Tolok ukur Tauhid dan Syirik

Tolok ukur Tauhid dan Syirik

Kelompok Salafi-Wahabi percaya bahwa Al-Quran dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya tekst) atau literal, dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya, terdapat ayat Al-Quran yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah Swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita, tidak dapat membedakan diantara keduanya, kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Quran. Dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Quran dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah Swt.. (umpama Dia Swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Mereka mengatakan, terdapat kursi yang sangat besar (Arsy) dimana Allah Swt. duduk diatasnya.

Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini, telah membuat banyak fitnah diantara umat Islam, dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Mazhab yang lain. Salafisme ini, hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram.

Mengartikan ayat-ayat Ilahi dan Sunnah secara tekstual, akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Al-Quran maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan kaum Wahabi. Mereka juga kadangkala kerepotan dan kebingungan untuk menafsirkan ayat-ayat  dan hadis Rasulallah Saw. yang (kelihatannya) berlawanan dan mencari jalan sedapat mungkin agar yang berlawanan ini sampai sesuai dengan keyakinannya. Umpamanya, mereka berdalil dengan surah Al-Fatihah:5, ‘Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan’ dan ayat-ayat yang semakna. Atau berdalil dengan hadis riwayat Tirmudzi dari Ibnu Abbas r.a., Rasulallah Saw. bersabda:

   إذَا سَألْتَ فَاسْألِ اللهَ, وَإذَا اسْتَعَـنْتَ فَاسْتَتعِنْ بَاللهِ وَاعْلَمْ أنَّ الاُمَّـةَ لَو             ِ

اجْتَمَـعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفََـعُوْكَ بِشَيْئٍ  لَمْ  يَنْفَـَعُوكَ  إلاَّ بِشَـيْئٍ  قَدْ  كَتَبهُ             

  اللهُ لَكَ, وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْئٍ                  

قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَليْـَكَ                                                                           

 

“Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah. Jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu."

Dengan berdalil dengan ayat dan hadis tersebut mereka mengatakan, kita harus langsung minta pertolongan dan pengampunan pada Allah Swt. tidak boleh melalui hamba-Nya, Apakah Allah tuli–na’udzubillah–sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung?

Kaum Wahabi-Salafi, memahami ayat dan hadis itu secara tekstual. Akibatnya, mereka berani memusyrikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah Saw. atau hamba-hamba Allah yang saleh. Padahal maksud hadis itu, manusia tidak boleh lupa bahwa sebab utama yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah Swt. Jadi bukan berarti manusia haram untuk minta pertolongan atau pelindungan dari hamba-Nya yang beriman dan meminta syafa’at pada hamba Allah yang diberi izin oleh-Nya.

Bila kita mempunyai faham seperti kaum Wahabi, pastilah akan kerepotan untuk memahami beberapa ayat Quran dan hadis berikut;

Sesungguhnya penolong kamu (Waliukum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul- Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”. (QS Al-Maidah [5]: 55-56)

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitupula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”.  (QS At-Tahrim [66]: 4)

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nashira) dari sisi Engkau”. (QS An-Nisaa [4]: 75).   Sementara dalam hadis riwayat Imam Muslim dan lainnya, Allah akan menolong hambaNya selagi hambaNya mau  menolong sesamanya,  Rasulallah Saw. bersabda:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ                          

'…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.

.Kalau kita baca ayat An-Nisa diatas, manakala Allah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasira), mengapa orang memohon kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi Pelindungnya dan Penolongnya? Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah, ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat sebagai Waliyan (Pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah? Apakah Allah Swt. bukan satu-satunya Wali (penolong) karena disamping Dia, ada Penolong lainnya? Apakah tidak cukup hanya Dia (Allah Swt.) sebagai penolong?Jika kita tetap memakai pengertian Syirik ,faham Wahabi, secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik -na‘udzubillah- dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Qura.

Kaum Wahabi tentu hanya akan menukil ayat-ayat yang mana Allah menyatakan, hanya Dialah sebagai Wali (Penolong). Dengan hanya merujuk pada ayat ini, mengenyampingkan ayat-ayat lainnya, kaum Wahabi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulallah Saw sebagai Wali (Penolong) adalah syirik. Dengan argumen ini, kaum Wahabi juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama  pengarang kitab Diba’, Barzanji,  Burdah, dan syair keagungan Rasulallah Saw. Keyakinan kaum Wahabi di atas jelas berbeda dengan faham kelompok ahli sunnah wal jamaah (sunni).

.Kaum Sunni membolehkan memohon kepada Allah melalui Rasul-Nya atau melalui orang yang saleh. Bagi kaum Sunni, bertawasul kepada Rasulallah Saw. dan kaum beriman bukanlah berarti permohonan kepada hamba-Nya. Itu hanya merupakan cara yang baik untuk sampai kepada Allah Swt. Tema ini akan dibahas lebih jauh dalam bab mengenai tawasul. Kaum Wahabi jelas ingin menghapus praktik tawasul/tabaruk. Mereka dengan tegas mengategorikan praktik-praktik itu sebagai syirik dan bid‘ah.

Kelompok Wahabi-Salafi mengatakan, tidak ada perantara antara Allah dan hambaNya. Sementara pada ayat lain ada hamba-Nya yang beriman bisa menjadi perantara, “Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhamad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS An-Nisaa[4]:64).

Semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/ Wahabi setuju, ayat ini di turunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini; 

Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, tapi Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah Saw. dan kemudian beliau Saw. memintakan ampun kepada Allah Swt.; Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang di perintahkan, menyertakan Rasulallah Saw. dalam permohonan ampun mereka, hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayan.

Sebenarnya terdapat sepuluh ayat dalam Al-Quran yang mana Allah Swt. menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu-satunya perantara. Dan terdapat tujuh ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa Rasulallah, orang-orang saleh dan malaikat dapat menjadi perantara atas izin Allah. Kaum Wahabi berpendapat bahwa bertawasul kepada sebab-sebab yang alami tidaklah menjadi masalah. Seperti menggunakan sebab-sebab di dalam keadaan alami. Akan tetapi, golongan pengingkar ini menolak keras bertawasul kepada sebab-sebab gaib. Golongan ini, menjadikan sebab-sebab materi berarti tauhid yang sesungguhnya dan sebab-sebab gaib berarti syirik yang sebenarnya. Sebenarnya tolok ukur tauhid dan syirik kembali kepada keyakinan manusia terhadap sebab-sebab ini. Jika seorang manusia meyakini, bahwa sebab-sebab ini mempunyai kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah Swt., maka keyakinannya ini syirik. Misalnya, seseorang meyakini obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit, tanpa ada kaitan dengan kekuasaan Allah Swt., maka perbuatan ini syirik, meskipun itu melalui sebab-sebab alami atau gaib. Jika seseorang meyakini bahwa semua sebab tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah Swt.–baik dalam wujud maupun pengaruhnya–dan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah Swt. yang menjalankan perintah dan kehendak-Nya, maka keyakinan orang ini adalah tauhid yang sesungguhnya.

Allah Swt. telah berfirman tentang sebab-sebab, sebagian menisbatkan langsung kepada-Nya, dan ada kalanya menisbatkan kepada yang menjadi sebab-sebabnya secara langsung. Berikut ini adalah beberapa contoh firman Allah Swt..

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” Ayat ini, menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah Swt. Sedangkan pada firman Allah Swt., “Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik,” kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia. Pada ayat yang lain, Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai penanam yang hakiki.

Allah Swt. berfirman; “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam? Kamukah, yang menanamnya ataukah Kami yang menanamnya?” (QS. al-Waqi'ah [56]: 63–64). Adapun, pada ayat yang lain, Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada manusia sebagaimana firman-Nya, “Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”(QS.Al-Fath [48]: 29).

Pada sebuah ayat, Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai pencabut nyawa, sebagaimana firman-Nya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika wafatnya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum wafat di waktu tidurnya.” (QS. Az-Zumar[39]:42). Sementara pada ayat lain Allah Swt. menjelaskan, bahwa mencabut nyawa adalah tugas malaikat. Allah Swt. berfirman: “Sehingga apabila datang kewafatan kepada salah seorang diantara kamu, dia di wafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. al-An'am [6]:61). Atau firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri… sampai akhir ayat.” (QS. an-Nisa’: [4]:97).

Pada suatu ayat  Allah Swt. menyatakan, bahwa syafa’at hanya khusus milik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya" (QS. az-Zumar [39]:44).  Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah, sebagaimana firmanNya, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka  sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (QS. an-Najm [53]: 26). Ayat ini menyatakan bahwa hamba Allah Swt. bisa memberi syafa’at setelah diizinkan Allah.

Pada sebuah ayat, Allah menyatakan bahwa pengetahuan tentang hal-hal yang gaib adalah khusus milik Allah,. firman-Nya; "Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.' " (QS. an-Naml [27]: 65). Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memilih para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang gaib. Allah Swt. berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya.’ (QS. Ali Imran [3]:179). Sudah tentu Rasulallah Saw. berada pada urutan pertama dari para Rasul lainnya. Dan masih ada ayat-ayat lainnya yang serupa.

Pada beberapa ayat Allah Swt. mengatakan ‘hanya Allah-lah’  sebagai Pelindung dan Penolong: 

Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’ (QSAn-Nisaa[4]:123).  

Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu) ’(QSAn-Nisaa [4]:45).

Katakanlah:‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan menolong selain Allah”. (QS Al-Ahzab [33] :17). Sementara pada ayat lain, selain Allah Swt. sebagai Pelindung dan Penolong ada hamba-hamba-Nya dengan seizin-Nya juga sebagai Penolong dan Pelindung, (baca surah Al-Maidah [5]:55-56, surah At-Tahrim [66]:4, surah  An-Nisaa [4]:75, yang telah kami cantumkan pada halaman sebelumnya).

Begitu pula beberapa ayat, Allah Swt. mengatakan,  pengampunan bisa di mohonkan pula  melalui hamba-Nya,...:

“Karena itu maafkan lah  mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka.” (Ali Imran [3] :159):

‘....maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (An Nuur [24] : 62),  

“ ..., maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Mumtahanah [60]:12 ), dan ayat-ayat yang semakna.

Allah Swt. mengatakan, disamping Dia, Rasulallah Saw diberi izin memberi  Karunia“Jika mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, …sampai akhir ayat” (At Taubah [9]:59). Atau ayat, “….kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpah kan karunia-Nya kepada mereka….”.(At-Taubah[9]:74).

Apakah kita telah syirik dengan mengatakan, Rasulallah Saw. dapat memberikan Karunia bersama dengan Allah Swt.?  Ayat-ayat seperti diatas, bertentangan langsung dengan faham golongan Wahabi-Salafi tentang Syirik, mereka berusaha menolak dan mengenyampingkannya, karena takut orang-orang akan  menjadi syirik!

Berikut, ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah Swt, Karim, Rahim, Rouuf, dinisbatkan pula kepada  RasulNya, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (Kariim)'  (Al-Haqqah [69]:40);

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang (Rouufun Rahiim) terhadap orang-orang mu’min”. (At-Taubah [9]:128 ).

Kata-kata Karim , Rouf, Rahim dan sifat-sifat Allah Swt. yang lain (qawi, halim ..)  yang disebutkan di Al-Quran, ketika disifatkan kepada Allah Swt. merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disifatkan kepada para RasulNya mengandung arti kiasan/ majaz. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah Saw. adalah Rahim, Rouf? Sudah tentu tidak!

Golongan Pengingkar, tidak siap dan menolak penggunaan ungkapan secara kiasan/Majaz! Perhatikan ayat berikut ini;

Allah Swt. berfirman,” ...sungguh tuanku (Robbi) telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung’. (QS Yusuf (12) : 23).       

Kata Robbi dalam surah Yusuf ini, sebagai ungkapan majazi/ kiasan dalam Al-Quran, karena  jelas kata Robbi yang diucapkan oleh Nabi Yusuf as ditujukan kepada penguasa Mesir. Untuk lebih jelasnya, kita bisa baca ayat sebelumnya (QS Yusuf: 21) yang berkaitan dengan ayat 23 diatas. Semua Mufasirin (ahli tafsir) mempunyai penafsiran yang sama tentang ayat ini. Ayat ini secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan golongan wahabi mengenai Tauhid dan literalisme.

Maulana Maududi ,seorang ulama dari Pakistan, dalam buku tafsirnya yang terkenal Tafhimul Quran berusaha untuk merubah arti ayat tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya dan keyakinan teman-temannya golongan Salafi. Sebagaimana yang dia tulis dalam bahasa Inggris yang terjemahan bebasnya, “Pada umumnya para ahli tafsir (telah membuat kesalahan dan) yang karenanya (beranggapan) bahwa Yusuf (as) menggunakan kata ‘robbi’ sebagai sebutan pada penguasa Mesir saat itu, bagaimana mungkin beliau as. berhubungan intim (selingkuh) dengan isteri sang penguasa yang tentunya hal ini bertentangan dengan loyalitasnya. Tetapi tidaklah mungkin bagi para Rasul melakukan dosa demi orang lain daripada demi Allah. Dan juga tidak ada contoh didalam AlQuran seorang Rasul yang menyebut selain Allah dengan sebutan ‘Robbi’ ”. Pernyataan beliau ini tidak konsekwen, karena Al-Quran telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun ahli tafsir mulai abad pertama hijriah hingga abad ini yang memahami ayat diatas seperti pendapat Maulana Maududi. 

Begitu juga dalam masalah tawasul, Maulana Maududi ini lebih extrem dari golongan Salafi, Arab Saudi.  Beliau merubah arti firman Allah Swt. dalam Surah Thaha [20]:96, ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’. Hampir semua hadis Rasulallah Saw. menginformasikan, yang dimaksud dengan Rasul dalam ayat diatas adalah malaikat Jibril a.s. Semua ahli tafsir dari abad pertama tahun Hijriah hingga sekarang menerima yang adanya barokah dalam jejak Jibril a.s., Pemerintah Arab Saudi menerbitkan Al-Quran dalam bahasa Urdu yang mengakui tentang barakah ini, tapi Maulana Maududi berusaha dengan keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang barakah dalam ayat ini, karena bertentangan dengan keyakinannya!

Secara sekilas, ayat-ayat yang telah kami kemukakan  terkesan bertentangan, namun sesungguhnya ayat-ayat di atas menguatkan pembahasan kita. Yaitu bahwa hanya Allah Swt. yang merdeka dalam melakukan segala sesuatu. Sedangkan selain Allah, dalam melakukan perbuatannya mereka semua bersandar dan berada di bawah naungan kekuasaan Allah Swt.. Allah Swt. telah meringkas pengertian ini dalam firman-Nya;

,وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar."(QS. al-Anfal [8]: 17)

Allah menyatakan bahwa Rasulallah Saw. yang telah melempar, dengan kata kata ketika kamu melempar. Namun, pada saat yang sama Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai Pelempar yang sesungguhnya, karena sesungguhnya Rasulallah Saw. tidak melempar, melainkan dengan kekuatan yang telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulallah Saw. adalah pelempar ikutan (bittaba’)Dengan demikian kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua bagian:

Pertama, Perbuatan tanpa perantara (kun fayakun).

Kedua,  Perbuatan dengan perantara.

Dengan meniadakan arti majaz/kiasan dalam Al-Quran,  kelompok Wahabi juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama–para penyair atau pengarang kitab-kitab: Diba’, Barzanji,  Burdah dan lain-lain–yang didalam bait-bait syairnya antara lain terkandung sifat-sifat Allah Swt. (Pengampun, Penolong, Pengabul hajat, dan....) yang ditujukan pada Rasulallah Saw. Padahal, diantara sifat-sifat Allah Swt yang ditujukan  pada Rasulallah Saw tersebut adalah sebagai majaz/kiasan, sebagaimana firman Allah Swt. ,yang telah kami kemukakan, menyebutkan sifat-sifat yang dimiliki-Nya pada para Rasul-Nya.

Para penyair, pembaca serta pendengar syair itu tahu dan tidak lengah sebab utama yang memberi pelindungan, penolongan adalah Allah Swt., sedangkan Malaikat, Rasulallah Saw. dan hamba-Nya yang saleh termasuk didalamnya atas izin-Nya. Dengan pemahaman ayat atau hadis secara tekstual, golongan Wahabi sering menghardik para peziarah Rasulallah Saw. dengan mengatakan, “Hai musyrik, Rasulallah Saw. tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadamu.” Pikiran seperti ini, sangat naif sekali. Sesungguhnya masalah manfaat atau tidak, tidak memberikan pengaruh didalam masalah tauhid dan syirik.

Pandangan Wahabi-Salafi ini adalah meneruskan pandangan Ibnul Qayyim–murid Ibnu Taimiyah–yang mengatakan, “Salah satu di antara bentuk syirik, ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah asal mula syirik yang ada di alam ini. Karena sesungguhnya orang yang telah wafat telah terputus amal perbuatannya. Mereka tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat bagi dirinya.” (Mufid bin Abdul Wahab, Fath al-Majid, hal. 67).

Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan tauhid, sementara permintaan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan syirik? Jelas, perbuatan yang semacam ini keluar dari kerangka pembahasan tauhid dan syirik, tetapi kita dapat meletakkannya dalam pembahasan, “apakah permintaan ini berguna atau tidak?”.  Dan permintaan yang tidak berguna, tidak termasuk syirik.

Perkataan Ibnul Qayyim yang berbunyi; ‘Sesungguhnya orang yang wafat telah terputus amal perbuatannya’. Seandainya benar, itu tidak lebih memiliki arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang wafat itu tidak berguna, namun tidak bisa menetapkan bahwa perbuatan itu syirik. Adapun perkataan beliau yang berbunyi, ‘Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya’, ini adalah merupakan perkataan yang umum yang mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Karena seluruh makhluk ,baik yang hidup maupun yang wafat, tidak memiliki sedikitpun ke kuasaan atas dirinya dan hanya memiliki kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.

Dengan adanya keterangan ini, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah Saw. dan para sahabat bukan dari golongan Salafi/Wahabi, ini disebabkan karena:

Para sahabat sering menjadikan Rasulallah Saw. dan hamba yang saleh sebagai perantara antara Allah dan mereka, seperti halnya yang telah diterangkan diatas.  Para sahabat sering memerlukan Nabi Saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah Swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).Rasulallah Saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat: ‘Pergilah dan mintalah pada Allah Swt. secara langsung’! Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian berikutnya.