Memperingati Hari-Hari Allah   

Memperingati Hari-Hari Allah   

                         

Maulidan dan Rajaban

Pernah kami baca dari lembaran internet Salafi tanggal 25/01/2004, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, salah seorang ulama mazhab Wahabi-Salafi, mengomentari majlis peringatan Maulid Nabi Saw.:

Pada majlis peringatan maulid Nabi Saw. tersebut berkumpulnya lelaki dan wanita-wanita yang bukan muhrim sehingga itu semua adalah munkar dan haram. Dan di dalam majlis maulid Nabi Saw. tersebut banyak hal-hal yang haram dijalankan oleh kaum muslimin tersebut di antaranya: minum khamar/ alkohol, main judi, minum ganja dan sebagainya.

Ini fitnah luar biasa besar. Sayang sekali, sang Syaikh  ini tidak menyebutkan pada majlis maulid apa dan di mana yang pernah dihadiri oleh beliau. Sampai-sampai ada minuman beralkohol, main judi dan sebagainya? Mungkin beliau ini, hanya mendengar cerita dongengan dari kawan-kawannya yang anti pada majlis maulid tersebut!

Golongan Pengingkar menyatakan pula, sejarah awal mula peringatan maulid Nabi Saw. diadakan oleh Al-Muiz-Liddimillah al-Abadi. Sang pemrakarsa peringatan maulid Nabi menurut kaum Wahabi memiliki nama yang jelek karena dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani serta jauh dari kaum Muslim. Sudah menjadi sifat kebanyakan kelompok ini, amat mudah mendiskreditkan orang yang tidak sefaham dengannya. 

Riwayat kapan dimulainya peringatan maulid Nabi Saw. bermacam-macam. Ada riwayat yang mengatakan, pertama kali yang mengadakan acara peringatan hari kelahiran Nabi Saw. dan para keluarga beliau Saw. adalah pada pertengahan abad kedua Hijriyah, yakni pada zaman Imam Jakfar Shadiq atau Imam Musa Al-Kadhim. Tradisi ini, diteruskan para Khalifah Bani Fatimiyah di Kairo yang berkuasa sejak abad keempat Hijriyah. Mereka memperingati dan mengenang hari k.elahiran dan kewafatan Nabi Saw., Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib kw., Sayidah Fatimah r.a., Imam Hasan dan Imam Husin bin Ali bin Abu Thalib [r.a] dan orang-orang saleh lainnya, walaupun tidak dengan perayaan.

Ada lagi riwayat yang menyatakan, peringatan maulid Nabi Saw. diadakan pada awal abad ke 7 H. Peringatan ini pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (sekarang menjadi wilayah). Sang raja bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri. Hal ini sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir dalam kitab Tarikh: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil—semoga Allah merahmatinya.”

Riwayat-riwayat tentang awal mulanya peringatan maulidin Nabi Saw. bermacam-macam, begitu juga mengenai tanggal lahir beliau Saw., tetapi semua ini bukan suatu masalah yang perlu kita bahas di sini. Yang sudah pasti, berkumpulnya manusia secara massal untuk menyelenggarakan peringatan-peringatan atau keagamaan ini terjadi setelah zaman Nabi Muhamad Saw. dan para sahabat, tetapi dilakukan pada zaman tabi‘in.

Peringatan maulid ini di selenggarakan oleh muslimin ,baik dari kaum ulama maupun kaum awam di seluruh mancanegara. Mesir, Iran, Irak, Indonesia, Malaysia, Singapura, Afrika, Yaman, Marokko, Pakistan, India,  serta dinegara-negara barat antara lain di Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan lain sebagainya. Bahkan, peringatan maulid Nabi Saw. juga terjadi di Arab Saudi. Hanya saja, peringatannya tidak semeriah di negara-negara lain. Peringatan Maulid Nabi Saw. di Arab Saudi hanya terjadi di rumah-rumah atau flat-flat. Peringatan ini, selalu dihadiri oleh orang banyak dan berkedudukan penting di pemerintahan Arab-Saudi. Mereka tidak dibolehkan menyolok mengadakan peringatan tersebut karena dikhawatirkan akan terjadi keonaran, khususnya gangguan dari kaum Wahabi.

Dengan adanya internet, kita bisa melihat—di YouTube 'Sayid Abbas Maliki in television art'  atau 'Dhikr mawlid mouhadith Al-Alawi al-Maliki al-Makki' (ulama yang berdomisili di Arab Saudi)—peringatan maulid yang diadakan di Arab Saudi atau negara Arab lainnya. 

Kira-kira mulai sepuluh-limabelas tahun lalu, di Madinah, setiap musim haji, bulan-bulan Rajab, Sya’ban dan bulan mulia lainnya, pada setiap malam jum’at mulai jam 22.00, ribuan orang sebagian besar dari golongan mazhab Syiah dari Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait dan lainnya duduk berkumpul di depan kuburan Baqi’ (yaitu kuburan yang letaknya berhadapan dengan Kubah kuburan Nabi Saw.di Masjid Nabawi Madinah) untuk membaca bersama doa Kumail (doanya Kumail bin Ziyad) dengan pengeras suara, dan sekitar tempat itu dijaga oleh tentara-tentara Arab Saudi hanya untuk menjaga keamanan saja.  

Pada mulanya, ulama-ulama Saudi melarang keras kumpulan-kumpulan pembacaan doa di muka umum seperti itu, apalagi sambil menggunakan pengeras suara. Belakangan para ulama Saudi tidak melarangnya. Begitu juga, dahulu para muthawik melarang orang mengambil gambar (foto) Masjidil Haram walaupun dari luar, tetapi sekarang di dalam masjid Haram pun boleh orang mengambil gambar. Mungkin?, para ulama Saudi ini, dapat tegoran dari para ulama bahwa mengambil gambar foto itu tidak dilarang oleh syariat Islam

Peringatan maulid memang tidak pernah dilakukan orang pada masa kehidupan Nabi Saw.. Ini memang bid‘ah (rekayasa baru), tetapi rekayasa yang baik (bid‘ah hasanah), karena sejalan dengan hukum syara’ dan sejalan pula dengan kaidah-kaidah umum agama. Sifat rekayasanya terletak pada bentuk berkumpulnya jamaah, bukan terletak pada per-orangan (individu) yang memperingati hari kelahiran Nabi Saw. Sebab, masa hidup beliau Saw. dengan berbagai cara dan bentuk setiap Muslim melakukannya meskipun tidak disebut perayaan atau peringatan. Tidak adanya contoh pada zaman Rasulallah Saw. atau para sahabat, bukanlah menjadi dalil melarang atau menyesatkan peringatan maulidin Nabi Saw. Tidak lain semua itu, adalah ijtihad para ulama.

Lupa, adalah salah satu ciri kelemahan yang ada pada setiap orang. Tidak pandang apakah ia berpikir cerdas atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, Summiyal-Insan liannahu mahallul khatha’i wan-nisyan (dinamakan manusia/ Insan karena ia tempat kekeliruan dan kelupaan/nisyan). Dengan demikian, lupa sering digunakan orang untuk beroleh maaf atas suatu kesalahan atau kekeliruan yang telah diperbuat. Bahkan, di Al-Quran dalam surah Al-Kahfi [18]:63 terdapat isyarat bahwa lupa adalah dorongan setan, yaitu ketika murid (pengikut) Nabi Musa a.s. menjawab pertanyaan nabi Musa, dengan mengatakan, ‘Tidak ada yang membuatku lupa mengingat (makanan) itu kecuali setan’.

Satu-satunya obat untuk dapat mencegah atau menyembuh- kan penyakit lupa yaitu peringatan. Bila orang telah di-ingatkan atau diberi peringatan, ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menyalahgunakan lupa agar beroleh maaf atas perbuatannya yang salah itu. Kata zikir, dzakkara, atau dzikra (ingat, mengingat- kan, peringatan dan seterusnya) adalah sempalan kata lain dari akar kata zikir yang berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran. Bahkan, para Nabi dan Rasul termasuk junjungan kita Nabi Muhamad Saw. disebut juga sebagai Mudzakkir yakni Pemberi ingat. Dengan tekanan makna yang lebih tegas dan keras, para Nabi dan Rasul disebut juga sebagai Nadzir yakni pemberi peringatan keras kepada manusia yang menentang kebenaran Allah Swt.

Dengan keterangan singkat di atas, jelaslah betapa besar dan penting masalah peringatan dan mengingatkan. Tujuannya adalah agar manusia sebatas mungkin dapat terhindar dari penyakit lupa dan lalai yang akan menjerumuskannya kedalam pemikiran salah dan perbuatan sesat. Itulah masalah yang melandasi pengertian kita tentang betapa perlunya kegiatan memperingati maulid Nabi Muhamad Saw.. Allah Swt. sendiri telah berfirman  agar kita selalu ingat mengingatkan karena peringatan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.(QS Ad-Dzariyat [51]: 55)

Allah Swt. berfirman,  “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah  mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. ” (QS  Ibrahim [14] : 5).

Yang dimaksud dengan hari-hari Allah pada ayat itu,  peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka. Umat nabi Musa disuruh oleh Allah Swt. untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Baik itu yang berupa nikmat atau berupa azab dari Allah Swt.. Dengan adanya peringatan maulid itu, kita selalu di-ingatkan kembali kepada junjungan kita Rasulallah Saw. sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

Tidak ada ketentuan syariat, cara mengingat atau memperingati hari-hari Allah yang harus diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Juga tidak ditetapkan peringatan itu harus dilakukan secara berjamaah ataupun secara individual. Begitu juga halnya dengan peringatan maulid. Ia dapat diadakan setiap waktu, boleh secara individu atau berjamaah. Sudah tentu, waktu yang paling tepat ialah pada hari turunnya nikmat Allah. Dalam hal memperingati maulid Nabi Saw. waktu yang paling sesuai adalah pada bulan Rabiul-awal (bulan kelahiran Rasulallah Saw.).

Akan tetapi, mengingat besarnya manfaat peringatan maulid ini dan mengingat pula bahwa dengan cara berjamaah lebih utama dan lebih banyak barakah, peringatan maulid dapat diadakan pada setiap kesempatan yang baik secara berjamaah. Misalnya, pada hari-hari mengkhitankan anak-anak, pada waktu hari pernikahan, pindah rumah, pelaksanaan nazar yang baik, beroleh rezeki yang banyak dan lain sebagainya.

Mengenai pilihan waktu untuk memperingati hari-hari Allah, terdapat hadis sahih yang dapat dijadikan dalil. Hadis ini, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang puasa pada hari Asyura. Puasa sunnah Asyura dianjurkan oleh Rasulallah Saw. setelah beliau Saw.melihat kaum Yahudi di Madinah puasa pada hari 10 Muharram. Beliau Saw. bertanya kepada kaum Yahudi ‘mengapa mereka ini berpuasa pada hari itu’? Mereka menjawab, ‘Pada hari ini, Allah Swt. menyelamatkan Nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka’. Kemudian Nabi Saw. menjawab, ‘Kami lebih berhak memperingati Musa  dari pada kalian’!

Terdapat pula, hadis lainnya yang diketengahkan Ibnu Taimiyah dari Ahmad bin Hanbal,

  • Aku mendengar berita, pada suatu hari sebelum Rasulallah Saw. tiba (di suatu tempat di Madinah) di antara para sahabatnya ada yang berkata, ‘Alangkah baiknya jika kita menemukan suatu hari dimana kita dapat berkumpul untuk memperingati nikmat Allah yang terlimpah kepada kita’. Yang lain menyahut, ‘Hari Sabtu!’ Orang yang lain lagi menjawab, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Yahudi’! Terdengar suara yang mengusulkan, ‘Hari Minggu saja!’ Dijawab oleh yang lain, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Nasrani!’ Kemudian menyusul yang lain lagi berkata, ‘Kalau begitu, hari Arubah saja!’ Dahulu mereka, menamakan hari Jum’at hari Arubah. Mereka, lalu pergi berkumpul di rumah Abu Amamah Sa’ad bin Zararah. Dipotonglah seekor kambing cukup untuk di makan bersama”.(Ibnu Taimiyah, Iqtidaus Shirathil Mustaqim)

Selain dua hadis tersebut di atas, terdapat hadis lainnya dari Imam Bukhari dan Muslim mengenai nyanyian yang didendangkan oleh sekelompok muslimin, untuk memperingati hari bersejarah. Peristiwanya terjadi dikala Rasulallah Saw. masih hidup di tengah umatnya. Nyanyian itu justru didendangkan orang ditempat kediaman Rasulallah Saw. berkaitan dengan datangnya hari raya Idul Akbar.

Peringatan demikian itu, dilakukan juga oleh sekelompok Muslim berkaitan dengan hari bersejarah lainnya, yakni hari Biats yaitu hari kemenangan suku-suku Arab melawan Persia, sebelum Islam. Pada hari itu, Abu Bakar dan Umar berusaha mencegah sejumlah wanita berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang Anshar. Melihat Abu Bakar dan Umar berbuat demikian itu, Rasulallah Saw. menegur dua orang sahabatnya ini. Beliau Saw. minta agar kedua-duanya membiarkan mereka merayakan hari besar dengan cara-cara yang sudah biasa dipandang baik menurut tradisi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

  • Hadis yang berasal dari Ummul mukminin Aisyah r.a. itu lengkapnya sebagai berikut: “Pada suatu hari Abu Bakar As-Shiddiq ra datang kepada Aisyah ra (putrinya). Pada saat itu, dikediaman Aisyah r.a. ada dua orang wanita Anshar sedang menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari Bi’ats. Siti Aisyah r.a. memberitahu ayah- nya, bahwa dua orang wanita yang sedang menyanyi itu bukan biduanita. Abu Bakar menjawab, ‘Apakah seruling setan dibiarkan dalam tempat kediaman Rasulallah?’ Peristiwa tersebut terjadi pada hari raya. Menanggapi pernyataan Abu Bakar r.a., Rasulallah Saw. berkata,‘Hai Abu Bakar, masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan sekarang ini hari raya kita’“.(Sahih Muslim III: 210 dan Sahih Bukhari, I:170).

Yang dimaksud dalam hadis kata hari raya kita ialah, hari terlimpahnya nikmat Allah Swt. kepada kita. Oleh karena itu kita boleh merayakannya. Berdasarkan riwayat yang berasal dari Ummul Mukminin Aisyah r.a. itu imam Bukhari dan Muslim memberitakan, “di dalam tempat kediaman Nabi Saw. pada saat itu terdapat dua orang wanita sedang bermain rebana (gendang)”.

  • Dalam Sahih Bukhari, I:119 diriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah r.a. yang berkata, “Pada suatu hari Rasulallah Saw. datang kepadaku. Saat itu, di rumah terdapat dua orang wanita sedang menyanyikan lagu-lagu Bi’ats. Beliau Saw. lalu berbaring sambil memalingkan wajah. Tak lama kemudian, datanglah Abu Bakar (ayah Aisyah). Ia marah kepadaku seraya berkata, ‘Apakah seruling setan dibiarkan berada di rumah Rasulallah ?’ …. ..Mendengar itu Rasulallah Saw. segera menemui ayahku lalu berkata, ‘Biarkan sajalah mereka’! Setelah Abu Bakar tidak memperhatikan lagi keberadaan dua orang wanita itu, mereka lalu keluar meninggalkan tempat”.
  • Riwayat lain, memberitakan, “Pada hari perayaan Muna, Abu Bakar r.a. datang kepada Siti Aisyah r.a. Ketika itu, di rumah istri Nabi Saw. terdapat dua orang wanita sedang menyanyi sambil menabuh/memukul rebana. Saat itu, Rasulallah Saw. sedang menutup kepala dengan burdahnya. Oleh Abu Bakar dua orang wanita itu dihardik. Mendengar itu, Rasulallah Saw. sambil menanggalkan burdah dari kepalanya berkata, ‘Hai Abu Bakar, biarkan mereka, hari ini hari raya!’”
  • Siti Aisyah r.a. juga menceritakan pengalamannya sendiri, “Aku teringat kepada Rasulallah Saw. di saat beliau Saw. sedang menutupi diriku dengan bajunya (yang dimaksud adalah hijab/kain penyekat), agar aku dapat menyaksikan beberapa orang Habasyah (Ethiopia) sedang bermain hirab (tombak pendek) di dalam masjid Nabawi (di Madinah). Beliau Saw. merentang bajunya di depanku agar aku dapat melihat mereka sedang bermain. Setelah itu, aku pergi meninggalkan tempat. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.
  • Dalam Sahih Muslim ketika itu Aisyah r.a. mengatakan, “Aku melihat Rasulallah Saw. berdiri di depan pintu kamarku, pada saat beberapa orang Habasyah sedang bermain hirab didalam masjid Nabawi. Kemudian beliau Saw. merentang- kan baju di depanku agar aku dapat melihat mereka bermain. Setelah itu aku pergi. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.
  • Dalam hadis yang lain lagi Siti Aisyah r.a. menuturkan, “Pada suatu hari raya beberapa orang kulit hitam negro dari Habasyah bermain darq  (perisai terbuat dari kulit tebal) dan hirab. Saat itu, entah aku yang minta kepada Rasulallah Saw. ataukah beliau Saw. yang bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau ingin melihat’? Aku menjawab, ‘Ya’. Aku lalu diminta berdiri di belakang beliau demikian dekat hingga pipiku bersentuhan dengan pipi beliau Saw.. Kepada orang-orang yang bermain-main itu Rasulallah Saw. bersabda, ‘Hai Bani Arfidah…teruskan, tidak apa-apa’! Kulihat mereka terus bermain hingga merasa jemu sendiri. Kemudian, Rasulallah Saw. bertanya kepadaku, ‘Sudah cukup’? Kujawab, ‘Ya’. Beliau lalu menyuruhku pergi, ‘kalau begitu pergilah!’ ”
  • Dalam Sahih Muslim diriwayatkan juga sebuah hadis berasal dari Atha r.a yang menuturkan, yang bermain-main itu entah orang-orang Persia, entah orang-orang Habasyah (Ethiopia). Mereka bermain hirab di depan Rasulallah Saw. Tiba-tiba Umar Ibnul Khattab datang, ia lalu mengambil beberapa buah kerikil dan dilemparkan kepada mereka. Ketika melihat kejadian tersebut Rasulallah Saw. berkata, ‘Hai Umar, biarkan saja mereka’!

Kini telah kita ketahui, bentuk perayaan atau peringatan  sebagaimana yang dituturkan hadis-hadis di atas, ternyata bermacam-macam. Ada yang berupa ibadah puasa, ada yang dengan cara memotong kambing lalu dimakan bersama, ada yang merayakan dengan nyanyian, dan mendeklamasikan syair-syair sambil memukul rebana dan ada pula yang merayakan dengan bermain-main tombak serta perisai. Semua ini, diriwayatkan oleh para sahabat Nabi terdekat, bahkan oleh istri beliau Saw. sendiri yang langsung menyaksikan.

Semua riwayat ini, kemudian dicatat dan diberitakan oleh para Imam ahli hadis seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Bukhari dan Muslim. Dalam hadis-hadis itu, telah diketahui pula bahwa Rasulallah Saw. membolehkan diadakannya perayaan-perayaan atau peringatan-peringatan hari bersejarah, terutama sekali hari-hari pelimpahan nikmat Allah Swt. kepada umat manusia.

Dalam hadis-hadis tadi beliau Saw. tidak pernah mengatakan perayaaan atau peringatan itu perbuatan kufur atau bid’ah dhalalah (sesat). Kita mengetahui pula, sayidina Abubakar r.a. menyebut nyanyian sebagai seruling setan. Sayidina Umar r.a. melempari orang-orang yang bermain tombak dengan kerikil. Kemudian Rasulallah Saw. menegor kedua sahabatnya tersebut. Karena beliau Saw. tidak memandang permainan-permainan atau perayaan-perayaan itu sebagai perbuatan kufur, maksiat atau keluar dari garis-garis yang ditentukan syariat Islam. Dua sahabat Nabi Saw. menerima tegoran Nabi Saw. dengan jujur dan ikhlas.

Allah berfirman, “ ’Isa putra Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari Raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling Utama’”.(QS Al-Maidah [5] :114).

Turunnya makanan dari Allah Swt. untuk umat nabi Isa saja sudah sebagai suatu kenikmatan dan hari Raya untuk umat Isa a.s. dan untuk yang datang sesudah mereka. Bagi umat Muhamad Allah Swt. telah memberikan berbagai kenikmatan dan kemuliaan karena lahirnya dan turunnya makhluk yang paling mulia yaitu Habibullah Rasulallah Saw. kedunia ini!!

Dalam Sahih Muslim halaman 168 juga memperkuat dalil-dalil keabsahan peringatan maulid (kelahiran) Nabi Saw., yaitu mengenai puasa setiap hari Senin yang dilakukan oleh Nabi Saw. Beberapa orang sahabat Beliau Saw. bertanya apa sesungguhnya motivasi beliau berpuasa tiap hari Senin? Beliau Saw. menjawab: “Pada hari itu yakni hari Senin adalah hari kelahiranku dan hari turunnya wahyu (pertama) kepadaku”. Dengan adanya hadis ini, kita memandang bahwa hari Senin sebagai hari yang bersejarah, karena mencakup dua peristiwa besar. Dan Rasulallah Saw. memperingati dan merayakannya dengan berpuasa setiap hari Senin.

Dalam kitab Al-Madhkal oleh Ibnu al-Hajj jilid 1 halaman 261 disebutkan, “Menjadi satu kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabiul Awal karena Dia (Allah Swt.) telah mengurniakan kepada kita nikmat yang besar yaitu diutus-Nya Nabi Saw. untuk menyampaikan Islam”.

Kelahiran Nabi Muhamad Saw. adalah sebuah tanda besar turunnya rahmat Allah Swt.. Sudah selayaknya momentum ini mendapatkan peringatan. Allah Swt.berfirman, “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah (lambang kebesaran) Allah, itu sesungguhnya (timbul) dari hati yang takwa”, (QS Al-Hajj [22]:32); “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa yang mulia di sisi Allah, itulah yang terbaik baginya di sisi Tuhannya”. (QS Al-Hajj [22]: 30).

Begitu pula dengan peringatan Isra dan Mikraj. Ini termasuk hari-hari Allah yang layak diperingati. Ia berkaitan langsung dengan perjalanan Nabi Besar Muhamad Saw. ke alam jabarut atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Kejadian Isra dan Mikraj Rasulallah Saw. ini diabadikan dalam firman Allah Swt. (QS Al-Isra [17]. Adapun, detail riwayat perjalanan Isra dan Mikraj Rasulallah Saw. banyak diriwayatkan dalam berbagai hadis, di antaranya oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya.

Peristiwa Isra dan Mikraj ternyata merupakan ujian tentang sejauh mana orang benar-benar mengimani kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Di antara sejumlah kaum muslimin yang masih sedikit pada masa itu, sebagian goyah dan goncang keimanannya. Bagi mereka yang tidak beroleh hidayah dari Allah Swt. bahkan keluar meninggalkan Islam, kembali ke kepercayaan semula.  

Tidak dapat dipungkiri, peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhamad Saw. merupakan nikmat dan bukti keagungan Allah Swt. Di dalamnya, mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Peristiwa Isra yang mendahului Mikraj dan terjadi pada malam yang sama, juga merupakan mukjizat yang meyakinkan manusia akan kebenaran Risalah dan agama yang dibawakan oleh junjungan kita Nabi Muhamad Saw., terutama mengenai pemberitaan bentuk bangunan Masjid Al-Aqsa di Yerussalem yang disampaikan oleh beliau Saw. kepada para sahabat.

Secara singkat, kejadian Isra-Mikraj, berdasarkan rujukan kitab hadis yang shahih dapat dikemukakan sebagai berikut: Setelah beliau Saw. shalat dua rakaat di Masjid Al-Aqsha, dan beliau Saw. mengimami shalat jamaah para Nabi dan Rasul terdahulu, Jibril as. membawa beliau Saw. Mikraj, yakni naik ke langit pertama sampai ke langit ketujuh.

Setiap langit yang beliau Saw. hampiri, beliau Saw. disambut oleh para Rasul terdahulu. Nabi Adam a.s berada di langit yang pertama, Nabi Isa dan Yahya –‘alaihimas salaam-berada di langit kedua, Nabi Yusuf a.s. di langit ketiga, Nabi Idris a.s di langit keempat, Nabi Harun a.s. di langit kelima, Nabi Musa a.s. di langit yang dan Nabi Ibrahim a.s. berada di langit ketujuh. Semuanya sedang bersandar pada Al-Baitul-Makmur.

Tiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk kedalam (Baitul Makmur) tanpa keluar lagi. Kemudian, Rasulallah Saw. naik ke ‘Sidratul-Muntaha’. Pada waktu peristiwa Mikraj ini, Allah Swt. mewahyukan kepada beliau Saw. tentang ketetapan lima waktu shalat wajib sehari semalam. Beliau Saw. adalah manusia satu-satunya yang mengalami kejadian itu. Ini tidak lain menunjukkan betapa luhur dan agungnya kedudukan beliau Saw..

Dari peristiwa ini, bisa kita ambil pelajaran penting. Umpamanya, setiap beliau Saw. sampai di satu lapis langit selalu disambut gembira oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Semuanya mendoakan kebajikan bagi beliau Saw.. Dalam perjalanan Isra ke Palestina di Yerussalem, Beliau Saw. mengimami shalat jamaah para Nabi dan Rasul terdahulu di Masjidul-Aqsa. Tidak kurang pentingnya dari semuanya itu, ialah doa kebajikan yang dipanjatkan oleh para Nabi dan Rasul di alam baqa bagi junjungan Nabi kita Muhamad Saw.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tidak ada ketentuan syariat tentang tata cara memperingati hari-hari Allah. Begitu pula, halnya dengan peringatan Isra dan Mikraj Nabi Muhamad Saw., walaupun sementara orang berpendapat, tidak ada nash yang jelas menyebut pada malam apa, tanggal berapa dan bulan apa Isra dan Mikraj itu terjadi, itu sama sekali bukan halangan atau larangan untuk memperingatinya. Keabsahan peringatan Isra Mikraj menurut syara’ sama dengan keabsahan peringatan maulid. Alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan dibuku ini untuk memperkokoh keabsahaan maulid, pada dasarnya memperkuat juga keabsahan peringatan Isra dan Mikraj.

Peringatan Isra Mikraj ini, dapat diselenggarakan kapan saja. Tetapi yang lebih utama/afdhal ialah, pada waktu yang telah diisyaratkan dalam berbagai riwayat (yaitu pada bulan Rajab). Oleh karena itu, bagi masyarakat tertentu, peringatan Isra Mikraj sering juga disebut dengan “Rajaban”. Tujuan utama memperingati ini tidak lain, sama halnya dengan peringatan maulid Nabi Saw. dan hari-hari Allah lainnya adalah mensyukuri nikmat Allah Swt. yang tidak terhingga besarnya.    

 

Peringatan Maulid, Menghidupkan Rasa Cinta

Hikmah terbesar dari peringatan maulid Nabi Saw. adalah, meneguhkan iman serta membangkitkan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Beberapa firman Allah Swt.,

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para nabi dan rasul) terdapat  pelajaran bagi orang-orang yang berakal”.(QS. Yusuf [12 ]: 111); “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud [11 ]: 120); “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah  aku (Muhamad), dan Allah akan mencintai kamu”. (QS Ali Imran [3]: 31).

Allah Swt. di dalam kitab suci Al-Quran banyak menceritakan riwayat-riwayat para Nabi dan Rasul secara berulang-ulang dibeberapa Surah. Umpama riwayat Nabi Isa a.s. dalam surah Maryam, di sini kisah beliau mulai kelahirannya hingga dewasa, bahkan dikisahkan juga dakwah dan mukjizatnya. Juga riwayat Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman dan nabi-nabi lainnya [a.s.]. Allah mengisahkan bagaimana kehidupan, kemuliaan/ kedudukan para rasul ini. Tidak lain itu, semua agar para pembaca Al-Quran dapat mengambil pelajaran dan memperteguh iman dalam hati.

Kalau kisah para Nabi dan Rasul yang lain saja, sudah sedemikian besar arti dan manfaatnya, apalagi kisah kelahiran dan kehidupan junjungan kita Nabi besar Muhamad Saw., penghulu para nabi dan rasul !!

Begitu juga telah dikemukakan, di antara tanda-tanda orang yang bertakwa adalah orang yang mau mengagungkan syiar Allah Swt..(QS.Al-Hajj [22]:32). Orang yang mengagungkan apa yang mulia di sisi Allah Swt. adalah yang terbaik baginya di sisi Allah Swt.(QS. Al-Hajj [22]: 30).

Tidak diragukan lagi, Rasulallah Saw. adalah makhluk yang paling mulia di antara makhluk-makhluk Ilahi, dengan kenabian dan kerasulannya, dengan segala mukjizat termasuk mukjizat yang terbesar, yaitu Al-Quran yang dikaruniakan Allah kepada beliau Saw., adalah lambang kebenaran dan kebesaran (syiar) serta lambang kekuasaan Allah Swt.. Memuliakan dan mengagungkan syiar Allah ini, adalah bukti dari hati yang bertakwa kepada Allah Swt.

Di dalam majlis maulid ini, selalu dikumandangkan shalawat, riwayat kisah Rasulallah Saw. dan ceramah agama. Semuanya ini,  sangat baik dan sejalan dengan dalil-dalil hukum syara’ serta sejalan dengan kaidah-kaidah umum agama. Bahkan shalawat ini adalah perintah Allah Swt. sebagaimana firman-Nya: “Sesungguh- nya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya ” (QS Al-Ahzab [33]: 56).

Arti shalawat Allah Swt. pada ayat ini menurut ahli tafsir berarti pujian Allah Swt. terhadap Nabi Saw.. Pernyataan kemuliaannya serta maksud meninggikan dan mendekatkannya. Begitu juga shalawat para Malaikat kepada beliau Saw. untuk memuji, memuliakan, dan mendoakan Rasulallah Saw.. Dan orang yang beriman disuruh juga bershalawat dan bersalam pada Beliau Saw.

Kita juga dianjurkan oleh Allah Swt agar ingat-mengingatkan sesama muslim karena hal ini sangat bermanfaat bagi kita sebagaimana Firman-Nya, “Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang orang yang beriman”.  (Ad- Dzariyat [51]:55). Juga Allah memerintahkan agar kita selalu berbuat kebaikan, di mana kebaikan itu bisa menghapuskan dosa: “Sungguhlah bahwa kebaikan meniadakan keburukan”.  (QS Hud [11]: 114)

Tidak diragukan lagi, orang yang membaca riwayat maulidin Nabi Saw. ,baik secara individu maupun berjamaah, adalah termasuk berbuat kebaikan.

Sekali lagi, menarik kesimpulan arti firman-firman Allah dan hadis-hadis di atas ini bahwa kesempurnaan iman seseorang itu amat bergantung pada kecintaannya terhadap Rasulallah Saw.. Kecintaan, ketaatan dan keimanan pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, ini akan bertambah tebal dan mantap di hati kita bila selalu diingatkan berulang-ulang dengan membaca dan mendengar riwayat kisah kehidupan Rasulallah Saw. serta bershalawat pada beliau Saw.!

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulallah Saw. telah bersabda, “Tidak sempurna iman kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada anak, ibu-bapa dan manusia seluruhnya.” Dalam hadis lain, riwayat Imam Bukhori, Nabi Saw. bersabda, “Tidak sempurna iman kamu, sehingga aku  lebih kamu cintai daripada diri kamu sendiri.” Umar bin Khatab r.a. berkata, "Ya Rasulallah aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri”.   

Dalam hadis Rasulallah Saw. kita diperintahkan untuk mencintai Rasulallah Saw. melebihi dari anak-anak kita sendiri, orang tua dan manusia seluruhnya. Keimanan kita, tergantung dengan besarnya kecintaan kita kepada Beliau Saw. Cinta kepada Beliau Saw. berarti kita cinta kepada Allah Swt.. Dengan sering memperingati hari kelahiran Rasulallah Saw. akan memantepkan hati kita untuk bisa mencontoh pribadi dan perjalanan beliau Saw.

 

Dalam kitab Kasyfud-Dzunun dikemukakan, orang pertama yang menulis kitab Maghazi (Manakib atau perilaku kehidupan Nabi Muhamad Saw.) ialah Muhamad bin Ishaq. Ia  terkenal dengan sebutan Ibnu Ishak. Beliau wafat pada tahun 151 H (pada zaman tabi’in). Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik dari bentuk-bentuk peringatan, seperti walimah, sedekah dan kebajikan-kebajikan lainnya yang semuanya bersifat ibadah.

Dapat dipastikan, masa hidupnya Muhamad bin Ishak ini pada zaman yang menurut sejarah Islam disebut zaman kaum Tabi‘in. Oleh karena itu, dapatlah di simpulkan, bahwa semua yang ditulis dan diterangkan olehnya berasal dari orang-orang yang menyaksikan sendiri kehidupan para sahabat Nabi Saw.. Hasil penulisannya, kemudian diteruskan pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat dalam tahun 213 H. Ia menulis riwayat tentang perilaku kehidupan Nabi Saw., dan berhasil menyelesai- kannya dengan baik, sehingga ia dianggap sebagai penulis pertama riwayat kehidupan Nabi Saw.

Dengan menulis kitab tersebut, Ibnu Hisyam tidak bermaksud menghimpun semua nash yang pernah diucapkan oleh Rasulallah Saw. atau oleh para sahabat terdekat beliau Saw.. Meskipun demikian, ternyata buah karyanya beroleh sambutan baik dan dibenarkan oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam. Tidak lain, semuanya ini bertujuan memelihara dan melestarikan data sejarah kehidupan Nabi Saw.

Adapun, orang pertama yang menulis kitab maulid Nabi dan kemudian dibaca di depan umum dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh para penguasa daulat Abassiyah, adalah Imam Al-Hafizh Hujjatul Islam Al-Qadhi Askar Amirul Mukminin Muhamad Al-Mahdi Al-Abbasi. Beliau wafat tahun 207 H. Imam ini, adalah orang pertama yang menghimpun hadis-hadis para sahabat Nabi Saw. mengenai kebajikan dan pahala membaca riwayat maulid Nabi Saw.. Adapun, para imam lainnya dalam menulis kitab-kitab maulid banyak mengambil dari Al-Waqidi, kitab rujukan yang banyak dibaca dalam peringatan-peringatan maulid yang diadakan oleh para Khalifah dan menteri-menterinya. Kecuali itu, kitab tersebut juga banyak dibaca di dalam perguruan-perguruan agama Islam pada hari-hari peringatan dan hari-hari raya, pada bulan-bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Sehingga kitab maulid karya Al-Waqidi ini banyak dihafal oleh kaum muslimin dan anak-anak keturunan mereka.

 

Pendapat (Fatwa) Para Pakar Islam

Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyudin Ali bin Abdul-Kafi As-Sabki (wafat tahun 756 H) menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhamad Saw. Bahkan, ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhamad Saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

  • Imam Syihabudin Ahmad bin Muhamad bin Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i (wafat tahun 973 H) menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi Saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan. Imam Abdur-Rabi Sulaiman At-Thufi As-Shurshuri Al-Hanbali terkenal dengan nama Ibnul-Buqi (wafat tahun 716 H), menulis sajak dan syair-syair  bertema pujian memuliakan keagungan Nabi Muhamad Saw.. Tiap hari maulid Nabi, para pemimpin Muslim berkumpul di rumahnya. Ia lalu minta salah seorang dari hadirin supaya mendendangkan syair-syair  Al-Buqi itu.
  • Dalam kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid 23, hal. 133, dan kitabnya Iqtidha al-Shirat al-Mustaqim, hal.294-295, bab ‘Ma Uhditsa min al-Ayad al-Zamaniyah wa al-Makaniyah’ (Perayaan yang diada-adakan pada waktu dan tempat tertentu), Ibnu Taimiyah mengatakan, “Memuliakan hari maulid Nabi dan menyelenggarakan peringatannya secara rutin banyak dilakukan orang. Mengingat maksudnya yang baik dan bertujuan memuliakan Rasulallah Saw., adalah layak jika dalam hal itu mereka beroleh pahala besar. Sebagaimana telah saya katakana kepada anda, bahwa bisa jadi sesuatu yang dianggap buruk oleh seseorang mukmin yang lurus ada kalanya dianggap baik oleh orang lain. Demikian halnya apa yang diada-adakan oleh sebagian orang dengan menganalogikan pada orang-orang Nasrani yang merayakan kelahiran Isa, atau karena rasa cinta kepada Nabi Saw. dan untuk memujanya, Allah Swt. akan memberi mereka pahala atas cinta dan usahanya ini, bukan atas kenyataan bahwa itu suatu bid‘ah …”.

Dalam teks yang disebutkan di atas, Ibnu Taimiyah juga menyebutkan fatwa Imam Ahmad Ibnu Hanbal, tatkala orang-orang bercerita kepada Imam Ahmad mengenai seorang pangeran yang membelanjakan 1000 dinar untuk membuat hiasan Al-Quran, beliau (Imam Ahmad) mengatakan: “Itulah tempat terbaik baginya untuk menggunakan emas”.

Seorang editor majalah kelompok Salafi-Wahabi, Iqtidha, Muhamad al-Fiqqi, menulis dua halaman catatan kaki untuk teks tersebut.  Di dalamnya ia berteriak keras, “Kaifa yakunu lahum tsawab ala hadza?.. Ayyu ijtihad fi hadza”? (Bagaimana mungkin mereka dapat memperoleh pahala untuk hal tersebut? … Ijtihad macam apa ini?).

Para ulama Salafi kontemporer bisa dikatakan berlebihan dan menyimpang menyangkut peringatan maulid ini. Mereka mengubah sikap Ibnu Taimiyah tersebut dengan ketetapan hukum mereka sendiri. Padahal, Ibnu Taimiyah adalah tokoh ulama panutan golongan ini.

Pengarang Salafi yang lain ,Manshur Salman, juga bersikap serupa di atas, ketika menerangkan isi kitab Al-Ba‘its ala Inkar al-Bida karya Abu Syamah. Karena Abu Syamah bukannya mengkritisi peringatan maulid, tetapi justru menyatakan, ‘Sungguh itu (peringatan maulidin Nabi Saw.) suatu bid‘ah yang patut dipuji dan diberkati’.

Pembolehan peringatan hari kelahiran Nabi Saw. oleh Ibnu Taimiyah ini─yang oleh para pendukungnya telah diartikan secara keliru sebagai suatu kritikan atas peringatan maulid─telah disebut sebut oleh para ulama Sunni seperti: Sa‘id Hawwa dalam al-Sirah bi Lughat al-Syi‘r wa al-Hubb; Ibnu Alawi al-Maliki dalam, Mafahim Yajibu an Tushahhah; as-Sayid Hasyim al-Rifa‘i dalam Adillat Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah; dan Abdal-Hay al-Amruni dan Abdal-Karim Murad dalam Hawla Kitab al-Hiwar ma‘a al-Malik.

Dengan demikian, menurut Ibnu Taimiyah, merayakan dan menghormati kelahiran Nabi Saw. dan menjadikannya sebagai saat-saat yang dihormati, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, adalah baik, dan terdapat pahala yang besar, karena niat baik mereka dalam menghorwafat Nabi Saw..

Anehnya, ada ulama dari kelompok Salafi-Wahabi mengatakan, sesungguhnya binatang yang disembelih untuk  acara maulid, lebih haram daripada Babi! Sedangkan, dalam kitab Muallafaat (Muhamad Ibnul Wahab) jilid 6 hal.227 mengatakan, '....dan manusia menjadi saksi atas kamu, bahwa kamu pergi ke majlis maulid dan menghadiri majlis mereka dan membacakannya kepada mereka dan kamu makan makanan yang disediakan di majlis itu, maka sekiranya kamu mengetahui ini adalah Kufur (keluar  dari agama)'. Ucapan imam golongan Wahabi ini, berseberangan dengan ucapan ulama yang paling mereka andalkan dan juluki Syeikhul Islam, yaitu Syeikh Ibnu Taimiyah.

 

  • Al-Hafizh Al-Qasthalani, dalam Al-Mawahibul ladun-niyah juz 1 hal. 148 cet. almaktab al-Islam berkata, “Maka Allah akan menurunkan rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan kelahiran Nabi Saw. sebagai hari besar”.
  • Al-Hafizh Assakhawi, dalam Sirah al-Halabiyah berkata, “Tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ketiga, tetapi dilaksanakan setelahnya dan tetap ummat Islam diseluruh pelosok dunia melaksanakan dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan bacaan maulid dan terlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”
  • Imam Al-Hafizh Ibnul Jauzi, dengan kitab maulidnya yang terkenal al-arus berkata tentang pembacaan maulid sebagai berikut, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya dan merayakannya”
  • Imam Al-Hafizh Ibnu Abidin dalam syarahnya maulid Ibnu Hajar berkata, “Ketahuilah salah satu bid‘ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi Saw.”.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam al-Durar al-Kaminah fi ‘Ayn al-Mi’ah al-Tsaminah menyebutkan, Ibnu Katsir pada hari-hari terakhir hayatnya, menulis sebuah kitab berjudul Mawlid Rasulallah yang tersebar luas. Kitab tersebut, menyebutkan kebolehan dan anjuran memperingati maulid Nabi Saw.” (Ibnu Katsir, Mawlid Rasulallah, editor Shalah al-Din Munajjad [cet. Dar al-Kitab al-Jadid, Beirut], 1961). Dalam kitab Ibnu Katsir tersebut, mengatakan, “Malam kelahiran Nabi Saw. adalah malam yang agung, mulia, diberkati, dan suci, suatu malam yang membahagiakan bagi orang-orang beriman, bersih, bersinar cemerlang, dan tak ternilai harga- nya” (ibid, hal.19)  
  • Jalaluddin al-Suyuthi berkata, Syaikh Islam, seorang tokoh hadis pada masanya (Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani), pernah ditanya mengenai kebiasaan memperingati kelahiran Nabi Saw.. Beliau memberikan jawaban sebagai berikut; “Sehubungan dengan asal muasal dari kebiasaan memperingati kelahiran Nabi Saw, itu merupakan suatu bid‘ah yang kita tidak menerimanya dari para saleh di antara kaum muslim terdahulu pada masa tiga abad pertama Hijriah. Meskipun demikian, praktik tersebut melibatkan bentuk-bentuk yang terpuji dan bentuk-bentuk yang tak terpuji.  

Apabila dalam praktik peringatan tersebut, orang-orang hanya melakukan hal-hal terpuji saja, dan tidak melakukan yang sebaliknya, maka itu bid‘ah yang baik.Tetapi, bila tidak demikian, maka tidak baik. Dalil dasar dari nash yang bisa dipercaya untuk merujuk keabsahannya telah saya temukan, yaitu suatu hadis sahih yang dimuat dalam kumpulan Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa Nabi Saw. datang ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal sepuluh Muharam (Asyura), maka beliau bertanya kepada mereka tentang hari itu dan mereka menjawab: 'Hari ini, adalah hari Allah Swt menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa a.s., maka kami pun berpuasa untuk menyatakan syukur kepada Allah Swt.’  

Dalil ini, menunjukkan keabsahan berterima kasih kepada Allah Swt. atas karunia-Nya yang diberikan pada suatu hari tertentu, baik dalam bentuk pemberian nikmat maupun penghindaran dari bencana. Kita mengulang rasa syukur kita dalam peringatan hari tersebut setiap tahun, dengan menyatakan syukur kepada Allah Swt. dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, memberi sedekah atau membaca Al-Quran. …Lalu, karunia apa lagi yang lebih besar daripada kelahiran Nabi Saw.?  Melihat kenyataan demikian, kita seharusnya memastikan untuk memperingatinya pada hari yang sama, sehingga sesuai dengan cerita tentang Musa as. dan tanggal sepuluh Muharam di atas. Akan tetapi, orang yang tidak melihat persoalan ini penting, merayakannya pada hari apa saja dalam bulan itu, bahkan sebagian meluaskannya lagi pada hari apa saja sepanjang tahun, pengecualian apapun dapat diambil dalam pandangan semacam ini”. (Al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi).

  • Dalam pandangan mufti Mekah, Ahmad Ibnu Zaini Dahlan, “Memperingati hari kelahiran Nabi Saw. dan mengingat Nabi Saw. itu dibolehkan oleh ulama muslim.” (Al-Sirah al-Nabawiyah wa al-Atsar al-Nabawiyah, hal. 51—Kutipan-kutipan selanjutnya kebanyakan diambil dari karya ini).
  • Imam al-Subki, mengatakan; “Pada saat kita merayakan hari kelahiran Nabi Saw, rasa persaudaraan yang kuat merasuk ke hati kita, dan kita merasakan sesuatu yang khas”.
  • Imam Al-Jauzi (Al-Hafizh Jamaluddin Abdurrahman Al-Jauzi) seorang imam mazhab Hanbali wafat tahun 567 H mengatakan, “Manfaat istimewa yang terkandung dalam peringatan maulid Nabi Saw. ialah timbulnya perasaan tenteram di samping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Orang-orang pada masa Daulat Abbasiyah dahulu memperingati hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan shadaqah, infak dan lain-lain.

Selain hari maulid, mereka juga memperingati hari-hari bersejarah lainnya, misalnya hari keberadaan Nabi Saw. di dalam goa Hira sewaktu perjalanan hijrah ke Madinah. Penduduk Bagdad memperingati dua hari bersejarah itu dengan riang gembira, berpakaian serba bagus dan banyak berinfak.”

  • Imam al-Syaukani, dalam al-Badr al-Thali‘ mengatakan, “Dibolehkan merayakan hari kelahiran Nabi Saw.”. Beliau pun mengatakan, Mulah Ali al-Qari memiliki pandangan yang sama dalam kitabnya, Al-Maurid al-Rawi fi al-Maulid al-Nabawi’, yang ditulis secara khusus untuk mendukung perayaan hari kelahiran Nabi Saw..
  • Imam Abu Syamah ,guru Imam al-Nawawi, dalam kitabnya tentang bid‘ah, al-Ba‘its ala Inkar al-Bida‘ wa al-Hawadis, berkata: “Bid‘ah yang paling baik pada masa kita sekarang ini adalah peringatan hari kelahiran Nabi Saw.. Pada hari tersebut orang-orang memberikan banyak sumbangan, melakukan banyak ibadah, menunjukkan rasa cinta yang besar kepada Nabi Saw., dan menyatakan banyak syukur kepada Allah Swt. karena telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka, untuk menjaga mereka agar mengikuti sunah dan syariah Islam”.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Haitami, mengatakan, Sebagai- mana orang-orang Yahudi merayakan Hari Asyura dengan berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Swt, kita pun mesti merayakan maulid.

(Selayaknya) orang bersyukur kepada Allah Swt. atas rahmat yang telah Dia berikan pada suatu hari tertentu, baik berupa kebaikan yang besar ataupun keterhindaran dari bencana.  Hari tersebut dirayakan setiap tahun setelah peristiwa itu. Ungkapan syukur terlahir dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, sedekah, dan membaca Al-Quran. Lantas, kebaikan apa lagi yang lebih besar dari kedatangan Nabi Saw., seorang Nabi penyebar rahmat, pada hari maulid?

 

Imam Nawawi (Al-Hafizh Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi),  wafat dalam tahun 676 H, mensunnahkan peringatan maulid Nabi Saw.. Fatwa Imam Nawawi tersebut diperkuat oleh Imam Al-Asqalani (Al-Hafizh Abul-Fadhl Al-Imam bin Hajar Al-Asqalani) yang wafat dalam tahun 852H. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan. Imam Al-Asqalani memastikan, memperingati hari maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

Soal bentuk dan cara pelaksanaan peringatan maulid dapat selalu berubah. Syariat Islam hanya menetapkan kewajiban mengingat nikmat Allah Swt., dan ini dapat dilaksanakan pada tiap kesempatan dan tiap keadaan. Adapun, bentuk dan caranya boleh saja mengikuti kelaziman yang biasa berlaku dalam masyarakat, asalkan tidak menyalahi prinsip-prinsip ajaran agama Islam.

                      

  • Doktor Abdul Ghaffar Muhamad Aziz, guru besar ilmu da’wah pada Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, dalam makalahnya mengenai maulid yang dimuat di majalah Al-Islam antara lain:

“Memang ada sementara orang yang berpendapat terlampau keras dan secara mutlak tidak membenarkan adanya peringatan-peringatan keagamaan dalam bentuk apa pun juga dan menganggapnya bid‘ah yang tidak diakui oleh agama. Akan tetapi, saya berpendapat, peringatan–peringatan itu tidak ada buruknya, asal saja diselenggarakan menurut cara-cara yang sesuai dengan ajaran syariat.

Tidak ada salahnya kalau peringatan Maulid, Isra Mikraj,  atau peringatan-peringatan keagamaan lainnya, dengan mengadakan pidato-pidato, ceramah-ceramah dan pelajaran khusus, baik dimasjid-masjid, balai-balai pertemuan maupun lewat segala macam mas media. Peringatan, akan dapat mengingatkan kaum muslimin pada soal-soal yang bersangkutan dengan agama.

Selama peringatan-peringatan itu berlangsung, mereka sekurang-kurangnya memperoleh kesegaran jiwa dan melepaskan sementara kesibukan sehari-hari mengenai urusan hidup kebendaan yang tiada habis-habisnya dan terus-menerus. Mengenai manfaat peringatan, Allah Swt. telah berfirman: ‘Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman’, (Adz-Dzariyat [51]: 55)

Peringatan keagamaan yang diselenggarakan tanpa berlebih-lebihan atau pemborosan yang tidak perlu, dapat dipandang sebagai sunnah hasanah (perjalanan baik) yang diakui oleh hukum syara’ bahkan diterima dengan baik dalam zaman kita sekarang. Zaman sekarang ini seakan-akan Allah Swt. hendak meratakan dan melestarikan berlangsungnya peringatan-peringatan keagama- an  itu sepanjang tahun. Seakan-akan Allah menghendaki supaya setiap orang Muslim dari saat ke saat selalu berada di dalam suasana Al-Quran, suasana sunnah Rasul-Nya dan suasana kehidupan Islam, yang dari suasana segar seperti itu Allah menghendaki kebaikan bagi umat manusia.

Mulai dari bulan Muharram dengan segala kegiatan yang ada di dalamnya sampai dengan bulan Rabiul Awal yang penuh peringatan-peringatan Maulid Nabi Saw, sampai bulan Rajab dengan peringatan Isra Mikraj, terus hingga bulan Sya’ban dan bulan turunnya Al-Quran Ramadhan disambung lagi dengan tiga bulan musim haji yaitu Syawal, Dzul Qi’dah dan Dzul Hijjah. Demikianlah, suasana keagamaan berlangsung terus menerus dan berulang-ulang setiap tahun.          

Pendapat sementara orang yang memandang peringatan maulid Nabi Saw. atau peringatan keagamaan lainnya sebagai bid‘ah, terletak pada pengertian atau ta’rif tentang bid‘ah dan sunnah. Mereka mengatakan bahwa ‘setiap bid‘ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka’ sebagaimana yang terdapat di dalam hadis sahih. Akan tetapi, mereka itu melupakan sesuatu yang amat penting yaitu bid‘ah yang disebut sesat (dhalalah) dan yang tempatnya di neraka bukan lain adalah bid‘ah yang diisyaratkan oleh Al-Quran, yakni firman Allah Swt.: ‘Mereka mensyariatkan sebagian dari agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah’ (Asy-Syura [42]: 21). Jadi bid‘ah yang terlarang itu ialah penambahan bentuk peribadatan (yang pokok--pen) di dalam agama. Hal ini, sama sekali tidak terdapat dalam peringatan keagamaan yang diadakan, seperti peringatan maulid Nabi Saw. dan peringatan keagamaan lainnya”.

As-Sayid Muhamad bin Alawi Al-Maliki ,rahimahullah,  seorang ulama yang memegang teguh tauhid tidak luput dari tuduhan kafir ulama Salafi/Wahabi. Hal ini, karena beliau tidak sefaham dengan pendapat kelompok Salafi/Wahabi. Makalah beliau Haulal–Ihtifal Bil-Maulidin Nabawi asy-Syarif (Sekitar Peringatan Maulid Nabi yang Mulia), merupakan salah satu karya tulis, dari beberapa karya ulama dan penyair Islam kenamaan, yang dimuat dalam buku koleksi tulisan pilihan dari para ulama dan para penyair Islam yang berjudul Baaqah Ithrah, cetakan pertama tahun 1983, yang terbit di Makkah.

Beliau, sempat berkomentar secara singkatnya; ‘tidak dapat disangkal, mengumpulkan orang banyak untuk memperingati Maulid, merupakan salah satu cara terpenting mendakwahkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ini, merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Dalam kesempatan itu, para ulama dapat mengingatkan umat kepada junjungan kita Rasulallah Saw.. Peringatan maulid Nabi Saw. tidak lain memantulkan kegembiraan kaum muslimin menyambut junjungan mereka Rasulallah Saw.. Bahkan, orang kafir ,seperti Abu Lahab, pun beroleh manfaat disebabkan rasa gembira menyambut kelahiran beliau.

Sebuah hadis dalam Sahih Bukhari menerangkan bahwa setiap hari Senin Abu Lahab diringankan siksanya, karena ia memerdekakan budak perempuannya, Tsuwaibah, sebagai tanda kegembiraannya menyambut kelahiran putera saudaranya Abdullah bin Abdul Muthalib, yaitu Muhamad Saw.. Jadi, jika orang kafir saja beroleh manfaat dari kegembiraannya menyambut kelahiran Rasulallah Saw., apalagi orang yang beriman.

Al-Hafizh Syamsuddin Muhamad bin Nashiruddin al-Dimasyqi juga berkata, “Jika orang kafir yang nyata-nyata telah dicela oleh Allah melalui firman-Nya, ‘Celakalah dua tangan Abu Lahab,’  serta dia kekal dalam neraka, memperoleh keringanan siksa setiap hari Senin lantaran kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhamad Saw., lalu bagaimana dengan orang yang sepanjang hidupnya bergembira dengan kelahiran beliau dan dia pun wafat dalam keadaan bertauhid?” 

Pernyataan senang dan gembira menyambut kelahiran Nabi Saw. merupakan tuntunan Al-Quran. Allah Swt. berfirman;                                                                                                      قُلِ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْـيَفْرَحُوا 

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendak- lah (dengan itu) mereka bergembira.” (QS. Yunus [10 ]: 58)

Allah Swt. memerintahkan kita bergembira atas rahmat-Nya dan Nabi Muhamad Saw. jelas merupakan rahmat Allah terbesar bagi kita dan semesta alam, sebagaimana firman-Nya,

                       وَمَا أرْسَلـْنَاكَ إلاَ رَحْمَةً لِلعَالَمِـيْنَ

“Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS.Al-Anbiya [21 ]:107)

Rasulallah Saw. sendiri menghormati hari kelahiran beliau, dan bersyukur kepada Allah atas karunia nikmat-Nya yang besar itu. Cara beliau menghormati hari kelahirannya dengan berpuasa. Hadis dari Abu Qatadah yang mengatakan, ketika Rasulallah Saw. ditanya oleh beberapa orang sahabat mengenai puasa beliau tiap hari Senin, beliau menjawab:

                ذَالِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ اَوْ اُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْه                 ِ

“Pada hari itu, aku dilahirkan dan pada hari itu, juga Allah Swt. menurunkan wahyu kepadaku”. (HR Sahih Muslim).

Dalam pertanyaan tersebut, Rasulallah Saw. tidak menjawab, ‘Puasa hari senin itu mulia dan boleh-boleh saja..’. Ini menunjukkan, hari kelahiran beliau Saw. mempunyai nilai tambahan daripada hari-hari lainnya. Jelaslah, bahwa Nabi Saw. memperhatikan hari kelahiran beliau Saw. dan hari diturunkannya wahyu kepada beliau Saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam. Puasa yang beliau lakukan itu merupakan cara beliau memperingati hari maulidnya sendiri. Memang tidak berupa perayaan, tetapi makna dan tujuannya adalah sama, yaitu Peringatan. Jadi, peringatan dapat dilakukan dengan cara berpuasa, dengan memberi makan kepada pihak yang membutuhkan, dengan berkumpul untuk berzikir dan bershalawat atau dengan menguraikan keagungan perilaku beliau sebagai manusia termulia dan sebagainya.

 

Berdiri waktu pembacaan Maulid

Tentang soal berdiri dalam peringatan maulid ,yaitu pada saat disebut detik-detik kelahiran Nabi Saw. di alam wujud ini, terdapat dugaan-dugaan yang tidak benar dan tidak berdasar. Dugaan dimaksud adalah, pada waktu berdiri itu mereka percaya bahwa jasad Nabi Saw. keluar dari kuburnya, Beliau Saw. hadir ditengah jamaah yang sedang asyik mendengarkan kisah kelahiran beliau. Lebih buruk lagi, ada yang menyangka bahwa kemenyan, ukup atau wewangian lainnya, dan air dingin yang terletak ditengah jamaah merupakan air minum yang disediakan khusus untuk Beliau Saw. Tidak ada orang yang berani memastikan kehadiran Rasulallah Saw. dengan jasadnya, kecuali orang mulhid (atheis, kafir) dan pendusta besar.

Anggapan seperti itu, adalah suatu kebohongan yang sengaja diada-adakan, suatu kekurang-ajaran  dan kejahatan yang tidak mungkin ada kecuali pada orang yang benci, dungu dan menentang Beliau Saw.. Kita yakin, Nabi Saw. hidup dialam barzakh yang sempurna sesuai dengan kedudukan Beliau Saw.. Ruh (bukan jasad) beliau berkeliling di alam malakut Allah Swt., dapat pula menghadiri tempat-tempat kebaikan dan tempat-tempat lain yang memancarkan cahaya ilmu dan pengetahuan. Demikian juga ruh-ruh para pengikut Beliau Saw., orang-orang beriman yang setia kepada Beliau Saw.. Imam Malik r.a. mengatakan: “...Hadis Nabi Saw. yang menyatakan, “Ruh adalah lepas bebas dapat bepergian kemana saja menurut kehendaknya”.

Salman Al-Farisi r.a. (sahabat Nabi Saw) berkata, “Ia mendengar dari Rasulallah Saw; ‘Bahwa arwah (ruh-ruh) kaum mukminin berada di alam barzakh (tidak jauh) dari bumi, dan dapat bepergian menurut keinginannya’ ”. Demikian itulah, menurut kitab Ruh yang ditulis oleh Ibnul Qayyim, hal. 144.

Kalau seorang mukmin biasa, bisa bepergian kemana saja menurut keinginannya, apalagi ruh suci junjungan kita Muhamad Saw! Ini semua, tidak lain kenikmatan dan rahmat yang diberikan Allah Swt. terhadap hamba-Nya yang mukmin Memang soal alam ruh itu repot dijangkau oleh akal manusia yang terbatas ini, sebagaimana firman Allah Swt, “Mereka bertanya kepadamu (hai Muhamad) tentang ruh, jawablah: ‘Itu termasuk urusan Tuhanku’, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit “.(Al-Isra [17]: 85)

Soal berdiri, dalam peringatan maulid Nabi bukan soal wajib dan bukan soal sunnah. Itu, hanya suatu harakah (gerak) yang mencerminkan keriangan dan kegembiraan para hadirin dalam peringatan maulid. Pada saat mereka mendengar kisah kelahiran Nabi Saw. disebut, tiap pendengarnya (yang memahami maknanya) membayangkan seolah-olah pada detik-detik itu seluruh alam wujud gembira menyambut nikmat besar yang dikaruniakan Allah Swt.. Soal kegembiraan adalah soal biasa, bukan soal keagamaan, bukan soal ibadah, bukan syariat dan bukan sunnah.

Hal itu, dikatakan sendiri oleh pengarang kitab maulid terkenal yaitu Syaikh Al-Barzanji. Beliau mengatakan, “Para Imam ahli riwayat dan ahli rawiyah (ahli pikir) memandang baik orang berdiri pada saat kisah kelahiran Nabi Saw. disebut. Bahagialah orang yang memuliakan beliau Saw. dengan segenap pikiran dan perasaannya”.

Dalam sebuah  syairnya beliau menyatakan, “Para ahli ilmu, ahlul-fadhl (orang-orang utama) dan ahli takwa mensunnahkan berdiri di atas kaki sambil berenung sebaik-baiknya. Membayang- kan pribadi Al-Mustofa (Rasul Saw.), karena beliau senantiasa hadir di tempat mana pun beliau disebut, bahkan beliau mendekatinya”.

Selanjutnya, Syaikh Al-Barzanji berkata, “Soal berdiri itu hanya untuk membayangkan pribadi Al-Mustofa. Membayangkan pribadi beliau Saw., adalah suatu yang terpuji, diminta dari setiap muslim, bahkan perlu sering di lakukan oleh setiap muslim yang muhlis. Sering membayangkan pribadi beliau Saw. akan menambah kepatuhan dan kecintaan kepada Rasulallah Saw. Ini hanya sebagai upaya untuk mengingat tentang kepatuhan dan kecintaan beliau Saw. kepada Allah Swt., dan kecintaan Allah Swt pada Rasulallah Saw., serta mengingat pula ahlak Rabbani yang beliau hayati sepenuhnya, maka dengan ruh beliau yang mulia dan agung itu beliau Saw. bisa selalu menghadiri ditempat mana saja beliau disebut.

Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah r.a. yang berkata, Rasulallah Saw. bersabda;

“Tiada seorang yang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga dapat menjawab salam”.

“Jangan kamu jadikan kubur (makam) saya sebagai tempat perayaan, dan bacakan shalawat untukku, maka bacaan selawatmu itu akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada”.   

Ada lagi, yang menafsirkan hadis riwayat Abu Daud terakhir diatas–‘Jangan kamu jadikan makam saya, sebagai tempat perayaan...’, –secara keliru. Mereka berkata,

‘Kita tidak boleh (bid’ah sesat) ziarah pada Rasul  Saw., cukup dengan membaca selawat dan salam untuk beliau dimana saja akan sampai’.

Sebenarnya, yang dimaksud sabda Nabi tersebut adalah, “janganlah kita bersusah payah harus menempuh perjalanan jauh (ke Madinah) semata-mata hanya untuk mengucapkan selawat dan salam didepan pusara Rasulallah Saw., karena membaca selawat dan salam akan sampai pada beliau Saw. dimana kita berada. Jadi,  tidak harus menunggu dihadapan pusara Rasulallah Saw.” Adapun, kalimat hadis “sebagai tempat perayaan” artinya ialah, agar kita tidak bicara keras, ramai-ramai (dihadapan pusara Rasulallah Saw.) seperti halnya orang yang pergi berpesta, tetapi, kita harus dengan tenang memberi salam dan selawat didepan makam beliau dan berdo’a pada Allah Swt. Oleh karena itu, termasuk anjuran Allah Swt yang mendidik tatakrama kepada umat Islam terhadap Nabi Saw, sebagaimana firman-Nya pada surah Al-Hujurat [49]:2/3/4, ’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi ...sampai akhir ayat’.

Menurut pandangan ulama, antara lain Imam Malik bin Anas r.a, firman Ilahi ini berlaku pula baik dikala beliau Saw. masih hidup mau pun beliau setelah wafat.

Dengan adanya hadis-hadis di atas, para ulama untuk membiasakan berdiri dalam peringatan maulid pada detik-detik membaca kisah kelahiran Rasulallah Saw., memberi salam serta shalawat kepada Beliau Saw. Fatwa beberapa Ulama berikut ini:

  • Dalam kitab Insanul-Uyun Fi  Siratil-Amin Al-Ma’mum bab 1, Imam Ali bin Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Kebiasa- an berdiri pada saat orang mendengar pembaca riwayat maulid menyebut detik-detik kelahiran Nabi Saw., merupakan bid‘ah hasanah/baik, bid‘ah mahmudah/terpuji, sama sekali bukan bid‘ah dhalalah atau bid‘ah madzmumah/ tercela atau munkarah (bid‘ah buruk yang tercela). Khalifah Umar Ibnul Khatab r.a. sendiri menamakan shalat tarawih berjamaah sebagai bid‘ah hasanah. Dengan demikian, orang yang berdiri sebagai tanda penghormatan pada saat mendengar detik-detik kelahiran Nabi Saw. disebut, apalagi jika peringatan maulid itu dibarengi dengan kegiatan infak dan sedekah, semuanya itu jelas merupakan kegiatan terpuji.”
  • Sayid Ahmad Zaini Dahlan dalam Siratun Nabi mengatakan, “Telah berlaku kebiasaan, apabila mendengar kisah Nabi dilahirkan, mereka berdiri bersama-sama untuk menghormat dan membesarkan Beliau Saw.. Berdiri adalah suatu hal yang mustahsan (baik), karena dasarnya ialah menghormati (ta’zim) Nabi Saw. dan sesungguhnya banyak ulama panutan ummat yang telah mengamalkan hal serupa itu,” (I’anah at-Thalibin, jilid 3,halaman 363).
  • Dalam kitab yang sama jilid 3,halaman 364 tertulis, “Berkata Al-Halabi dalam kitab Sirah, dikabarkan bahwa di hadapan Imam Subki pada suatu kali berkumpul banyak ulama pada zaman itu. Kemudian, salah seorang dari mereka membaca perkataan Sharshari dalam memuji Nabi Saw.. Seketika Imam Subki dan sekalian ulama yang hadir berdiri serempak (menghormat Nabi).”

Para ulama berpendapat, berdiri pada waktu disebut kisah kelahiran Nabi Saw. adalah perbuatan yang baik, sebagai penghormatan kepada Nabi Saw.. Hal ini, masih diamalkan sampai sekarang baik oleh para ulama maupun kaum muslimin lainnya di setiap negeri. Walaupun, beliau Saw. tidak berada di tengah para hadirin, orang yang membaca kisah maulid Nabi Saw. membayangkan kehadiran beliau Saw. dalam imajinasinya, sebagaimana yang telah kami kemukakan.  Meng-imajinasikan kehadiran beliau, jelas akan menambah penghormatan dan pemuliaan orang kepada beliau Saw. Beliau datang ditengah alam jasmani dari alam nurani jauh sebelum waktu kelahirannya. Meng-imajinasikan kehadiran beliau berupa kehadiran nurani (ruhani) beralasan kuat, karena beliau Saw. seorang Nabi dan Rasul yang menghayati sepenuhnya akhlak Robbani. Dalam hadis Qudsi beliau Saw. bersabda:           اَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي

“Aku duduk menyertai orang yang menyebutku”. Menurut sumber riwayat lain:                              اَنَا مَعَ مَنْ ذَكَرَنِي 

“ Aku bersama orang yang menyebutku”.

Mengingat kepatuhan dan kecintaan beliau Saw. kepada Allah Swt. dan kecintaan Allah Swt pada Rasulallah Saw. serta mengingat pula akhlak Rabbani yang beliau hayati sepenuhnya, maka dengan ruh beliau yang mulia dan agung itu beliau Saw. bisa selalu menghadiri ditempat mana saja beliau disebut.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan, “Rasulallah Saw. bersabda: 'Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin baik dalam pandangan Allah Swt. dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin buruk dalam pandangan Allah'”.

Hadis ini, memperkuat fatwa jumhurul ulama (pada umumnya ulama) yang menganjurkan kaum muslimin supaya melaksanakan peringatan maulid Nabi Saw., berdiri waktu detik-detik kelahiran Nabi Saw.disebut,  dan dengan acara-acara yang sudah lazim berlaku. Yaitu, membaca uraian riwayat kehidupan Nabi Muhamad Saw., ucapan-ucapan sholawat, berzikir, tilawatul-Qur’an, ceramah-ceramah agama dan lain sebagainya, yang semuanya ini disunnahkan oleh syari’at, mathlub syar’i (tuntutan syari’at).

Demikianlah, sebagian uraian para pakar Islam mengenai peringatan maulid Nabi Saw. Hanya orang-orang yang egois, fanatik sajalah yang melarang hal-hal tersebut sampai berani mensesatkan, membid’ahkan munkar dan lain sebagainya, dengan memasukkan  dalil-dalil yang semuanya itu tidak tepat dan tidak ada kaitannya dengan masalah tersebut.

 

Mengagungkan Nabi Muhamad Saw.

Keberatan lainnya dari golongan Pengingkar atas peringatan Maulid Nabi Saw. dan perayaan lainnya seperti Isra Mikraj adalah berkenaan dengan mengagungkan Nabi Muhamad Saw..  Mereka, melarang peringatan ini dengan berdalil sabda Nabi Saw.:

                       لاَ تُطْرُوْنِى كَمَا أطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ             

“Janganlah kalian mengagung-agungkan diriku seperti kaum Nasrani mengagung-agungkan Isa putra Maryam”.

Atas dasar hadis ini, golongan ini menganggap mengagungkan beliau Saw. merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Praktik ini, dapat membawa orang kepada perbuatan syirik. Dengan tegas, mereka berpendapat menyanjung beliau Saw.  lebih tinggi dari manusia yang lain, dan memandang beliau Saw. mempunyai kelebihan-kelebihan lebih dari manusia biasa, adalah bid‘ah keagamaan dan perbuatan yang menyalahi sunnah beliau Saw.

Jika perhatikan lebih saksama, hadis di atas hal yang dilarang oleh Rasulallah Saw. yaitu orang yang mengagungkan beliau Saw. seperti orang Nasrani yang mengagungkan nabi Isa a.s. Pengagungan orang-orang Nasrani terhadap nabi Isa a.s. memang melampui batas. Isa dalam keyakinan umat Nasrani dipandang sebagai anak Tuhan. Pengagungan seperti inilah, yang dilarang oleh agama. Ini jelas, syirik karena menyekutukan Allah Swt.. Adapun, orang yang mengagungkan Rasulallah Saw. dengan cara yang tidak melampaui batas, bukanlah sebuah praktik penyembahan. Bahkan, diperintahkan oleh Allah Swt.. Ia adalah anjuran agama. Allah berfirman, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Nabi Muhamad Saw.) mengagungkannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya (yakni Al-Quran) mereka itulah orang-orang yang memperoleh keberuntungan”.(QS.Al-A’raf[7]:157). Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman,         

وَ قَالَ اللهُ اِنِّي مَعَكُم لَئِنْ اَقَمْتُمُ الصِّلاَةَ وَاَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَاَمَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُم وَاَقْرَضْتُمُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا َلاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وََلاُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الاَنْهَارُ           

“Sesungguhnya Aku bersama kamu, jikalau kamu benar-benar mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman terhadap para Rasul-Ku, mengagungkan mereka dan kamu memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Aku akan bebaskan daripadamu sebagian dosa-dosa kesalahanmu dan Aku akan masukkan kamu kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.”

Menurut Tafsir Qurtubi jilid 6 hal.151, arti azzartumuhum diayat itu, adalah ‘memuliakan atau mengagungkan mereka’. Jadi, memuliakan para Rasul termasuk salah satu amalan yang dapat mendatangkan maghfirah (ampunan) dan menurunkan rahmat. Terbukti dalam ayat di atas, mereka yang mengagungkan dan memuliakan para rasul akan diampuni sebagian dosanya dan akan dimasukkan kedalam surga. Apalagi kalau yang kita agungkan dan muliakan itu adalah Asyraful Anbiya wal Mursalin (yang paling mulia di antara para nabi dan rasul) yakni junjungan kita nabi besar Muhamad Saw..

Imam At-Thabari dalam kitab tafsir-nya jilid 6 hal.151 mengartikan ‘azzartumuhum’  dengan ‘memuliakan mereka’.

Dengan demikian, memuliakan para Rasul termasuk salah satu amalan yang dapat mendatangkan maghfirah dan menjadi penyebab turunnya rahmat Allah Swt. dan penyebab masuk surga. Dalam ayat lain, Allah memerintahkan untuk mengagungkan para Rasul-Nya: “Sungguhlah Kami telah mengutusmu (hai Muhamad) sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, maka hendaklah kalian (manusia) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memperkuat (agama) dan mengagungkannya”, (QS Al-Fath [48]: 8-9).

Mengenai keagungan Rasulallah Saw., Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (Muhamad) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan  kamu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan (raufun) lagi penyayang (rahimun) terhadap orang-orang mu’min”. (QS At-Taubah [9]:128).

Disamping itu, banyak firman Allah Swt. yang menyifatkan para rasul-Nya sebagai sifat-Nya (Halim, Karim dan sebagainya), sedangkan sifat Allah Rauf hanya disifatkan untuk Rasulallah Saw., tidak kepada para rasul lainnya. Tentu ini, bermakna majazi (kiasan), karena yang Maha Rauf dan Rahim hanyalah Allah Swt.. Ini menunjukkan bukti agungnya kedudukan Rasulallah Saw. di sisi Allah Swt.

Ayat ini, sudah kita singgung sebelumnya, bahwa Allah Swt. memerintahkan orang mukmin untuk datang kepada Rasul Saw. agar memohonkan ampun kepada Allah Swt.. (QS. An-Nisa [4]:64). Para sahabat beliau masih melakukan perbuatan itu meskipun beliau Saw. telah wafatnya. (selengkapnya, baca bab tawasul dan tabaruk).

Sudah tentu, semua orang tahu, bukan Rasulallah Saw. yang bisa mengampunkan dosa para sahabat, tetapi dengan perantara beliau Saw. dosa para sahabat diampuni Allah Swt.. Dengan demikian, Rasulallah Saw. bisa dijuluki secara kiasan sebagai Pengampun dosa. Begitu pula, yang dimaksud oleh pengarang-pengarang kitab maulid seperti Burdah, Barzanji, Diba dan lain-lain. Sebagian besar isinya memuliakan, mengagungkan Allah Swt. dan Rasulallah Saw. serta menyifati beliau Saw. secara kiasan sebagai Penolong, Pengampun dosa dan lain sebagainya?

 

Syair-syair untuk Nabi Saw.

Pada zaman Nabi Saw.terdapat banyak penyair yang terkenal dan hebat datang kepada Rasulallah Saw. Para penyair itu mempersembahkan kepada beliau berhalaman-halaman syair yang memuji dan mengagungkan  beliau Saw.  Ini, dibuktikan dengan banyaknya syair yang dikutip di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain. Para pakar Penyair mengagung-agungkan Rasulallah Saw.dihadapan beliau dan para sahabat, tidak dilarang oleh Rasulallah Saw. dan tidak ada para sahabat yang mencela atau mengatakan hal tersebut berlebih-lebihan (ghuluw) dan sebagainya.

Rasulallah Saw. amat menyenangi syair yang indah seperti yang diriwayatkan Bukhari didalam al-Adab al-mufrad dan kitab-kitab lain. Rasulallah Saw. bersabda: "Terdapat hikmah didalam syair". Paman Nabi Saw. ,Al-Abbas, mengarang syair memuji kelahiran Nabi Saw. di antara bait terjemahannya sebagai berikut: “Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran karena sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin” (Imam Suyuti dalam Husn al-Maqsid: 5; Ibnu Katsir dalam Kitab Maulid: 30; Ibnu Hajar dalam kitab Fathul-Bari).

Hasan bin Tsabit r.a. waktu membaca syair di masjid Nabawi ditegur oleh Umar bin Khatab r.a.. Lalu Hasan bin Tsabit berkata kepada Umar ra., “Aku sudah baca syair nasyidah di sini, di hadapan orang yang lebih mulia dari engkau wahai Umar (yakni Nabi Saw.)”. Hasan pun berpaling kepada Abu Hurairah r.a. dan berkata; ‘Bukankah engkau dengar bahwa Rasul Saw. menjawab syairku dengan doa 'Wahai Allah bantulah ia dengan ruhul qudus?'. Abu Hurairah r.a. Menjawab: ‘Benar!’” (Sahih Bukhari, hadis no. 3040; Sahih Muslim, hadis no. 2485).

Tertera di batu nisan Hasan Ibnu Tsabit syair tentang Nabi Saw.:  “Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan di dalam diriku; Aku hanya seorang yang telah hilang segala derita rasa; Aku tidak akan berhenti dari pada memujinya (Nabi Saw.); Karena hanya dengan itu mungkin aku akan kekal di dalam surga bersama-sama 'Yang Terpilih'; yang daripadanya aku mengharap kan syafa’at; dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku ke arah itu”.

 

Jadi, tidak semua syair yang dibaca di dalam masjid semuanya haram, hadis yang meriwayatkan keharaman baca syair di dalam masjid yaitu syair-syair yang membawa kepada ghaflah (kelupaan), hanya bersifat keduniaan. Tetapi, syair yang memuji Allah Swt. dan Rasul-Nya itu diperbolehkan, bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau Saw..  Rasulallah Saw. mendirikan mimbar khusus di masjid agar ia (Hasan bin Tsabit r.a.) berdiri untuk melantunkan syair-syair- nya (Mustadrak, hadis no. 6058; Sunan Tirmidzi, hadis no.  2846).

Di dalam kitab Madarij al-salikin, Ibnu Qayyim (murid Ibnu Taimiyah) menulis, Nabi Saw. memberi izin untuk menyanyi pada hari perkawinan dan membenarkan syair dipersembahkan untuk beliau Saw.. Beliau mendengar Anas dan para sahabat memujinya dan membaca syair ketika beliau Saw. sedang menggali parit semasa peperangan Khandaq.

 

Menurut riwayat, yang berasal dari Abu Bakar Ibnul Anbari, ketika Ka’ab bin Zuhair dalam mendendangkan syair pujiannya, sampai kepada kata-kata bahwa beliau Saw. ‘adalah sinar cahaya yang menerangi dunia dan beliau laksana pedang Allah yang ampuh terhunus’, sebagai tanda ke gembiraan beliau Saw., beliau menanggalkan kain burdahnya (kain penutup punggung) dan diberikan pada Ka’ab. Muawiyah bin Abi Sufyan pada masa kekuasaannya, berusaha membeli burdah itu dari Ka’ab dengan harga sepuluh ribu dirham, tetapi Ka’ab menolaknya. Setelah Ka’ab wafat, Mu’awiyah membeli burdah Nabi Saw. tersebut dari ahli waris Ka’ab dengan harga dua puluh ribu dirham.

Ibnu Qayyim menceritakan mengenai Abdullah Ibnu Rawaha membaca syair yang panjang memuji-muji Nabi Muhamad Saw. semasa penaklukan kota Makkah, Nabi pun berdoa untuk beliau r.a. Rasulallah Saw. pernah mendoakan untuk Hasan Ibnu Tsabit, agar Allah senantiasa memberi bantuan kepadanya dengan ruh suci (ruhul quds),  selama beliau memuji-muji Nabi Saw.melalui syairnya. Nabi Saw. pernah meminta Aswad bin Sarih untuk mengarang syair memuji-muji Allah dan beliau Saw.  Nabi Saw. pernah meminta seseorang untuk membaca syair puji-pujian yang memuat seratus halaman yang dikarang oleh Umaya Ibnu Abi Halh.

Seorang ahli hadis, Ibnu Abbad telah memberikan fatwa tentang hadis Rasulallah Saw. berikut ini,  “Seorang wanita telah datang menemui Nabi di waktu beliau Saw. baru pulang dari medan peperangan, dan wanita itu berkata, ‘Ya Rasulallah, aku telah bernazar jika sekiranya, Allah menghantarkan engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendang di sebelahmu.’ Nabi pun bersabda, ‘Tunaikanlah nazarmu.’” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Imam Ahmad)  

Bila hal tersebut dilarang maka beliau pasti akan melarang, walaupun hal itu sebagai nazar. Karena nazar tidak boleh dilaksanakan bila bertentangan dengan syariat Islam. Wallahu’alam.

 

Rasulallah Insan Kamil

Rasulallah Saw. bukanlah manusia biasa. Akan tetapi, beliau Saw. adalah insan kamil (manusia sempurna). Keyakinan ini, berbeda dengan pandangan golongan Pengingkar, yang menyatakan Muhamad Saw. adalah manusia biasa. Mereka mengambil beberapa dalil berikut ini;

“Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. Hanya saja kepadaku disampaikan wahyu.” (QS Al-Kahfi [18]:110);

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman tatkala datang kepada mereka petunjuk kecuali perkataan mereka: ‘Apakah Allah mengutus Rasul dari golongan manusia?’”.(QS.17:94). Tetapi orang-orang beriman berkata  “Kami mengimaninya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7). dan ayat-ayat senada.

Atau hadis dari Abdullah bin Amr, yang berkata: “Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulallah Saw., aku bermaksud menghafalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata, ‘Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulallah Saw. padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang?’....”.

 

Oleh karena itu, golongan ini menganggap mengagungkan dan memuji Rasulallah Saw. merupakan sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dan pengkultusan yang tidak perlu, serta dapat membawa orang kepada perbuatan syirik.

Mereka menafsirkan firman Allah Swt. di atas secara tekstual. Jika kita telusuri dengan seksama semua ayat-ayat di buku ini maupun di buku lain, yang menyinggung sifat-sifat Nabi Saw. atau yang berkenaan dengan Nabi Saw., maka kita akan menganut pandangan para pakar islam yang menyimpulkan, Nabi Muhamad Saw. memang bukan manusia biasa tapi insan kamil. Berikut adalah beberapa contoh keagungan Rasulallah Saw. yang tidak dimiliki oleh manusia biasa:

  • Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib k.w. berkata; “Setiap kali Allah Swt. mengutus seorang nabi, mulai dari nabi Adam sampai seterusnya, kepada nabi-nabi itu Allah Swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah Saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama”.

Hal ini, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ali Imrani [3]:81: “Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: ‘Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Muhamad Saw.) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kalian benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: ’Apakah kalian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini’? Mereka berkata: ‘Ya, kami berjanji untuk melakukan itu’. Dia berkata: ‘Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian’”.

Al-Quran menjelaskan bahwa para penganut Ahlul-Kitab tahu betul tentang kedatangan Rasulallah Saw., sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Bahkan, mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS Al-Baqarah [2]: 89,146). Dan, itu pula yang dimohonkan Nabi Ibrahim a.s. dalam doanya, ‘Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (Muhamad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana’   (QS Al-Baqarah [2]:129).

  • Rasulallah Saw. ditetapkan sebagai perantara (wasilah) antara dirinya dengan manusia. Bahkan, merupakan salah satu syarat terkabulnya doa. Firman Allah Swt.: “Kami tidak utus seorang Rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih”.  (QS An-Nisa’ [4]: 64).

Bahkan, sebagai perantara tawasul kepada Rasulallah Saw. ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang saleh jauh sebelum kelahiran beliau Saw.. Kita dapat membaca riwayat yang mengatakan bahwa Adam  telah bertawasul kepada Rasulallah Saw. saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Dikisahkan, tatkala nabi Adam a.s. dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya. (selengkapnya baca tafsir surah Al-Baqarah:37 dan riwayat lainnya pada bab tawasul disite ini)

  • Penciptaan Nabi Saw. lebih dahulu daripada nabi Adam a.s. hanya beliau Saw. masih dalam wujud “nur” atau cahaya. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia menitipkan nur itu pada sulbi Adam a.s. yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi Abdullah, ayah nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdur-Razaq dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a. bahwasanya dia pernah bertanya kepada nabi Saw., “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulallah, beritahukanlah padaku tentang suatu yang di ciptakan Allah sebelum segala sesuatu yang lain. Jawab beliau Saw., ‘Wahai Jabir, sesungguhnya Allah sebelum menciptakan segala sesuatu yang lain, telah menciptakan Nur Nabimu, Muhamad dari Nur-Nya’”. Dan hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya nabi Saw. telah bersabda, “Aku adalah yang pertama di antara para Nabi dalam penciptaan, namun yang terakhir dalam kerasulan…”.
  • Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulallah Saw. bersabda, “Allah telah menciptakanku dalam wujud nur yang bersemayam di bawah arasy dua belas ribu tahun sebelum (Allah Swt) menciptakan Adam a.s. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Dia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru berpisah setelah Abdul Muthalib. Aku ke sulbi Abdullah dan Ali ke sulbi Abu Thalib”.
  • Al-Quran menyebutkan, sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti, orang-tua dan nenek-moyang Rasulallah sampai ke nabi Adam a.s. dalam istilah Al-Quran disebut As-Sajidin (orang-orang yang sujud). Sebagaimana firman-Nya: Dan perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud”.(QS As-Syuaraa’ [26]: 219). Ibnu Abbas r.a. dalam menafsirkan firman Allah diatas; وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

Kata Ibnu Abbas,“Dia (Muhamad) bergerak-gerak pindah dalam sulbi-sulbi para nabi sehingga dilahirkan oleh ibundanya. (Aminah)”.(HR. Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduyah, dan Abu Nuaim dalam ad-Dalail). Demikian pula, disebutkan dalam ad-Durrul Mantsur jilid 5 hal. 98 dan lain-lain.

  • Rasulallah Saw. adalah manusia suci, tidak pernah berbuat dosa (ma‘shum). Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam secara biologis tidak ada perbedaan antara Rasulallah Saw. dengan yang lain.
  • Rasulallah Saw. adalah teladan yang sempurna (uswatun hasanah) (QS Al-Ahzab [33]: 21). Oleh karena itu,  “Apapun yang dibawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarangnya harus kamu jauhi.” (QS Al-Hasyr [59]: 7).
  • Dibukakan rahasia kegaiban kepada Rasulallah Saw. sebagaimana firman Allah Swt.; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membuka- kan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki” (QS Al-Jinn [72]: 26-27). Tentu saja, Rasulallah Saw. berada di urutan paling atas di antara para Rasul, beliau penghulu dari semua Nabi dan Rasul yang menerima anugrah utama ini. Oleh karena itu, kaum beriman diperintahkan untuk tidak memperlakukan Rasulallah Saw. sebagaimana perlakuan mereka terhadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasulallah Saw. harus dengan suara yang pelan, tidak boleh teriak-teriak, karena hal itu akan menghapus pahala amal mereka (QS Al-Hujurat [49]: 2-3).
  • Allah Swt. akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Rasulallah Saw.: “Dan Tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini, menunjukkan betapa Allah Swt. amat mencintai Rasul-Nya. Allah akan memberikan apa saja yang di-inginkan Rasulallah Saw. dan akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Rasulallah Saw.
  • Allah Swt. memuji Rasulallah Saw. dengan berbagai pujian, karena keluhuran akhlaknya (QS.68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS.9:128); dan pengorbanan diri,tidak mementingkan diri demi kebahagian orang lain (QS. 20:2-3).
  • Selain itu, Allah Swt. memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhamad Saw. jika ada sedikit saja masalah yang dihadapinya (QS.93:1-3 & QS 94:1-4).
  • Siapa saja, yang berhadapan dengan Rasulallah Saw. maka berhadapan dengan Allah Swt.. Sebaliknya, siapa saja yang membelanya, Allah berada di belakangnya (QS. 9:61).
  • Salah satu anugerah Allah Swt. yang paling besar kepada Rasulallah Saw. ialah, wewenang memberi syafa’at terbesar kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pengabulan doa yang disampaikan oleh Rasulallah Saw. untuk umatnya, baik ketika Rasulallah Saw. masih hidup mau pun sesudah wafatnya (baca kajian sebelumnya).
  • Nabi Muhamad Saw. dapat menembus Sidratul Muntaha (waktu peristiwa Mikraj), sementara Jibril s. akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal, Jibril adalah penghulu para malaikat. Tidak lain, karena Nabi Muhamad Saw. telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani (Insan Kaamil).
  • Coba perhatikan ayat shalawat (QS.33:56). Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, selain shalawat kepada Rasulallah Saw.? Tidak ada! Ayat shalawat ini, didahului dengan pernyataan, Allah dan malaikat-Nya telah melakukannya terlebih dahulu, oleh karena itu, kitapun diperintahkan untuk melakukannya. Perintah ini, berarti kita harus selalu melihat Rasulallah Saw. dengan penuh hormat dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya. Oleh karena itu, Rasulallah Saw. selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir.

Masih banyak lagi yang tidak tercantum disini tentang pribadi habibullah Muhamad Saw, sebagai Insan Kamil.

 

Jelas sudah, bahwa Rasulallah Saw.bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya paling mulia di sisi Allah Swt.. Dia telah diciptakan Allah Swt. sebelum menciptakan yang lainnya. Akan tetapi, semua ini tidak harus membuat kita menempatkan beliau Saw. sebagai anak Tuhan atau Tuhan dibumi/didunia, bukan dari golongan manusia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi Isa a.s. Rasulallah Saw. tetap manusia sebagaimana manusia lainnya, sebagaimana isyarat Al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Rasulallah Saw. terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis (basyar) manusia. Karena itu, Rasulallah Saw. makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkeluarga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia.

Allah Swt. memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya. Akan tetapi, pada manusia, Allah Swt. ciptakan juga unsur lainnya, yakni ruh Allah Swt. yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, termasuk malaikat, karena melalui ruh itu manusia mampu mengatasi unsur biologisnya. Oleh karena itu, mengapa malaikat dan iblis diperintahkan untuk sujud (penghormatan tinggi) kepada Adam a.s.atau manusia. Itulah pula nabi Muhamad Saw. dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril a.s. akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kakinya, walaupun setapak.

Kesalahan terbesar golongan yang menolak mengakui kesempurnaan Rasul Saw. dan menolak memujinya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan! Golongan ini, tidak lain melihat Rasulallah Saw. dengan kacamata materi. Mereka, hanya melihat Rasulallah Saw. sebagai makhluk biologis. Mereka, lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan, dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Sebenarnya, ini semua bukan kultus, karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Rasulallah Saw. justru mendudukkan posisi Rasulallah Saw. sebagaimana mestinya, seperti yang di perintahkan Al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau. Ingat firman Allah Swt.: “Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan Rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya”.( Al-Ahzab [33]: 57).

Sudah tentu kita semua sadar, yakin dan mengetahui bahwa pemuliaan dan pengagungan terhadap Rasulallah Saw. sebagai hamba Allah (Makhluk) tidak setaraf dengan pemuliaan dan pengagungan kita terhadap Allah Swt. sebagai Pencipta (Al-Khalik). Bila ada pikiran yang memandang makhluk setaraf dengan Khalik itulah baru dikatakan syirik! Lalu, mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan dan karang-karang sendiri?

Atas nama cinta kepada Rasulallah Saw., bermunculan kitab-kitab maulid yang ditulis oleh para pakar Islam setelah zaman Nabi Saw. dan para sahabat. Dituliskan oleh mereka sejarah kelahiran Nabi Saw., keutamaan, kebesaran dan mukjizat-mukjizat beliau Saw., dalil-dalil keabsahan peringatan maulid dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

 

  1. Imam Al-Hafizh Syihabul-Millah wa Ad-Din Ahmad bin Hajar, wafat tahun 973 H;
  2. Imam Abul-Khattab Umar bin Al-Hasan Dzun-Nasabain, wafat tahun 604 H atas permintaan Sultan Ibril ia menulis kitab maulid;
  3. Imam Al-Hafizh Abul-Faraj Ibnul-Jauzi, nama kitabnya Al-Arus terkenal dengan nama kitab Maulid Ibnul-Jazi ditulis olehnya pada tahun 590 H;
  4. Allamah Imam Yusuf An-Nabhani;
  5. Imam Jamaluddin As-Sayuti;
  6. Imam Rabi’ At-Thufi Ash-Shurshuri, nama kitabnya Maulid Ash-Shurshuri, ia menulis kitab ini sekitar tahun 700 H;
  7. Imam Al-Hafizh Abul-Hasan Ali Al-Mas’udi, wafat tahun 346 H kitab maulidnya terkenal dengan nama Maulid Al-Mas’udi;
  8. Imam Ash-SalehAs-Sayid Al-Bakri dikenal dengan kitabnya Maulid Al-Bakri;
  9. Imam Mar’i bin Yusuf Al-Maqdisi, wafat tahun 1033 H nama kitab maulidnya Maulid Al-Maqdisi Al-Hanbali  
  10. Allamah Usman bin Sind, wafat tahun 205 H menulis kitab maulid dalam bentuk sya’ir dengan tema memuji dan mengagungkan Rasulallah Saw.;
  11. Syaikh Hasan Asy-Syathi, wafat tahun 1274 H dan Al-Allamah Abus-Surur Asy-Sya’rawi, wafat tahun 1136 H kedua-duanya telah menulis kitab maulid.
  12. Seorang ulama ahli tafsir dari mazhab Hanbali Muhamad bin Usman bin Abbas Ad-Dumani Al-Manawi, menulis kitab maulid terkenal sangat indah;
  13. Al-Allamah Al-Ustad As-Sayid Rasyid Ridha, pemimpin majalah Al-Manar telah menulis kitab maulid yang banyak dibaca oleh kaum Muslimin di Mesir;
  14. Kitab At-tanwir fi maulid basyir An-nadzir oleh Imam Al-Hafizh al-Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhamad, yang terkenal dengan nama Ibnu Dihyah Al-Qalbi;
  15. Kitab urfu at-ta’rif bi maulid as-syarif oleh Imam Al-Hafizh al-Muhaddis Syamsuddin Muhamad bin Abdullah Al-Juzri;
  16. Kitab maulid Ibnu Katsir oleh Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir;
  17. Kitab maurid alhana fi maulid asana oleh Imam Al-Hafizh Al-Iraqi;
  18. Kitab al-fajr alulwi fi mauldi an-nabawi oleh Imam Assyakhawi;
  19. Kitab Al Mawarid Al Haniah fi Maulid Khairil Bariyyah oleh Allamah al Faqih Ali Zainal Abidin As Syamhudi;
  20. Kitab maulid Ad-Diba’i oleh Al-Imam Al-Hafizh Wajihud- din Abdurrahman bin Ali bin Muhamad As-Syaibani, terkenal dengan nama Ibnu diba’;
  21. Kitab Itmam An-Ni’mah alal alam bi maulid sayidi waladu adam oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami;
  22. Kitab maurud ar-rowi fi maulid nabawi oleh Al-Allamah Ali Al Qari’ ;
  23. Kitab maulid Barzanji oleh  Al-Allamah Al-Muhaddis Jakfar bin Hasan Al-Barzanji;
  24. Kitab Al-yaman wal is’ad bi maulid khairi al ibad oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddis Muhamad bin Jakfar al Kattani;
  25. Kitab jawahir an-nadmu al-badi’ fi maulid as-syafi’ oleh Al-Allamah Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani;
  26. Kitab al-maulid mustafa adnani oleh Imam Ibrahim  Assyaibani;
  27. Kitab Al-Alam Al-Ahmadi fi maulid Muhamadi oleh Imam Abdulghani Annablisi;
  28. Kitab Fath al-latif fi syarah maulid assyarif oleh Syihabuddin al-Halwani;
  29. Kitab Al-Kaukab al-azhar ‘alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar oleh Imam Ahmad bin Muhamad Addim- yati;
  30. Kitab Nur As-Shafa fi Maulid al-Mustafa oleh Syaikh Ali At-Tanthowi;
  31. Kitab At-Tajallya al-Khifiah fi Maulid khair al-Bariah oleh Syaikh Muhamad Al Maghribi;
  32. Imam Ibrahim Baajuri, mengarang hasiah atas maulid   Ibnu Hajar, dengan nama kitab Tuhfa al-Basyar ala Maulid Ibnu Hajar.;
  33. Imam Al-Hafizh Nasruddin Ad-Dimasyqi, telah mengarang beberapa kitab maulid; Jami’ al-Astar fi Maulid Nabi al-Mukhtar 3 jilid, al-Lafaz Arra’iq fi Maulid Khair al-Khalaq dan Maurud as-Shadi fi Maulid al-Hadi.
  34. As-Sayid Muhamad Saleh As-Sahruwardi, judul kitabnya Tuhfatul-Abrar fi Tarikh Masyru’iyatil-hafl Bi Yaumi Maulid An-nabiyil-Mukhtar.Dalam kitabnya ini, dia mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang keabsahan peringatan maulid Nabi Muhamad sebagai ibadah sunnah yang ditekankan (sunnah muakkadah), agar kaum muslimin melaksanakan- nya dengan baik.
  35. Al-Allamah As-Sayid Al-habib Ali bin Muhamad Alhabsyi judul kitab maulidnya Simtud Durar. Kitab maulid ini sering dibaca juga di pesantren atau dimajlis-majlis, khususnya di Indonesia.

Dengan riwayat tentang maulid atau yang berkaitan dengan pribadi junjungan  kita Nabi besar Muhammad Saw. di site ini, kita tidak akan menyangkal atau meragukan lagi bahwa Rasulallah Saw. bukan manusia biasa melainkan Insan Kaamil, dalam arti bahwa kedudukannya paling tinggi dan mulia dari semua makhluk di sisi Allah Swt.. Wallahua’lam

Semoga Allah Swt. memberi hidayah dan taufiq kepada  semua muslimin. Amin.

Silahkan baca uraian selanjutnya pada bab 10