Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.' " (QS. an-Naml [27]: 65). Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memilih para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang gaib. Allah Swt. berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya.’ (QS. Ali Imran [3]:179). Sudah tentu Rasulallah Saw. berada pada urutan pertama dari para Rasul lainnya. Dan masih ada ayat-ayat lain yang serupa.

Begitu pula beberapa ayat, Allah Swt. mengatakan,  pengampunan bisa di mohonkan pula  melalui hamba-Nya,...:

“Karena itu maafkanlah  mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka” (Ali Imran [3] :159); ‘....maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (An Nuur [24] : 62);  “ ..., maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Mumtahanah [60]:12 ), dan ayat-ayat yang semakna.

Allah Swt. mengatakan, disamping Dia, Rasulallah Saw. diberi izin memberi Karunia“Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, …sampai akhir ayat(At Taubah [9]:59). Atau ayat, “….kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka….”.(At-Taubah[9]:74).

 

Apakah kita telah syirik dengan mengatakan, Rasulallah Saw. dapat memberikan Karunia bersama dengan Allah Swt.?  Ayat-ayat seperti diatas, bertentangan langsung dengan faham golongan Wahabi-Salafi tentang Syirik, mereka berusaha menolak dan mengenyampingkannya, karena takut orang-orang akan  menjadi syirik!

Berikut, ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah Swt, Karim, Rahim, Rouuf, dinisbatkan pula kepada  RasulNya, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (Kariim)’  (Al-Haqqah [69]:40); “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang (Rouufun Rahiim) terhadap orang-orang mukmin”. (At-Taubah [9]:128 ).

Kata-kata Karim , Rouf, Rohiim dan sifat-sifat Allah Swt. yang lain (qawi, halim ..)  yang disebutkan di Al-Quran, ketika disifatkan kepada Allah Swt. merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disifatkan kepada para Rasul-Nya mengandung arti kiasan/ majaz. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasul Saw. adalah  Rohim, Rouf? Sudah tentu tidak!

 

Kaum Sunni membolehkan memohon kepada Allah melalui Rasul-Nya atau melalui orang yang saleh. Bagi kaum Sunni, bertawasul kepada Rasulallah Saw. dan kaum beriman bukanlah berarti permohonan kepada hamba-Nya. Itu hanya merupakan cara yang baik untuk sampai kepada Allah Swt.. Tema ini, akan dibahas lebih jauh dalam bab Tawasul di buku ini. Kaum Wahabi jelas ingin menghapus praktik tawasul/tabaruk. Mereka dengan tegas mengategorikan praktik-praktik itu sebagai syirik dan bid‘ah.

 Kaum Wahabi membolehkan bertawasul kepada sebab-sebab yang alami dan menolak keras bertawasul kepada sebab-sebab gaib. Golongan ini, menjadikan sebab-sebab materi berarti tauhid yang sesungguhnya dan sebab-sebab gaib berarti syirik yang sebenarnya. Sebenarnya tolok ukur tauhid dan syirik kembali kepada keyakinan manusia terhadap sebab-sebab ini. Jika seorang manusia meyakini, bahwa sebab-sebab ini mempunyai kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah Swt., maka keyakinannya ini syirik. Misalnya, seseorang meyakini obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit, tanpa ada kaitan dengan kekuasaan Allah Swt., maka perbuatan ini syirik, meskipun itu melalui sebab-sebab alami atau gaib. Jika seseorang meyakini bahwa semua sebab tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah Swt.–baik dalam wujud maupun pengaruhnya–dan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah Swt. yang menjalankan perintah dan kehendak-Nya, keyakinan orang ini adalah tauhid yang sesungguhnya.

Golongan Pengingkar, tidak siap dan menolak penggunaan ungkapan secara kiasan/majaz! Coba  perhatikan firman Allah Swt.,” ...sungguh tuanku (Robbi) telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung’. (QS Yusuf (12):23).         

Kata Robbi dalam surah Yusuf ini, sebagai ungkapan majazi/ kiasan dalam Al-Quran, karena jelas kata Robbi yang diucapkan oleh Nabi Yusuf a.s ditujukan kepada penguasa Mesir. Untuk lebih jelasnya, kita bisa baca ayat sebelumnya (QS Yusuf: 21) yang berkaitan dengan ayat 23 diatas. Semua Mufasirin (ahli tafsir) mempunyai penafsiran yang sama tentang ayat ini. Ayat ini, secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan golongan wahabi-salafi  mengenai Tauhid dan literalisme.

 

Maulana Maududi ,seorang ulama dari Pakistan, dalam kitab tafsirnya yang terkenal Tafhimul Quran, berusaha untuk merubah arti ayat tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya dan ke yakinan teman-temannya golongan salafi. Dia menulis dalam bahasa Inggris, yang terjemahan bebasnya, “Pada umumnya para ahli tafsir (telah membuat kesalahan dan beranggapan) bahwa Yusuf menggunakan kata ‘robbi’ sebagai sebutan pada penguasa Mesir saat itu, bagaimana mungkin beliau a.s. berhubungan intim (selingkuh) dengan isteri sang penguasa, yang tentunya hal ini bertentangan dengan loyalitasnya. Tetapi, tidaklah mungkin bagi para Rasul melakukan dosa demi orang lain daripada demi Allah. Dan juga tidak ada contoh didalam Al-Quran seorang Rasul yang menyebut selain Allah dengan sebutan ‘Robbi’ ”.

Pernyataan beliau ini tidak konsekwen, karena Al-Quran telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun ahli tafsir mulai abad pertama hijriah hingga abad ini yang memahami ayat diatas seperti pendapat Maulana Maududi. 

Begitu pula dalam masalah tawasul, Maulana Maududi ini lebih extrim daripada golongan Salafi, Arab Saudi.  Beliau merubah arti firman Allah Swt. dalam Surah Thaha [20]:96, ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul, lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’.

Hampir semua hadis Rasulallah Saw. menginformasikan, yang dimaksud dengan Rasul dalam ayat diatas, adalah malaikat Jibril a.s. Semua ahli tafsir dari abad pertama tahun Hijriah hingga sekarang menerima yang adanya barokah dalam jejak Jibril a.s., Pemerintah Arab Saudi menerbitkan Al-Quran dalam bahasa Urdu yang mengakui tentang barakah ini.  Maulana Maududi, berusaha keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang barakah dalam ayat ini, karena bertentangan dengan keyakinannya!

 

Nah, secara sekilas, ayat-ayat yang telah kami kemukakan  terkesan bertentangan, namun sesungguhnya ayat-ayat di atas menguatkan pembahasan kita, hanya Allah Swt. yang merdeka dalam melakukan segala sesuatu. Adapun, selain Allah dalam melakukan perbuatannya mereka semua bersandar dan berada di bawah naungan kekuasaan Allah Swt.. Allah Swt. telah meringkas pengertian ini dalam firman-Nya;

,وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar."(QS. al-Anfal [8]: 17)

Allah menyatakan, Rasulallah Saw. yang telah melempar, dengan kata-kata ketika kamu melempar. Namun, pada saat yang sama Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai Pelempar yang sesungguhnya, karena sesungguhnya Rasulallah Saw. tidak melempar, melainkan dengan kekuatan yang telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulallah Saw. adalah pelempar ikutan (bittaba’)Dengan demikian, kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua bagian: Pertama, Perbuatan tanpa perantara (kun fayakun). Kedua,  Perbuatan dengan perantara.

 Dengan meniadakan arti majaz dalam Al-Quran, kelompok Wahabi juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama–para penyair atau pengarang kitab-kitab: Diba’, Barzanji,  Burdah dan lain-lain–yang didalam bait-bait syairnya tertulis sifat-sifat  Allah Swt. (Pengampun, Penolong, Pengabul hajat dan sebagai- nya) yang ditujukan pada Rasulallah Saw. .

Para penyair, pembaca serta pendengar syair itu tahu benar sebab utama yang memberi perlindungan, pertolongan adalah Allah Swt., sedangkan Malaikat, Rasulallah Saw. dan hamba-Nya yang saleh termasuk didalamnya atas izin-Nya. Dengan pemahaman ayat atau hadis secara tekstual, golongan Wahabi sering menghardik para peziarah Rasulallah Saw. dengan mengatakan, “Hai musyrik, Rasulallah Saw. tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadamu.” Pikiran seperti ini, sangat naif sekali. Sesungguhnya masalah manfaat atau tidak, tidak memberikan pengaruh didalam masalah tauhid dan syirik.

 

Pandangan Wahabi-Salafi ini, meneruskan pandangan Ibnul Qayim–murid Ibnu Taimiyah–yang mengatakan, “Salah satu di antara bentuk syirik, ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah asal mula syirik yang ada di alam ini. Karena sesungguhnya orang yang telah wafat telah terputus amal perbuatannya. Mereka tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat bagi dirinya.” (Mufid bin Abdul Wahab, Fath al-Majid, hal. 67).

Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan tauhid, sementara permintaan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan syirik? Seandainya benar, itu tidak lebih memiliki arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang wafat tidak bermanfaat, namun tidak bisa menetapkan bahwa perbuatan itu syirik.

Adapun, perkataan beliau yang berbunyi, ‘Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya’, ini adalah merupakan perkataan umum, yang mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Karena seluruh makhluk ,baik yang hidup maupun yang wafat, tidak memiliki sedikitpun ke kuasaan atas dirinya dan hanya memiliki kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.

Disatu sisi mereka mengatakan orang harus langsung minta pada Allah Swt, disisi lain mereka mengatakan boleh memohon melalui hamba Allah Swt. selama mereka masih hidup serta mampu untuk menolongnya. Ini semua, taktik golongan wahabi-salafi sendiri, karena ini adalah cara paling aman bagi mereka untuk menghindari pertentangan yang ada pada paham atau keyakinan mereka.

Dengan adanya keterangan diatas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah Saw. dan para sahabat bukan dari golongan Salafi/Wahabi, disebabkan:

Para sahabat sering menjadikan Rasulallah Saw. dan hamba yang saleh sebagai perantara antara Allah dan mereka. Para sahabat sering memerlukan Nabi Saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah Swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).Rasulallah Saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat: ‘Pergilah dan mintalah pada Allah Swt. secara langsung’! Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian berikutnya.