Nabi Adam a.s. bertawasul kepada Rasulallah Saw

Nabi Adam a.s. bertawasul kepada Rasulallah Saw.  

Dalam Surah Al-Baqarah [2]: 37, Allah Swt. berfirman:

                 فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ  كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ  اَنَّهُ الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ  

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.  

Menurut ahli tafsir, kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam a.s. pada ayat di atas agar taubat Nabi Adam a.s. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhamad Saw. dan keluarganya. Makna seperti ini antara lain merujuk pada sejumlah seumber sebagai berikut:

  • Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As- Syafi’i, halaman 63, hadis ke 89; Yanabiul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada  cetakan Istanbul, halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah;  

Muntakhab Kanzul Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, I: 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, I: 60;  Ihqaqul Haqq, karya At-Tastari, III: 76.

Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surah Al-Baqarah [2]:37 dan meriwayatkan hadis tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawasul pada Rasulallah Saw. dan dari sumber lainnya.

Nabi Adam a.s. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah Swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawasul pada Habibullah Nabi Muhamad Saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, berikut dikutipkan sejumlah hadis Nabi Saw. yang berkaitan dengan tawasul:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak Sahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadis yang berasal dari Umar Ibnu Khatab r.a. (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Said Amr bin Muhamad bin Manshur Al-Adl, Abul Hasan Muhamad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzali, Abul Haris Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya), bahwa Rasulallah Saw. bersabda,

.                قَالَ رَسُوْلُالله.صَ لَمَّااقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ يَارَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ 

         لِمَاغَفَرْتَ لِي فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ وَكَيْفَعَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ؟ قَالَ يَا رَبِّ لأنَّـكَ   

               لَمَّاخَلَقْتَنِي بِيدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ  رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُعَلَىالقَوَائِمِ   

              , العَرْشِ مَكْتُـوْبًا لإاِلَهِ إلا  اللهُ مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْتُضِفْ إلَى  

              , إلاإسْمِكَ أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ فَقَالَ  اللهُ صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ     

.                       اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ لَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ     

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhamad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu Maha Mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.), ‘Bagaimana engkau mengenal Muhamad, padahal ia belum kuciptakan?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang Arsy termaktub/tulisan La ilaha illallah Muhamad Rasulullah. Sejak saat itu, aku mengetahui bahwa di samping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan, ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdoalah kepada-Ku bihaqqihi (demi hak/kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhamad engkau tidak Aku ciptakan’”.

Hadis di atas, diriwayatkan oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khashaishun Nabawiyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi di dalam Dalailun Nubuwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Subki di dalam Syifa’us Saqam. Al-Hafizh Al-Haitsami mengatakan, hadis tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/ 253.

Adapun, hadis yang serupa/senada di atas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadis tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

                  وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ

“Kalau bukan karena Muhamad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka”.

Mengenai kedudukan hadis di atas para ulama berbeda pendapat. Ada yang mensahihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadis maudhu’ seperti penilaian Adz-Dzahabi. Ada yang menilainya sebagai hadis dha‘if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadis itu. Namun, Ibnu Taimiyah, ulama yang disebut-sebut sebagai imam besar kaum Wahabi, malah mengutipkan dua hadis lagi:  

Pertama, Ibnu Taimiyah mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut:   

“Aku pernah bertanya pada Rasulallah Saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muhamad Rasulallah khatamul anbiya (Muhamad pesuruh Allah terakhir para Nabi). Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa. Kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah Swt . menghidupkan nya, ia memandang ke Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian- memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhamad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka bertaubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.

Kedua hadis yang berasal dari Umar Ibnul Khatab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafizh dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi Saw. berrsabda:     

“Setelah Adam berbuat kesalahan, ia mengangkat kepalanya seraya berdoa, ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhamad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya, ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab, ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke Arsy, tiba-tiba kulihat pada Arsy-Mu termaktub La ilaha illallah Muhamad Rasulullah. Sejak itu, aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab, ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.

Ibnu Taimiyah, dalam Al-Fatawa jilid XI/96 berkata,

“Muhamad Rasulallah Saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta. Ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhamad Saw. Allah Swt. tidak menciptakan Arsy, tidak menciptakan Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi, semuanya itu bukan ucapan Rasulallah Saw., bukan hadis sahih dan bukan hadis dha’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadis) Nabi Saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadis tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya.

Sekalipun demikian, makna hadis tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah Swt.:

Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada di langit dan di bumi (QS Luqman [31]: 20)

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluar- kan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di lautan atas kehendak Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar, dalam orbitnya masing-masing, dan telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS Ibrahim [14]: 32-34)

Dan ayat-ayat Al-Quran lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagaimana diketahui di dalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhamad Saw. yang diciptakan Allah Swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah Swt. berakhir dengan tercipta- nya Muhamad Saw.”.

 Hal serupa, menurut At-Tsa’labi juga terjadi pada Nabi Yusuf a.s., Lebih jauh At-Tsa’labi mengisahkan;

Pada hari keempat sewaktu Nabi Yusuf a.s. berada di dalam sumur, Jibril a.s. mendatanginya dan bertanya, ‘Hai anak siapakah yang melempar engkau kesumur?’ Yusuf a.s. menjawab, ‘Saudara saudaraku’. Jibril a.s. bertanya lagi, ‘Mengapa’? Yusuf a,s. Berkata, ‘Mereka dengki karena kedudukanku di depan ayahku’. Jibril a.s. berkata, ‘Maukah engkau keluar dari sini’?  Yusuf a.s. berkata: ‘Mau’. Jibril a.s. berkata, ‘Ucapkanlah (doa pada Allah Swt.) sebagai berikut’;

‘Wahai Pencipta segala yang tercipta, Wahai Penyembuh segala yang terluka, Wahai Yang Menyertai segala kumpulan, Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan, Wahai Yang Dekat dan Tidak berjauhan, Wahai Yang Menemani semua yang sendirian, Wahai Penakluk yang Tak Tertaklukkan, Wahai Yang Mengetahui segala yang gaib, Wahai Yang Hidup dan Tak Pernah Wafat, Wahai Yang Menghidupkan yang wafat, Tiada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, aku bermohon kepada-Mu Yang Empunya pujian, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Pemilik Kerajaan, Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, aku bermohon agar Engkau sampaikan shalawat kepada Muhamad dan keluarga Muhamad, berilah jalan keluar dan penyelesaian dalam segala urusan dan dari segala kesempitan, Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang tak aku duga’”.

Lalu Yusuf a.s. mengucapkan doa itu. Allah Swt. mengeluarkan Yusuf a.s. dari dalam sumur, menyelamatkan- nya dari reka perdaya saudara-saudaranya. Kerajaan Mesir didatangkan kepadanya  dari tempat yang tidak diduga- nya”.(At-Tsa’labi,  Fadhail Khamsah, I:207). Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya