Hadis-hadis yang Melarang Mencium tangan

Hadis-hadis yang Melarang Mencium tangan

  •  Seorang bertanya kepada Rasulallah Saw., “Wahai Rasulallah haruskah seseorang membungkuk kepada saudaranya? Baginda menjawab, ‘Tidak.’ Lelaki itu berkata lagi, Haruskah seseorang memeluk dan menciumnya? Nabi Saw. menjawab, ‘Tidak’. Dia bertanya lagi, ‘Cukupkah seseorang mengambil tangan saudara- nya dan bersalaman dengannya?’  Nabi Saw. menjawab, ‘Ya.’’’ (HR.Tirmidzi no.2728, dan berkata bahwa hadis ini hasan).

Hadis ini, disamping berlawanan dengan hadis sahih juga telah dilemahkan oleh imam Ahmad dan al-Baihaqi seperti yang dinukil oleh al-Iraqi di dalam kitabnya al-Mughni. Di dalam sanad- nya ada seorang perawi yang bernama Hanzhalah. Imam Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Ma’in telah menetapkan bahwa lelaki tersebut dha’if (lemah). Imam Ahmad menambah dengan perkataannya, “Sesungguhnya (Hanzhalah) meriwayatkan banyak hadis yang mungkar maka jangan beramal dengan hadisnya.” Maka gugur lah hadis ini.

 

  • Hadis imam at-Thabarani dan Abu Ya’la dan Ibnu Addi, “Sesungguhnya Nabi Saw. menarik tangannya bagi orang yang ingin menciumnya.” Hadis ini dinukil juga oleh Ibnu al-Jauzi di dalam kitabnya al-Maudhu’at. Hadis ini sangat lemah menurut ahli hadis.  

Sangat aneh sekali bila seseorang lebih memilih hadis dha’if yang melarang mencium tangan dan kaki daripada sekian banyak hadis sahih yang membolehkannya. Hadis-hadis tersebut sangat bertentangan dan terbantahkan dengan hadis-hadis sahih dan fatwa para pakar hadis yang telah dikemukan sebelumnya. Oleh karena itu, hadis yang melarang cium tangan ini tidak dapat di jadikan dalil.

Riwayat-riwayat diatas berkenaan dengan cium tangan dan lain sebagainya  sebagai pelajaran untuk memperoleh keberkahan. Selain itu bertujuan untuk melatih diri bersikap tawadhu dan untuk mendapat keridhaan Allah Swt. Begitu juga sering mencium kepala antara satu dengan yang lain adalah sebagai tanda kasih dan hormat. Riwayat-riwayat sahih tadi menunjukkan pula mencium tangan ibu-bapak untuk penghormatan kepada mereka sebagai hak mereka adalah sunnah.

Mencium tangan syeikh (guru), ulama, para salihin dan para waliyullah adalah mencari berkah kemuliaan dan kebajikan amal mereka. Begitu juga, sebagai salah satu sifat kasih sayang, menguatkan keakraban dan pertemuan yang diakui sebagai sebaik-baik cara dalam bersikap santun dan menghormati mereka. Dengan cara ini, dapat melenyapkan perasaan dengki, mengeratkan ukhwah Islam, menambah pahala dan menyempurnakan qudwah hasanah (teladan yang baik). 

Adapun, cium tangan yang merendahkan diri (tadzallul) terhadap orang munafik, kafir (baik yang kaya maupun yang miskin), menyanjung orang yang berkuasa dan memiliki kedudukan tetapi perbuatan mereka curang, zalim dan lain sebagainya, inilah yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Wallahua’lam.

Silahkan ikuti kajian berikutnya.